It Ends Tonight

Aku hanya mengabaikan perasaannya. Denial. Ketika ia hanya meregangkan genggamannya, aku tahu semuanya akan tidak akan pernah sama lagi. Aku mencoba menggenggamnya lebih erat lagi, tapi penolakan semakin terasa sehingga aku menjadi semakin ringkih karena itu.

 

Apa salahku sebenarnya?

 

Empat tahun yang kurangkai begitu berarti. Mimpi-mimpi kita, pelaminan yang kita mau, warna biru-silver yang megah, aku dengan mahkotaku, berdiri di sampingnya yang gagah dan berdiri tegap. Iya, dia tidak setegap yang aku harapkan, karena dia dengan kursi rodanya karena kecelakaan setahun yang lalu. Tapi aku tetap mendampinginya, dan bertahan dengan mimpi-mimpi itu. Hidup bersamanya.

“Tidak ada yang salah, aku yang salah telah membiarkanmu membuang empat tahun sia-sia, hanya untuk memilin mimpi-mimpimu untuk bisa hidup bersama. Aku ternyata tidak bisa..”

“…tidak bisa lagi”, lanjutnya.

Aku bungkam. Yah, apalagi yang bisa aku perjuangkan lagi dari hubungan ini? Keputusannya bukan semata hanya emosi belaka. Bukan. Dia adalah sosok tercerdas dengan pemikiran yang tidak pernah bercampur dengan emosi. Aku mengenalnya sejauh itu, aku mencintainya sejauh itu. Apa yang bisa kau ubah dari seseorang yang sudah mempunyai pemikiran seperti itu? Tidak ada.

***

Mengabdikan diri, selamanya. Menerjunkan seluruh hidupnya dan menyumbangkan materi yang masih bisa ia berikan ke salah satu organisasi sosial yang pernah menolongnya saat kecelakaan naas itu. Mengabdikan diri, dan mengorbankan seluruh mimpinya bersamaku.

‘Kamu masih bisa berkerja disana dan kita masih bisa hidup bersama!’

‘Jangan menjadi rendah diri! Wake up, Dear!’

Beribu pembelaan yang ingin aku tumpahkan langsung malam itu, meyakinkan dirinya bahwa hidup bersamaku tidak akan merubah niat baiknya. Aku akan menyetujui semua pilihannya, pekerjaan sosialnya. Aku bisa menjamin bahwa tidak ada yang perlu ia ragukan, semua pilinan mimpi kita akan terealisasikan sesuai ekspetasi kita, dengan atau tanpa ada kejadian itu. Namun semua kata itu hanya kusembunyikan, rasa amarahnya bisa muncul, dia takut aku hanya menganggapnya sebagai manusia yang putus asa karena disabilitasnya.

But yes, he is. He’s definitely losing his confidence, and hopes. Our dreams. And decide to get rid of his purposes. Including me, as his future wife.

Aku hanya membuktikan bahwa dengan keadaan dia sekarang, aku masih sangat mecintainya.

***

Kita masih disini. Setelah kata yang terangkai darinya aku masih belum bisa memberikan jawaban. Aku sedang menikmati ujung runcing setiap yang mulai mengiris dadaku, mengiris pelan hingga aku merasakan sakit, sakit yang perlahan menjalar, tiap katanya yang menghasilkan luka tidak berdarah.

Apa yang salah darinya? Tidak ada.

Dia bukan menemukan sosok yang lebih pantas dariku untuk menjadi istrinya, dia yang tiba-tiba mengaku bahwa ia adalah seorang homoseksual. Bukan. Namun keputusannya untuk tidak memilih adalah hal yang menyakitkan bagiku.

It ends tonight..”, dia berbisik lirih, genggaman tangan itu terlepas dan menggerakan kursi rodanya, meninggalkanku dalam tangis yang terpendam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s