Sebuah Nama

Tumbler dengan gambar lucu hanya terbungkus dari kotak transparan.

 

‘Wragank Gashara’

 

Lana mengernyitkan keningnya. Ini sudah kiriman yang ketiga. Dan sampai saat ini Lana tidak tahu siapakah lelaki ini. Nizam dan Azka menemukan hasil yang nihil, berbekal link antar HRD di gedung ini, tidak ada nama Wragank Gashara.

“Kamu ngga liat dari ekspedisi mana paket ini dikirim?”, Lana mulai jengkel terhadap resepsionisnya, yang hanya menerima dan tanda  tangan semua kiriman tanpa melihat detail dari sang kurir.

“Ngga, Mbak. Maaf”

“Paket keempat ada, dan kamu masih ngga liat dia dari kurir apa, akan saya adukan performance kamu ke Bapak Nizam”

Resepsionis baru tersebut hanya menunduk. Rasa dongkol Lana tidak berhenti, rasa penasaran yang tidak terbendung membuatnya kesal.

Bunga mawar yang mulai  tak segar, cokelat, tumbler, ia singkirkan dari pandangannya sebelum pulang ke rumah.

 

***

Keesokan harinya.

Lana memburu langkahnya ke arah lift yang mulai menutup. Sebelum ia sempat menahannya, seseorang di dalamnya memutuskan untuk tidak menunggu Lana. Lana mengatupkan bibirnya menahan kesal, dalam hati ia mengutuk rok panjang A-Line dan stiletto  yang malah memperlambat langkahnya. Ditunggunya lift kedua yang mulai menyala indikatornya,  tanda lift akan segera terbuka. Lana sempat melempar pandangan yang tadi tidak digubrisnya, dan ternyata dari pintu masuk ada booth energy bar yang sedang membagi-bagikan sampel produknya secara gratis. Krucuuuk…. Lana akhirnya merasakan efek buru-buru sehingga tidak mengindahkan alarm lapar di perutnya, setelah melihat booth tadi, perutnya mulai memprotes.

‘Kenapa gue ngga dikasih tadi pas lewat sana?’, Lana semakin cemberut, tidak ada waktu baginya untuk ke kantin bawah dan menyuap satu-dua suap nasi uduk, waktu yang dibutuhkan terlalu lama untuk menunggu.

 

Ting

Pintu lift mulai terbuka. Lana terburu masuk, sambil merencanakan meminta beberapa potong biskuit ke Azka atau Nizam. Ada seseorang yang masuk,

“Kok dapet sih?”, Lana bertanya, spontan. Orang tersebut hanya tersenyum.

“Padahal gue laper banget”, lanjut Lana.

“Nih. Gue udah sarapan kok.”, dia menyodorkan energy bar tersebut ke Lana. Lana menoleh ke sosok itu, “yakin? Gue laper banget loh ini, ngga akan ada jaim dan basa-basi”

“Iya, ambil aja”

Dan Lana mengambil makanan kecil tersebut, “terima kasih ya”

“Santai aja”

Lantai 12, dan sosok itu pamit ke Lana. Lana tertegun, begitulah perempuan, mudah sekali melting terhadap kebaikan seorang lelaki, dan memutuskan untuk mencari tahu siapa namanya. Untuk saat ini, Lana hanya menyebutnya Mr. Energy Bar.

 

***

“Bercincin ngga?”, Azka sibuk mengikir kukunya dan langsung menanyakan status lelaki tersebut.

“Ah mana gue tau, kan cuma sekilas”, Lana kembali duduk di mejanya yang hanya berserangan dengan sahabatnya itu.

“Lo kerja di bagian yang harus memperhatikan segala sesuatunya dengan detail, Dear..”

Lana mengecek beberapa email yang masuk, setelah sudah membalas beberapa email dari kliennya, ia kembali duduk di meja Azka.

“Bantuin gue, cari tahu siapa namanya”, Lana sedikit berbisik.

“Ngga usah bisik-bisik!! Gue denger!!”, seseorang memukul bahu Lana dengan kencang dan tanpa ampun.

“Zam!!”, Lana jengkel dengan kebiasaan Nizam.

“Gue bantuin juga deh ya, Lan. Kasihan yang mau nikah tapi gagal”. Dan sebelum Nizam kabur Lana berhasil melempar gelas plastik kosong ke arah kepalanya. Lana teringat rencana pernikahannya dengan Angga gagal dua tahun yang lalu, namun hatinya sudah sangat stabil, Lana sudah moved on.

“Kita pasti ketemu kok pas makan siang nanti, bukan yang pertama kali gue ketemu dia”, Lana mengedipkan matanya ke Azka. Azka mengacungkan jempolnya, dan sibuk mengikir kukunya lagi.

‘Iya, emang bukan kali pertamanya gue ketemu dia, bahkan gue udah suka sama dia dari lama’, Lana menatap jam, tidak sabar menunggu makan siang.

 

***

Tidak banyak yang memilih untuk makan di kantin bawah, karena menunya yang kurang bervariasi. Namun Lana mudah menemukan Mr. Energy Bar tersebut disini, beberapa bulan yang lalu, bukan suatu prioritas untuk menatapnya atau memperhatikannya lama. Ia menarik, namun dulu, itu hanya menjadi perhatian sekilas Lana. Karena kejadian pagi tadi, sosok yang tinggi, berisi juga berwajah keIndiaan mulai jadi orang yang dia tunggu.

Nizam dan Azka sudah berkeliling memilih makanan, Lana perlahan melirik seluruh orang yang berada di tempat ini, mencari keberadaannya.

“Hei, ngga jadi pingsan kan?”. Lana salah tingkah, Mr. Energy Bar mendatangi mejanya, berdiri dan tersenyum, sepertinya ia baru datang dari lantai 12 tadi.

“Hampir”, Lana tidak bisa mengurai kata lebih banyak lagi seperti tadi pagi.

“Hei Rakash!! Apa kabar, Bro?”, Nizam sudah tiba dengan nampannya, dan menyapa Mr. Energy Bar. ‘Jadi..’

Nizam dan Rakash mengobrol akrab sampai melupakan Azka dan Lana.

“Oh yah, lo dah saling kenal ya, Lan?”, Nizam sadar masih ada dua sahabatnya. Lana menggidik ke arah Azka dan berbicara tanpa suara ‘Yang.. ini..’, lalu Lana tersenyum ke arah Nizam.

“Lan, ini Rakash.Rakash Rawangga. Kash, ini Lana”. Lana dan Rakash bersalaman, Lana merasakan sensasi aneh itu lagi, yang sudah lama tidak ia rasakan. Harapan berikutnya tidak terlalu jauh, ia ingin tahu status Rakash dulu.

“That’s the boy, Zam”, Lana menggidik ke arah Azka, sesaat sebelum Rakash pamit makan bersama koleganya.

“Azka, Nizam, hari ini kiriman paket itu ngga ada”, Lana menyenggol sikut Azka.

 

***

Lana salah. Paket itu kembali datang.

“Mbak, kurirnya tidak memberitahukan dari ekspedisi mana. Saya juga baru ngeh kalo tanda terimanya juga seperti format sendiri, bukan format biasa kalau kurir antar dokumen. Dan saya juga liat dia tidak mengenakan kartu Visitor. Mungkin orang kantor ini Mbak..”

Lana tersenyum, menahan geli. Resepsionis yang malang ini menjadi memperhatikan hal yang sangat detail dan memberikan info yang sangat detail.

“Terima kasih ya”

Lana langsung membuka isi paket tersebut, dan sangat terkejut. Lagi, dari Wragank Gashara, tanpa pesan apapun. Namun isinya yang membuat ia terkejut. Lana langsung menghubungi ekstensi Azka.

“Gue yakin dia orang di gedung ini. Please bantuin gue lacak nama ini, mungkin lo sama Nizam keliru..”.

Lana menatap satu dus kecil energy bar yang berada di depannya. Pesan yang tersirat  bahwa sang pengirim memang tidak jauh dari sini. Kebahagiaannya bisa berkenalan dengan Rakash hilang dalam sekejap. Lalu Lana mengambil ketiga hadiah itu dan mengumpulkannya, lalu dia mengambil post-it  dan menuliskan pesan disana. Dan memberikan pesan kepada resepsionis bahwa jangan terima paket kelima dan sampaikan pesan ini.

Show yourself

 

***

Paket itu datang, lebih pagi. Bahkan resepsionis pun belum datang. Lana menarik kertas yang diselipkan dalam paket tersebut lalu membaca isinya.

Traffa Cafe, lunch break

 

‘I win’, Lana tersenyum, ia berhasil membujuk Wragang keluar dari persembunyiannya.

‘Bukan waktunya jadi secret admirer, boy.. Apalagi main strategi’.

Lana menyimpan kertasnya, dan lagi, tidak sabar menunggu jam makan siang, pikiran tentang Rakash lagi-lagi menghilang. Traffa Cefe yang berada satu lantai di atasnya membuat ia ingin segera kesana.

Lana menekan tombol ekstensi Azka dari meja resepsionis.

“Gue akan ketemu dia”, suara Azka bersemangat dari seberang sana.

“Ngga usah, biar gue sendiri yang kesana ya.”

 

***

Lana melangkahkan kakinya ke lantai 22. Nizam menghilang dari jam 10, mungkin karena harus ke proyek. Dia berjalan beringsut dan ragu-ragu, ia hanya takut salah, salah atas suatu hal. Tangannya tidak sadar meremas kertas tersebut, memo kecil dari Wragank, yang sudah ia tuliskan sesuatu di baliknya.

‘Dia yang akan  mendatangi gue duluan, jadi gue bisa berpura-pura tidak ada apa-apa’, Lana menghibur diri. Sengaja hari itu ia enggan mengenakan sepatu dengan hak tinggi, antisipasi jika ia harus berlari seperti adegan serial-serial di televisi, ia nyaman dengan sepatu flatnya.

Langkah Lana terhenti, lalu menghampiri orang yang sudah tidak asing lagi.

“Lo ngapain disini, Zam?”. Nizam sedang menyesap kopi siangnya ketika sadar Lana dapat mengenalinya dari belakang. Lana mengambil posisi duduk di depannya. Lana sudah merasa curiga, Nizam tidak biasa makan di tempat ini, ketika seseorang yang sudah tidak asing lagi duduk di sebelah Lana.

“Hai”

Lana memutar matanya, tidak sulit menebak permainannya, Lana hanya mengulurnya.

“Hai, Wragank”. Lana tidak tahan mendelik ke arah Nizam. Lelaki tersebut mengambil posisi duduk santai, ke arah Nizam.

“Apa gue bilang, dia pinter. Ngga bisa lo tipu pake permainan macem gini”

“Yang penting kan bikin dia penasaran awal-awalnya. Katanya lo mau kenalan tapi pake cara yang ngga biasa”. Mereka berbicara seru seakan tidak ada Lana disana, Lana salah tingkah. Bagaimanapun Lana mengakui cara kenalan ini unik dan membuat Lana senang. Lana mengambil posisi, membuka kertas kecil yang sedari tadi ia genggam di hadapan Nizam.

“Wragank Gashara”. Lana menunjukkan coret-coretannya yang ada di balik kertas tersebut.

 

W R A G A N K G A S H A R A

R A K A S H R A W A N G G A

 

“Permainan anagram, eh?”. Lana mengalihkan pandangan dari Nizam ke Wragank- atau Rakash. Rakash tersenyum, “kamu memang pintar, Lana”

“Yes I am, Mr. Energy Bar”

 

-FIN-

4 Comments Add yours

    1. Revised. Thanks for the revision.

  1. Menarik, cara kenalannya 😀

    1. terima kasih juga ya dwi udah bantu revisi 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s