Persembunyian Terakhir

“Tugas kamu hanya berlari, sekencangnya, sampai tidak ada seorang pun yang dapat meraih bahumu, menerjang badanmu, atau peluru yang menembus jantungmu”, seseorang memperingatkan pemuda tersebut. Pemuda tersebut mengangguk panik, menerima sejumlah uang yang sangat besar, dan mulai berlari.

‘Kau hanya tinggal berlari. Berlari kencang’, ia menguatkan dirinya sendiri, Rocky, nama pemuda tersebut, mulai berlari, menyebar dari kelompoknya.

DORR!!!

Shit!! Siapa lagi yang kena??’, Rocky tidak menyangka aktivitas perdagangan ini sudah tercium oleh aparat. Tapi ia yakin tidak ada yang terluka, tembakan sang polisi meleset. Sayang sekali!!

Rocky mengenakan tudungnya dan berlari, melintasi gang gelap dan sempit, kelima anggota dari kelompok kecilnya memutuskan untuk tidak berlari bergerumul. Namun mereka tahu akhir dari pelarian ini akan kemana.

Setelah beberapa lama berlari, Rocky kelelahan, ia bersandar di bangunan tua di pinggir jalan, setelah merasa tidak mendengar derap sepatu yang berat dari para polisi. Setidaknya ia aman hari ini.

Rocky muntah. Kekuatan berlarinya lebih dari yang pernah ia lakukan. Ia tidak pernah berlari secepat ini, dan setakut ini.

Ia sangat takut seseorang meraih bahunya, menerjang badannya, atau menembuskan peluru ke jantungnya.

***

Rocky selalu ingat kenangan itu. Kenangan masa kecil yang membuat ia selalu ingin berlari cepat.

“Rocky, Ibu hitung sampai sepuluh. Kamu bersembunyi ya. Ingat, kamu dan adikmu bersembunyi. Kita sedang bermain hide and seek. Bersembunyilah. Jangan berlari”

Rocky kecil menganggukkan kepalanya. Ketika Ibunya mulai berhitung, ia mendapatkan tempat yang bagus untuk bersembunyi. Adiknya sudah tidak terlihat, Rocky yakin adiknya sudah bersembunyi, Tetapi Rocky kecil tidak lekas menuju tempat tersebut.

“Sembilan… Ibu akan mulai mencari ya setelah ini..”

Rocky berkeringat dingin, ia takut persembunyiannya diketahui, ia takut kepergok, dikejutkan dari belakang. Seperti tidak bisa melihat musuh yang mengintai dari belakang. Rocky sangat ketakutan. Rocky tidak suka permainan ini.

“Rocky… apa yang Ibu bilang tadi? Bersembunyi”, Ibunya menggelengkan kepala dan menatapnya kecewa, sang adik keluar dari persembunyiannya.

“Kamu tidak bisa diajak bermain, Bro”

Rocky selalu takut, takut akan seseorang yang mengejutkan dari belakang. Rocky memilih berlari.

***

Distribusi narkoba.

Membentuk kelompok kecil dan mengirimkan kepada konsumen, dengan perintah tangan ketiga, mungkin tangan keempat. Entahlah, Rocky tidak pernah berhadapan langsung dengan bos besar sang Bandar. Ia hanya melakukan perintah, tapi tidak mengonsumsinya.

DORR!!

Kali ini diikuti oleh suara seseorang yang sangat kesakitan. Rocky terhenyak. Salah satu temannya ternyata sudah berada di dekatnya.

“Lari!! Salah satu kelompok kita ada yang berkhianat!!”

Rocky masih mencerna kata tersebut.

‘Berkhianat? Terhadap siapa? Untuk siapa?’

Lalu dia mengingat untuk tidak pernah tertangkap dari belakang, ia kemudian mulai berlari. Lagi, sebuah tembakan yang dilontarkan ke udara terdengar.

***

Di ujung gang, yang mulai terhubung oleh jalan raya. Jalan  tersebut sepi, namun mulai banyak pekerja malam dan gelandangan yang berada di trotoar. Tempat yang tidak menguntungkan bagi Rocky. Ia harus mencari cara lain.

Rocky melihat sekeliling. Tangga apartemen, bak sampah, mobil terparkir, pintu belakang yang menyisakan celah kecil. Rocky tidak mempunyai pilihan, peluhnya bercucuran, otaknya sama sekali tidak bisa diajak berkerjasama. Hingga ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia tolak.

Ia harus bersembunyi.

***

Tidak terdengar suara apapun setelah itu. Hening. Rocky masih menerka waktu untuk keluar dari bak sampah yang ia jadikan tempat persembunyian. Nafasnya memburu, ia sangat ketakutan untuk bersembunyi. Namun lari bukanlah pilihan yang cerdas. Setidaknya tidak seorang pun menyergapnya dari belakang, tetapi dari atas, saat pintu bak terbuka.

Sudah berapa lama Rocky disini? 15 menit? 30 menit? Satu jam? Saat pelarian waktu berjalan terlalu lambat. Rocky mulai kehabisan oksigen, ia mengintip sebentar, membuka pintu bak dan mulai melihat sekeliling.

‘Aman’. Rocky berjalan perlahan di antara kerumunan wanita malam dan pelanggannya. Menuju tempat yang sudah disepakati dari awal.

***

“Kian”

Kian, pemuda tersebut yang menghadap tembok, menengok ke arah Rocky. Rocky tidak melihat ekspresinya dalam gelap.

“Kemana yang lain?”, Rocky masih mengatur nafas.

“Tertangkap. Satu tewas”

“Jack..”,. Kian mengangguk pelan. Rocky tertegun, ia tahu, Jack yang paling tidak bisa berlari. Namun ia pintar bersembunyi.

Kian menyalakan senter kecilnya. Tapi senternya nyala-mati nyala-mati. Lalu kemudian senter tersebut akhirnya menyala.

“Kapan kita bisa pulang?”

Kian terduduk dan menggeleng, “tidak sekarang, Rocky. Tidak sekarang”

Rocky ikut duduk, nafasnya sudah jauh lebih teratur sekarang. “Kenapa?”

“Karena..”, Kian menggantungkan suaranya, ia melihat sesuatu yang aneh di belakang Rocky.

Todongan pistol menyentuh ubun-ubun Rocky, ia perlahan berdiri dan mengangkat tangan. Kian berdiri, dengan ekspresi yang tenang.

“Kode morse..”, Rocky merasa terjebak. Ia tidak sadar daritadi bahwa nyala senter yang dibawa Kian menyiratkan kode.

“Sorry, Bro. Lain kali, berusahalah untuk berani bersembunyi lama.”

Borgol terpasang di kedua tangan Rocky.

 

 

2 Comments Add yours

  1. bayulogii says:

    Akhirnya kok ga happy ending sih.. *nuntut* ehm, yah, begini komentar gue, Far.

    Ini cerpen yg bagus! : D. Tak tahulah bagus apanya, pokoknya bagus gak selalu perlu alasan, kan? Jadi, bagus ya bagus aja.

    Tp utk lbh bagusnya, kalo menurut gue, level dramatisirnya lebih ditingkatken. Entah masa lalu tokoh utama, konflik prsahabatan, bisnis gelap narkoba, etc. (Aahahaha sotoy)

    1. hula bay

      Mana ada cerita macem gini yang hepi ending? ngga asik bay, macem drama. hahah
      tapi bener juga, emang gue tidak memperpanjang plot padahal masih sangat bisa diperluas lagi, karena gue kadang cenderung membuat cerita tidak terlalu panjang. gimana ya? gue pribadi kalo blogwalking dan cerita mreka panjang tendensi gue untuk scanning lebih besar daripada reading.
      Tapi ini masukan yang sangat baik buat gue, mungkin itu cuma ketakutan gue aja. Terima kasih ya,mblo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s