Cardigan Merah

 

Wake up, you sleepy head”, seseorang menjawil pelan hidung Menna. Aroma roti panggang menghampiri hidung Menna, mengembalikan Menna yang masih terjebak di dunia mimpi.

“Aku udah bangun..”, Menna, yang tidak sadar bahwa ia belum sepenuhnya terjaga, bahkan mungkin tidak sadar telah berkata seperti itu kepada sosok di depannya. Butuh waktu lama hingga Menna sadar bahwa yang memanggilnya adalah Ogi, kekasihnya.

“Ini.. aku udah buatkan kamu roti panggang. Enak loh, isinya selai blueberry kesukaan kamu”, Ogi duduk tidak jauh dari tempat tidurnya.

“Paling bikinan Mama tuh, kamu yang bawain ke atas”, Menna masih bersandar di tempat tidurnya, menjaga matanya agar tidak terpejam lagi.

“Kamu tidur jam berapa sih, Bong?”, Bebong, begitulah panggilan sayang Ogi ke Menna, dan sebaliknya, melihat wajah Menna yang masih kuyu.

“Jam 3..”, Menna menguap, ingin sekali melanjutkan tidurnya.

“Ngapain aja sih kamu, Bong?”, Ogi membuka gorden kamar Menna, membiarkan sinar matahari masuk dengan bebas ke kamar Menna.

“Kerja,,”

“Hah, apa?”

Menna terkejut dengan jawabannya sendiri, “Ah, apa? Aku nggak bisa tidur semalaman”

“Lagi?”, Ogi duduk di ranjang Menna, kasihan melihat sudah mulai muncul kantung mata kekasihnya.

“Ngga tau deh kenapa”, Menna beranjak dari tempat tidurnya, bersiap-siap mandi, berharap air dingin yang segar meluruhkan rasa kantuknya.

“Aku tunggu di bawah ya”, Ogi keluar dari kamar Menna. Menna melihat ke arah Ogi, ada sedikit rasa sesal tidak mengatakan sebenarnya.

“Iya, Bebong, sarapan yang banyak ya”

Menna turun dari kamarnya, mengenakan kaos putih polos dengan long cardigan merah dan celana warna khaki selutut dan tas ransel kecil.

“Pagi, Ma..”, Menna hanya duduk, sarapannya sudah lahap dihabiskan di kamar tadi.

“Pagi, Nduk. Sudah kenyang?”, ibunya sedang mengoleskan selai cokelat kesukaan Ogi, yang diterima dengan ucapan terima kasih dan senyumnya.

Menna sedang asyik menatap wajah kekasihnya, ketika Ogi melihat ke arah Menna, seakan bisa membaca pikirannya, ia salah tingkah dan memalingkan wajahnya ke televisi.

“Lekaslaaaah, Bebooong!! Lama nih”, Menna memburu Ogi yang masih asyik mengunyah rotinya.

“Kalau kita naik mobil kan makanan ini bisa aku bawa, nggak perlu makan disini”, balas Ogi.

“Dih, ngeles aja, kan bisa disimpen di tas. Makan diiii angkot nanti”, Menna tidak mau kalah.

Pagi itu, mereka akan berencana tracking ke salah satu air terjun di kawasan Bogor. Tidak seperti biasanya, Menna memutuskan agar perjalanan hari ini mereka tidak boleh menggunakan kendaraan pribadi, tidak mobil Ogi, pun mobil Menna. Ogi dari awal tidak setuju dengan gagasan ini, karena dari sekolah sudah terbiasa menggunakan kendaraan pribadi. Karena bujukan maut Menna, Ogi pun mengalah.

Ogi sedang mencari kunci mobilnya ketika ia melihat kunci tersebut telah berpindah lokasi,

“Yah.. inget aja..”, Ogi merengut.

“Ma, titip kuncinya ya.”, Menna menyerahkan kunci mobil Ogi ke ibundanya. Ogi terkejut.

“Kamu kapan ngambilnya? Daritadi kayaknya deket aku mulu deh kuncinya.”

Menna mengedipkan matanya, “Akulah saaang Jagoan!! Yuk ah.”

Setelah mencium tangan dengan ibunya Menna, mereka memulai pertualangan pertama mereka berdua.

“Ngga ada sopir, ngga ada mobil, ngga ada pengawal, pasti bakal seru ya, Bebooong?”, Menna merangkul bahu Ogi manja, berjalan sekitar 1 km menuju jalan raya.

“Kamu ada-ada aja, baru pertama jalan jauh sendiri begini nih..”

Gantian, Menna yang merengut, “Ya iya, sekali-kali berdiri sendiri, ngga bergantung sama orang. Ini pasti akan menjadi petuuuualangan yang seruuu!!”. Menna berjalan melompat-lompat, meninggalkan Ogi yang berjalan normal di belakangnya.

Namun perjalanan seru yang mereka tunggu tidak sesuai dengan harapan.

***

Menna

 

Menna memberhentikan angkutan menuju stasiun Tebet, wajahnya menunjukkan ia sangat menikmati perjalanan ini, Ogi masih berusaha mencari celah harus di bagian mana ia menyukai perjalanan ini, mungkin nanti, ketika tiba di tujuan.  Lalu Menna membeli dua tiket kereta commuter line ke arah Bogor.

Minggu pagi, stasiun dipenuhi oleh banyak orang, terutama keluarga, yang menuju tempat wisata seperti Kebun Raya Bogor. Menna dan Ogi menunggu di peron paling depan, agar dekat dengan pintu keluar di stasiun Bogor nanti.

“Penuh banget sih”, Ogi lagi-lagi mengeluh. Menna memutar matanya, bosan, dari semua kebaikan Ogi hanya sifat inilah yang bikin Menna kesal.

‘Orangtuanya cuma membuat salah satu kesalahan pas ngedidik dia nih, mandiri’, dumel Menna dalam hati.

Pandangan Ogi beralih ke luar, penumpang mulai menumpuk masuk dari stasiun Depok Baru, setelah melewati stasiun Depok Lama. Matanya mulai menikmati pemandangan setelah melewat Citayam, dan bayangan barisan bukit dan gunung mulai tersaji indah di depannya.

“Kalau jendelanya bisa dibuka, pasti adem ya?”

Menna tergelak, “Nggak, malah kedinginan, anginnya nampar muka,”

Ogi bingung, seperti mencoba membayangkan laju kereta yang cepat dan jendela yang terbuka seperti apa rasanya, mungkin akan ia coba nanti, melaju cepat di jalan tol dengan mobilnya dengan jendela yang terbuka.

Kereta mulai berjalan perlahan dari stasiun Cilebut menuju stasiun terakhir ke arah Selatan. Menna mulai membayangkan semuanya nanti, serunya acara berdua, mengalahkan ego orangtua mereka yang selalu memanjakan mereka dengan semua fasilitas, bahkan sampai setahun lulus kuliah. Ogi sudah berkerja, membantu perusahaan Mining orangtuanya, dan Menna masih senang menimbun ilmu dengan les-les informal.

“Sampai, yuk”, Menna menggandeng tangan Ogi. Semua penumpang berhamburan, terkadang tidak sabar sehingga mendorong penumpang lain, Ogi berusaha menyela orang-orang yang mendorongnya namun dicegah oleh Menna.

Orang-orang bergegas menyeberang ke arah kiri.

“Pintu keluarnya nggak Cuma disana aja kan? Rame banget”, Menna melihat ke arah kiri, sangat penuh.

“Ngga mungkin Cuma satu sih, kita lewat pintu lain aja, mana ya”,Ogi melempar pandangan ke sekeliling, tidak jauh dari tempat mereka berdiri, ada pintu keluar lain yang lebih sepi.

Ogi menunjuk ke pintu  tersebut, “yuk kesana”, dan benar, itu pintu keluar lain, yang lebih lega. Setelah melalui lorong mereka tidak melihat angkot.

“Angkotnya mana? Bogor kan kota sejuta angkot. Kita kayaknya salah deh”, Menna melihat ke arah jalan lain.

“Oh ngga, tuh kita jalan ke arah sana aja kok, udah jalan raya.”

Mereka berdua melangkahkan kakinya ke jalan raya, kebalikan dengan pintu yang tadi, jalanan disana begitu lengang, hanya beberapa truk bak terbuka yang mengangkut sayur-sayuran, dan tempat parkir motor. Jarak ke arah jalan raya tidak terlalu jauh, maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki daripada masuk lagi ke stasiun untuk keluar ke pintu lain.

“Mau kemana, Kang, Teh?”, dua lelaki yang tinggi besar beranjak bangun dari trotoarnya.

“Mau ke jalan raya sana, Mas”, jawab Ogi tanpa curiga. Menna sudah merasakan hal yang salah dari dua orang tersebut. Menna mengapit Ogi, “kita masuk ke stasiun lagi aja yuk.”. Menna mundur, dan lelaki pertama sudah berada di sebelahnya.

“Tenang, Nonaa.. kita hanya bertanya kalian mau kemana? Mungkin bisa kita antarkan?”

“Tidak usah, terima kasih.”

Kemudian beraksilah kedua lelaki tersebut, semakin mendekat, Ogi dan Menna semakin terpojok.

Tidak ada benda apapun yang lebih mahal dari nyawamu

 Maka Menna memutuskan untuk menyerahkan tasnya, namun Ogi malah melawan.

“Tidak! Kami tidak akan menyerahkan apapun!!”. Menna terkejut, tidak setuju dengan Ogi.

“Gi, kam..”, sebelum Menna melanjutkan kalimatnya Ogi sudah diterjang oleh lelaki yang berbadan besar. Mereka bergumul di jalanan.

“Ogi!!!”, kaki Menna kaku, seperti tertancap rapat di aspal yang dipijaknya saat itu. Menna tidak bisa berbuat apa-apa, tidak dengan lelaki kedua yang sedang mengawasi di sebelahnya.

 

Beg!!

 

Kepala lelaki pertama membentur trotoar, pingsan. Ogi mampu bertahan, menyerang habis-habisan. Ogi berusaha berdiri, Menna mendekati Ogi namun Ogi tidak mengacuhkannya dan mencoba menyerang lelaki kedua.

“Sini lo, bangsat!!”. Lelaki kedua panik melihat temannya yang pingsan, tidak bergerak. Dia melangkah mundur, mengambil ancang-ancang kabur, namun tangannya meraih sesuatu di bagian belakang tubuhnya, menarik suatu benda secara pelan. Menna membutuhkan waktu sebentar sebelum sadar apa yang lelaki tersebut ambil. Menna mendorong Ogi dengan keras ke arah kiri, hingga terjatuh ke arah trotoar, namun kepalanya tidak berbenturan dengan kerasnya trotoar. Lalu..

 

DORR!!!

“Ogi!!!”

***

Menna

“Dia kabur?”, seorang petugas mendekati Menna, bersender di dinding depan kantor polisi, mencoba mencerna semuanya, menyusun kata untuk Ogi nanti.

“Iya. Bagaimana keadaan Ogi?”, Menna resah melihat keadaan Ogi. Dia terlihat shock.

“Sedang duduk di dalam, lukanya sudah diperban. Dia bukan shock karena berkelahi saya rasa.”,

“Iya, saya tahu, Fer.”

“Dia shock mengetahui kamu memegang senjata.”

Menna bungkam, mengiyakan apa yang Ferry, sang polisi yang merupakan temannya katakan tadi. Kejadiannya begitu cepat dan Menna meneruskan kepura-puraannya, Ogi akan tewas.

 

Bukan Ogi yang tertembak. Saat itu Menna sudah sadar bahwa lelaki kedua akan mengeluarkan pisau untuk menyerang Ogi. Spontan Menna mendorong Ogi agar tidak menyerang lelaki tersebut, lalu Menna mengeluarkan pistol dari balik cardigan merahnya dan menembakkan satu peluru ke udara.

“Polisi!!”

Tetapi lelaki tersebut berhasil lari. Menna tidak sanggup mengejarnya.

 

“Hhhh…”, Menna menghela nafas panjang, dan memasuki ruang tunggu, berdoa agar Ogi dapat menerimanya. Bukan Menna yang manja yang ia kenal selama ini.

“Bebong..”, Menna berdiri di depan Ogi, yang mengalihkan pandangannya dari Menna.

“Siapa kamu sebenarnya?”

“Beboong, ini Menna. Masih Menna yang kamu kenal,  yang kamu pacari dari SMA”

“Menna yang aku kenal, bukan wanita yang berani memegang senjata api. Bukan wanita yang kuat, dia manja. Bukan kamu”

‘Kamu yang salah, Ogi’, Menna membantah dalam hati.

“Bukan yang memegang pistolnya dengan santai..”, nada Ogi bertambah dalam dan suaranya memelan, ia benar-benar berusaha keras memadamkan amarahnya. Menna mengancingkan cardigannya, menutupi Revolver Volt 38 yang selalu ia sembunyikan.

“Itu caraku mempertahankan diri. Aku memilikinya legal.”

Ogi tersenyum sinis, “Heh, lebih mudah kamu menyewa pengawal daripada kamu membawa senjata sendiri. Siapa kamu? Intel? Detektif? Jagoan?”

“Aku..”, tenggorokan Menna tercekat, ia tidak bisa meneruskan kalimatnya, ia tidak bisa berbohong lebih jauh lagi.

“Ke toilet dulu”, Ogi meninggalkan Menna, sedetikpun ia tidak melihat Menna.

Nafas Menna sesak, tangisnya ditahan, ketika seorang Jenderal Polisi menghampirinya.

“Jarang ada yang diberi kesempatan menggunakan Revolver Volt 38”

Menna berusaha tersenyum, dengan pelan, ia mengeluarkan lagi senjata apinya, “mungkin pistol juga seperti tongkat sihir, Jenderal. Dia yang memilih sendiri pemiliknya.”

Sang Jenderal tersenyum, “Anda pasti sangat mengejutkan orang terdekatmu saat ini.”

Menna mengangkat kepalanya, melihat ke arah sang Jenderal, “Iya.”

“Baiklah. Saya senang kalian berdua selamat. Tolong awasi pemuda tadi sebelum kami dapat menangkap seorang lagi, dia tidak akan jauh dari sini.”

“Pasti, Jenderal.”

“Bahkan kamu sudah lengah, Detektif.”

“Maaf?”

“Pemuda tadi pergi.”

***

Ogi

Ogi tidak ke toilet. Ia berjalan menjauhi bangunan tersebut, keluar secara diam-diam, meninggalkan Menna, pulang ke rumah, melupakan segalanya, melupakan Menna. Hatinya gusar, dan kecewa. Bukan Menna  yang selalu tidak lepas dari pengawasan sopirnya, bukan Menna yang selalu kesusahan pulang sendiri, bukan Menna yang selalu minta dilayani, tidak bisa sendiri, mandiri, sama sepertinya.

Ogi berhenti di salah satu gang, membeli minuman dinginnya. Pikirannya kembali lagi ke kejadian beberapa jam tadi. Wajah wanita yang ia cintai.

Matanya tajam menatap penjahat tersebut, tegar namun tenang menghadapi situasi.

Kenapa aku dibiarkan melawan penjahat tersebut sendiri?

 

Kenapa sebelumnya aku melihat Menna yang ketakutan setengah mati melihat aku dan lelaki tersebut berkelahi?

 

Ogi merasa dibodohi. Dibodohi oleh kepura-puraan Menna sebagai wanita lemah.

Sejak kapan?

 

Apa Mama tahu?

 

Ogi melangkahkan kakinya ke sembarang jalan, berharap bisa mendapatkan taksi yang dapat mengantarkan langsung pulang. Suasana jalanan tersebut sangat ramai, karena Ogi melewati pasar di dekat stasiun Bogor. Tanpa sadar seseorang menabraknya.

“Ini ganjarannya.”

Ogi merasakan sakit di perut bagian kanannya, kemudian ia memegang dan darah kental di telapak tangannya. Ogi limbung, orang-orang seperti tidak sadar atas apa yang terjadi. Lelaki tersebut berjalan cepat, ia bisa mengenalinya, pemuda yang tadi.

Matanya semakin rabun, ia tidak bisa melihat, bibirnya kaku, tidak bisa mengeluarkan satu kata pun, Ogi pun terjatuh, hal terakhir ia dengar adalah teriakan panik orang-orang.

 

 

 

 

Kantor, nganggur, 15:39

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s