Patahan Kenangan

Lala dengan lincah mengetik laporan dengan  tergesa. Sejak pagi tadi, ia masih tetap di tempat tersebut, coffee shop yang tenang, menghadap ke arah taman perkantorannya, melawan arah dari pemandangan di depannya, jalan tol layang yang selalu ramai dan berisik. Ponselnya berdering, Lala tidak menyadarinya hingga si penelepon menghubungi sampai tiga kali.

“Yah…?”, Lala menjawab dengan nada enggan.

“Kamu dimana sih, La?”

“Lantai 18, ngopi”

“Wow.. masih sempet ngopi aja, gitu?”, suara disana terdengar sinis, Lala mulai mencoba menyerap kemarahannya sebelum keluar.

“Gue sambil ngerjain Final Report ya, dan kalo lo nelepon gue ngga penting kayak gini mending gue tutup, dan biarkan gue menyelesaikan laporan gue. Oke?”, Lala segera menutup teleponnya ketika suara si penelepon menjadi panik.

“Tunggu, tunggu, La!! Maaf, maaf yang tadi. Ini penting banget soalnya”

“Cepet aja”

“Hari ini ada yang mau wawancara, sudah ke HRD, sekarang tinggal ke kamu, usernya. Siang ini bisa ngga?”

“Ngga”, Lala mengambil jawaban kilat.

“Tapi aku harus memohon padamu untuk hari ini, La. Karena ini akan menguntungkan kamu”

Lala mengetuk-ngetukkan bolpoinnya, tidak biasa Shantal, HRD yang suka mengganggu pekerjaannya sampai memohon.

“Menguntungkan di bagian mana?”

“Karena kamu bulan depan akan ada 3 proyek besar, dan kamu akan keteteran banget, La”

“Kan masih ada Bastian, sama tim lain yang masih bisa gue minta tolong bantu-bantu”

“Bastian masih bisa bantu, tapi tim lain sepertinya tidak bisa, La”

‘Oh iya, peraturan baru yang konyol dari perusahaan ini. Tidak bisa mengerjakan proyek di luar divisi sampai akhir tahun. Pret lah’

“Pegawai baru ini akan membantu kamu total, dalam setiap pekerjaan kamu nanti, yang biasa dikerjakan oleh orang-orang dari divisi lain. Kita tidak membutuhkan anak PKL, yang malah semakin membebani kamu karena harus mengajari semuanya dari nol.”

Lala menimang penawaran Shantal, ia membenarkan perkataan Shantal tadi, semuanya sedang keteteran, bahkan pekerjaan sendiri pun yang masih dalam satu divisi masih susah diselesaikan tepat  waktu. Seperti contohnya dirinya saat ini, yang harus datang dua jam lebih cepat dari jam masuk kerja karena tenggat waktu dimana-mana.

“Hm.. boleh juga. Jam berapa?”

“Sore saja, jam empat, besok kok jadinya”

“Heh, lo bilang  tadi hari ini!!”

“Ngga, bercanda aja. Haha, kan aku tahu kamu lagi dikejar deadline banget, hihihi”.

“Ganggu aja lo”

“Maaf ya, semangat ya, Lala manis”

Lala mendengus, tidak terkesan sedikit pun dengan pujian basa-basi dari temannya.

“Eh, kok lo ngga ngomongin hal kayak ginian di kantor aja sih? Malah lewat telepon gini?”

“Terus aku harus ngejar kamu, gitu? Yang mobile kemana-mana sampai hampir ngga ada di catatan absen? Bahkan mengerjakan laporan lebih suka menyendiri di coffee shop sampai sore?”

Lala tersenyum geli, membenarkan perkataan Shantal.

“He.. maaf ya. Oke, terima kasih ya”

“Kembali. Aku mau kasih petunjuk aja, dia sangat berpengalaman, kamu ngga akan kecewa sama performance dia nanti kalau dia sudah masuk tim kamu.”

“Yeah.. asumsi dari HRD, yang ngejalanin kan gue. Dah ah, bye!”

Lala segera menutup percakapan, ia sangat mengetahui kalau berbicara lewat telepon dengan Shantal sama saja seperti ngobrol di coffee shop sampai berjam-jam hanya bermodalkan segelas kopi saja.

‘Dasar tukang rumpi’, Lala tersenyum kecil, lalu kembali meneruskan pekerjaannya.

Lima menit berlalu dan Lala belum juga menyelesaikan pekerjaannya, setelah tiga jam tanpa berhenti menatap monitor laptopnya, otaknya memaksanya untuk beristirahat dahulu.

Green Tea Latte tanpa whipped creamnya, Bu”, seorang waitress menyajikan segelas minuman untuk Lala.

“Saya tidak pesan”, balasnya heran.

“Teman Ibu tadi memesannya untuk Anda”

Lala melempar pandangannya ke sekeliling, menyalahkan diri sendiri yang tidak mengamati orang-orang sekitarnya.

“Saya sendirian kok daritadi”

Giliran si pelayan yang kebingungan.

“Tapi.. ini dari teman Ibu, kata dia ‘Green Tea Latte, untuk perempuan yang di pojok sana’

“Ini juga sudah dibayar, Bu”, lanjut si pelayan.

Lala akhirnya mengambil minuman tersebut.

“Terima kasih. Siapa yang memesankan ini buat saya?”

“Seorang pria, Bu. Permisi”

‘Mungkin Bastian, yang mau sok-sokan misterius kali’, kilahnya mencoba menghilangkan rasa penasarannya. Ia masih ingat beberapa minggu yang lalu Bastian pernah memesankan segelas minuman untuknya.

***

“Lah bukan elo, Bas?”, paginya di tempat yang sama Lala menghubungi Bastian, yang saat itu tidak ditemui sama sekali karena kesibukan Lala.

“Ngga, kan gue lagi di luar seharian”

“Hem..Ya sudah”

Secret admirer lo tuh.”, Bastian menambahkan.

“Tapi ada gitu ya yang mau sama cewek galak kayak elo?”

“Sialan”

Lala langsung menutup teleponnya.

Lagi, seorang waitress menghidangkan minuman yang sama.

“Orang yang sama?”

“Iya, disana”, dia menunjuk ke arah belakang, seorang lelaki yang memunggungi Lala. Lala bergegas menghampiri.

“Anda siapa ya?”

Lama waktu berselang, Lala mulai mengenali pria tersebut.

“Adrian..”

Adrian tersenyum, “Hai teman kecil. Apa kabar?”

“Adriaaaan!!”, Lala menyalami Adrian dengan antusias.

“Bentar, bentar, gue pindahin laptop dulu kesini ya”, Lala menuju mejanya yang di pojok dan membawa laptop dan tasnya.

“Sini aku bantuin”

“Ngga usah”, Lala menolak mentah tawaran Adrian.

Sekembalinya dari meja di pojok, Adrian tertawa. “Masih Lala yang dulu”

“Maksudnya?”

“Keras kepala”

Lala nyengir, dan mencoba mengenali lebih dalam Adrian. Adrian kecil, adalah Adrian yang kurus, rapuh, suka sakit, dan selalu jadi korban ledekan teman-temannya kalau di kelas, dan sekarang benar-benar berubah, ia menjadi sosok yang tegap, tinggi, dengan warna bola mata yang hitam dan menatap dalam, namun saat diam ia masih terlihat menyunggingkan senyum.

“Kenapa kamu ngilang sih, Dri? Kemana aja?”, tanya Lala antusias.

“Panjang ceritanya, kamu mau denger semua?”

“Iya. Terus kenapa kamu bisa ngenalin aku?”

“Ya aku lagi ngopi disini, dan salah satu temanmu berteriak kencang memanggil namamu dengan lengkap dari sana”, Adrian menunjuk pintu masuk yang termasuk jauh dari tempat mereka duduk sekarang.

“Shantal.. dasar gebleg..”, Lala ingat kejadian minggu lalu, saat ia sedang mengerjakan laporan lain sambil menggunakan earphone, karena kesal Shantal berteriak memanggil namanya dari pintu coffee shop tersebut.

“Lala Anindyaaaaa!!!!”

Lala memejamkan mata, mengingat cara berteriak Shantal sudah membuatnya malu lagi.

“Ah gila, malu gue kalo inget itu lagi”

“Ngga apa-apa, kalau teman kamu ngga berbuat itu, aku ngga akan ngeh sama kamu. Walau sebenarnya kamu ngga berubah sih

“Jadi minuman itu yang kasih kamu ya?”

“He.. iya. Maaf ya, mau sok misterius  tapi ngga bisa”

“Ngga apa-apa, aku suka banget kok sama Green Tea Latte”, Lala menyecap minumannya.

“Kamu lagi ngapain? Sibuk ya?”

“Eh iya, aku harus ngerjain banyak laporan hari ini, sore harus ke kantor karena ada wawancara anak baru gitu.”

“Yah.. kita ngga bisa cerita-cerita dulu ya”, gurat kecewa terlihat di wajah Adrian. Lala pun merasakan demikian, bertemu teman kecil yang sudah belasan tahun menghilang adalah momen yang langka.

“Bisa kok, besok mungkin?”

“Bisa. Kita atur aja ya. Boleh minta nomornya atau pin?”

Setelah mereka bertukar nomor, Lala pamit untuk berpindah meja dahulu ke tempat yang nyaman di pojok. Sedangkan Adrian masih di tempat yang sama, menunggu koleganya.

Lala kembali ke mejanya, tapi pikirannya teralihkan dengan sesuatu sebelum dapat kembali ke pekerjaannya. Pikirannya menuju ke beberapa belas tahun yang lalu, masa SD. Pikirannya mengawang ke Adrian.

Adrian, merupakan lelaki pertama yang Lala suka, karenanya Lala sering kali membela Adrian ketika ia menjadi sasaran jahil para teman lelakinya. Hingga mereka berteman akrab, dan tibalah masa ketika mereka harus berpisah karena masing-masing memilih SMP yang berbeda.

 

“Kamu janji ya sama aku, kita harus saling kasih kabar”, Lala kecil menahan tangis sedihnya.

“Pasti. Kamu kenapa jauh banget sih SMPnya?”, 
Adrian kecil memasang muka sedihnya, tangan mereka berpegangan erat.

“Papa aku dinas. Mau gimana lagi?”
“Kamu jadi pacar aku, mau ngga?”

“Hah?”, Lala kecil terkejut, namun senang.

“Iya, aku takut kamu direbut sama cowo disana. Mau ngga?”
“Mau...”

Begitulah, kemudian mereka berpacaran, namun hanya sebatas ucapan saja. Karena beberapa Minggu kemudian, Adrian menghilang, dan Lala sebagai remaja merasakan patah hati yang sangat saat itu.

‘Ah Adrian, hal yang mau aku tanya ke kamu cuma satu, mengapa kamu menghilang saat itu’. Namun Lala langsung mengabaikan semua pertanyaannya, dan memfokuskan hal yang harus segera selesai sore ini.

Deg deg deg deg.

 ‘Ah, jadi deg-degan gini gue. Ganteng banget sih Adrian sekarang’

***

Satu jam kemudian, Shantal menghubungi Lala kembali.

“La, udah telepon anak barunya belum?”

“Kayak lo udah kasih aja nomernya”

“Oh belum ya, haha. Maaf, panggilannya Irham, lupa gue nama lengkapnya”

“Ya udah sebutin aja namanya. Jam berapa?”

“Jam lima. Nih ya nomernya”

Shantal menyebutkan sederet nomor yang harus dihubungi Lala.

“Oke, gue telepon”

“Sekarang”

“Iyee!!!”

Lala menatap barisan nomor yang tadi dicatatnya, lalu lekas menghubungi karena ia takut akan kehilangan calon timnya. Dan kemudian Lala terkejut karena satu nama muncul di layarnya, ia sudah menyimpannya, beberapa menit yang lalu.

‘Adrian?Adrian… Irham’, perlahan Lala mengeja nama lengkap Adrian.

Lala menelepon dan menengok ke belakang, arah meja Adrian.

“Selamat siang”, Adrian menjawab telepon, menatap jahil ke Lala yang sedang melihatnya dengan heran.

“Kamu.. yang akan aku interview sore ini, Adrian Irham?”, rasa kaget bercampur bahagia mulai bergemuruh di dadanya, terlalu lama Tuhan menahan sosok ini sampai belasan tahun tidak bertemu tapi terlalu cepat proses ditemukannya, karena Adrian akan selalu bersamanya nanti.

“Jam 5 kan,Bu? Siap!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s