Titik Kembali

Segelas grain whisky yang kutenggak cepat, rasa panas-nyaman mulai menjalar ke otak. Aku bahkan dapat merasakan alirannya dari sela-sela pembuluh darah. Beberapa bagian organ dalamku seakan menolak kehadiran alkohol yang masuk secara berlebihan.

 

‘Ngga ada bedanya sekarang dengan Ayah’, batinku, atau mungkin aku sedang melantur. Namun begitu, aku merasa tidak ada bedanya dengan Ayahku yang pemabuk berat itu. Lama-lama aku juga.

 

Lagu-lagu yang berdebam-debum dengan tidak teratur membuat kepalaku semakin pening, seharusnya satu-dua gelas lagi dapat menyenangkanku, bukan menenangkanku. Tapi aku mengurungkan niatku. Bagaimanapun aku bersumpah ini hanya jadi kebiasaanku yang sementara, aku tidak mau seperti Ayahku. Yang mungkin malam ini sedang di tempat sejenis dengan keberadaanku sekarang, dan pulangnya ia akan membentak, menjambak, menyeret Ibuku, untuk menagih uang minum.

 

Aku masih duduk tegak dan masih sangat sadar ketika seorang pemuda mulai meraba pahaku, lampu temaram membuat lelaki itu berpikir aku kepalang mabuk sepertinya, aku menonjok hidungnya sampai berdarah. Aku berharap ia akan mati kehabisan darah.

 

***

Pikiranku mulai berjalan kemana-mana. Aku masih selalu ingat, Ayah yang mengajariku segala tentang kebaikan, bagaimana aku harus bisa menghormati semua orang, tua maupun muda, bahkan ia mengajariku shalat dan mengaji.

 

Yah, mengaji..

Dan sekarang beliau telah menjadi pemabuk terberat yang pernah aku tahu.

 

***

Sehari sebelumnya

 

“Ayah mana?”, aku membantu Ibu membuatkan sarapan.

“Masih tidur.”

Lalu aku refleks menarik lengan Ibu. “Bu, kita harus pergi dari sini. Kita bisa pergi dari sini, ke rumah saudara, ke luar kota, kemana saja!! Kita tinggalkan saja Ayah!!”

Ibu melepaskan secara paksa tanganku, “Tidak! Kamu jangan durhaka sama Ayahmu sendiri! Dia tidak sanggup menahan amarahnya karena dikhianati rekan bisnisnya sendiri yang membuat ia bangkrut saat ini”

“Tapi Ma, Lia udah kerja. Lia bisa kontrak kamar untuk kita berdua!!”, aku memaksanya lagi, entah untuk kesekian kalinya.

“Lia, dengar kamu! Ayah sama sekali tidak mengambil uangmu, tapi uang Ibu! Jadi kamu diam saja, atau tinggalkan kami berdua”

Aku kembali melemah, dan tidak habis pikir mengapa Ibu bisa sesabar ini.

 

***

Sekarang

 

Iya, Ibu benar, Ayah tidak pernah meminta uangku. Tapi aku saat ini hampir seperti Ayahku, menghabiskan untuk bergelas-gelas alkohol. Aku tidak ingin mengurangi kesadaranku. Aku pergi ke toilet untuk membasuh mukaku dengan air dingin.

 

Terkadang, keberanian malah datang dari ketakutan banyak pihak. Yah, begitu pun dengan Ibuku, yang takut mengadukan Ayah ke lembaga pengaduan KDRT, ada ratusan lembaga seperti itu. Tapi Ibuku terlalu takut, aku mengajaknya pergi jauh meninggalkan Ayah, karena lebih meninggalkannya daripada memenjarakannya, lagi, Ibuku menolaknya.

 

Aku hampir menyerah. Ibuku terlalu takut.

 

***

Aku tidak tahu yang aku rasa, semuanya terasa jernih disini. Dan secara tidak sadar aku tidak hanya membasuh wajahku. Aku membasuh tangan, rambut, telinga, hidung, berkumur, bahkan aku memaksakan menaikkan kakiku ke wastafel. Semua aku lakukan secara berunut.

 

Aku berwudu.

 

Bayangan Ayah yang mengajariku sabar, memakaikanku mukena, mengajarkan mengaji, berkelibat cepat di depanku, seakan memori yang terpendam di otakku dikeluarkan dan dimunculkan dalam visualisasi di depan cermin ini. Aku tidak kuasa menahan perih, yang membuat Ayahku seperti ini. Ayah harus berubah.

 

Tapi aku juga harus.

 

Kembali kutatap cermin tersebut. Perlahan muncul kaligrafi indah dari ayat-ayar Quranul Karim yang sudah lama tidak pernah aku sentuh. Ayat tersebut lewat perlahan sampai ke ujung cermin, berkilau emas. Aku yakin sudah tidak di bawah pengaruh alkohol. Namun semua pesan itu jelas, semua itu sangat jelas.

 

Aku  terburu meninggalkan tempat yang tiba-tiba aku anggap menjadi tempat terkutuk itu, seleraku terhadap alkohol hilang seketika. Aku masih suci dalam wuduku, aku bisa berjalan ke mushalla kecil yang berada di ujung jalan. Yang selalu aku sadari kehadiran bangunan tersebut saat aku masih sepenuhnya sadar. Dan aku ingin sekali kesana. Mengubah segalanya, mengadu semua masalah ini padaMu, sampai hatiku tenang dan dapat memilih jalan keluarnya.

 

 

3 Comments Add yours

  1. Teguh Puja says:

    Masih dan akan selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik. 😉

    1. Iya, dengan cara bahkan di tempat yang tidak terduga. Terima kasih udah baca ya mas 🙂

      1. Teguh Puja says:

        Sippo. Tetep nulis ya Ray. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s