Calon Imam

 

Ketiga wanita muda sedang asyik bergurau, ketiganya duduk di sofa panjang, menghadap jalan raya yang tidak pernah sepi dari kendaraan. Namun lampu jalan yang minim dan jalan yang rusak memaksa si pengemudi harus berjalan perlahan.

Tidak jauh dari sana terdengar suara azan isya, ketiganya terdiam, tidak mengucapkan sepatah kata pun, hingga azan selesai.

“Sebentar lagi datang”, ujar wanita pertama, yang beranjak dari sofanya, menyenderkan lengannya ke tiang bangunan tersebut.

“Aku harus bersiap-siap”, sahut wanita ketiga, masuk ke dalam, lalu mengambil pashmina berwarna merah marun, yang senada dengan pakaian yang ia kenakan malam ini.

Wanita kedua mencibir, “Ada-ada aja kamu.”

Wanita ketiga kembali, tetapi pashmina tersebut direbut oleh wanita kedua, dan hanya beberapa menit ketika rambutnya sudah tertutup oleh pashmina yang ia jadikan hijab,

“Neng bisa kan pakai hijab gaul kayak di televisi?”, Neneng, nama wanita kedua itu, memutar-mutarkan badannya.

“Kamu cantik kok pake hijab”, wanita pertama terpana, membayangkan ia akan secantik Neneng bila mencoba memakai hijab juga.

Wanita ketiga, yang lebih tua dari yang lainnya, melihat dari atas ke bawah, lalu tersenyum geli.

“Dasar kalian.”

“Pssst..pssst.. dia datang, tuh, tuuuh.”, Neneng menyenggol Ika, wanita pertama tersebut dengan antusias.

Seorang pemuda berjalan terburu melewati bangunan tiap bangunan, sepertinya ia hampir tertinggal untuk shalat berjamaah.

“Assalamualaikum Kaaang…”, teriak Neneng, yang sedang bangga dengan hijab yang sedang dikenakannya. Wanita ketiga terlihat acuh tak acuh, namun diam-diam merapikan rambut ikal burgundi, hasil mengecat sendiri, lalu memasang senyumnya kalau pemuda tersebut menyempatkan diri untuk melihatnya.

Pemuda tersebut tidak menggubris panggilan dan tatapan ketiga wanita tersebut, langkahnya terburu ketika mendengar qomat.

Bertiga, pandangannya mengikuti langkah pemuda tersebut sampai tidak terlihat lagi, yang mulai memasuki masjid dan bergabung dengan jamaah lainnya.

Wanita pertama menunduk, memegang dada kirinya, dirasakan jantungnya yang mulai berdegup kencang. Terlihat lagi ketika dia kembali recall paras pemuda tersebut, hitam manis, berperawakan tinggi dan berjalan tegap, sorotan matanya yang dalam, ia ingat ketika pertama kali pemuda tersebut berpapasan dengannya, menatapnya tajam tanpa kata, dan dengan perasaan gugup, wanita tersebut meninggalkan pemuda tersebut.

Ada sensasi aneh yang tidak pernah ia rasakan, tidak seperti pemuda yang lain, pikirannya kembali ditarik jauh ke dunia khayalnya, membayangkan satu hari nanti pemuda tersebut berani mendatanginya, menggandeng tangannya erat, membawanya ke pelukannya lalu… dia langsung menggelengkan kepalanya, pikirannya sudah melesat jauh ke hal yang lebih intim lagi.

“Heiyoooh!! Bengong aja!!”, wanita ketiga menepuk paha wanita pertama.

“Ganteng banget ya Masya Allah..” , Neneng mematuk matanya ke arah masjid tersebut, enggan melepas pandangan sampai kegiatan beribadah tersebut selesai, tangannya sambil sibuk melepas hijabnya.

“Mau banget punya suami kayak dia.”, Ika menimpali.

“Kalian mau dimadu?”, wanita ketiga menambahkan. Keduanya terkejut.

“Kok gitu?”

“Iya.. soalnya sepertinya dia harus memperistri kita bertiga dulu, biar ngga ada yang iri.”, senyum jahil wanita ketiga muncul.

“Yah.. hem.. iya sih. Kalo dia cuma meminang Mbak, aku pasti mau juga jadi istri mudanya… Ngga rela soalnya kalo sama Mbak doang..”, Neneng melanjutkan.

“Calon imam kita”, tambahnya.

“Aku mau di belakangnya, mengikuti setiap gerakan shalat dia. Aku mau dia jadi imamku..”, Ika bergumam lirih, takut ucapannya ditertawakan oleh kedua temannya.

Dan benar, kedua wanita tersebut tergelak, “Haha.. memangnya siapa kita?”

***

Sesudah salat Isya berjamaah selesai, ketiganya masih menunggu di depan teras, menunggu sang calon imam, kembali melewati mereka, berharap salam Neneng nanti dibalas.

“Maaak.. aya bondon eta didituuu!!”*, seorang anak kecil berhenti di depan bangunan tersebut lalu menunjuk-nunjuk ketiga wanita tersebut, si Ibu yang masih mengenakan mukena menarik anak itu tanpa melihat ke mereka dan berjalan menjauhi bangunan tersebut tergesa-gesa.

“Hei, kalian semua. Mau dianggurin aja tamunya?”, seorang wanita paruh baya yang berdandan menor menegur ketiganya dari balik pintu.

Ketiganya dengan enggan meninggalkan teras, dan menyeretkan langkahnya ke dalam ruangan. Wanita kedua menunduk sebentar, meninggikan lipatan hotpantsnya agar terlihat lebih pendek, disampirkan pashmina melingkari lehernya sebagai shawl.

Wanita pertama ke dalam belakangan, matanya jauh melihat papan masjid tersebut “Masjid Ar-Rahman”, dan beralih ke tempatnya sekarang ini, “Club Fortuna – Cikampek”

 

 

 

 

* artinya: “Maaak.. ada perek itu disitu!!”

11 Comments Add yours

  1. “Maaak.. aya bondon eta didituuu!!”*

    hahaha… untung diartiiin.. 😀

    1. aku juga ngga ngerti Mas, bukan orang jawa barat soalnya :p

  2. Bayu says:

    Ooh ini toh calon imam.. 😀

    Berikut penilaian para juri:

    Mas Anang: “Saya suka cara kamu membangun dialog. Natural, seperti Yanti XD. Artinya sangat dekat dgn suasana klub malam dan obrolan-obrolan yang biasa dilakukan para cewek. Jadi adegan di dalam cerita ini gak terkesan mengada-ada.”

    Mba Agnes: “You’re greaaaaat! Amazing! Mungkin kalo cerpen ini kamu simpen dulu beberapa saat—sehingga idenya bisa semakin daleem—kamu bisa lebih bagus. Coba deh kamu pikirkan lebih banyak ttg suasana, misalnya kegiatan orang2 ketika menjelang azan magrib. Itu bisa menumbuhkan feel pembaca.”

    Mas Dani: “Yeah..oke..hm…kalo dua juri udah seneng, aku mau bicara apa lagi??”

    XD

    1. Bay.. bay.. elo ada-ada aja kalo bikin komen
      yang pas mas anang gue udah tersipu malu ketika ada kalimat “sangat dekat dengan suasana klub malam dan obrolan2 yang biasa dilakukan para cewe.” Pertanyaan gue ya, jadi lo tau yah obrolan mereka biasanya seperti apa. Pernah kesana? *tatapan menyelidik*

      1. Bayu says:

        Bukannya pernah lg Far.. pelacuran, anak jalanan, komunitas homo/transgender, sama apa lagi yak, lupa. Yah itu bagian kuliahnya anak sosiologi kalo penelitian lapangan..

      2. Engh.. kalo kata lo cara gue membangun dialog itu natural artinya gue.. engh.. hmm.. *melipir dari wordpress* *takut ketawan*

      3. Bayu says:

        *Bilangin Pak Guru*

      4. Dih gitu, kemarin kan cuma PKL disana, sebulan doang!! (•̀_•́)ง

  3. Bayu says:

    Enak aja cm PKL -___- hampir sepanjang kehidupan kuliah gue habiskan buat brtemen ama mereka, trust me. Dr mulai perek2 yg SMP di bantaran Ciliwung dpn Menteng sampe bencong2 di Taman Lawang..wuah banyak deh, sampe Kampung Nelayan di Jakarta Utara tj.priuk sanaah

    1. Ih itu maksudnya buat gue, kan tadi kita bahas yang itu terus kesana sini nah yang dimaksudnya itu adalah.. *sigh*. Ya udahlah.. bingung (˘_ ˘”)

      1. Bayu says:

        Oh gitu toh..hahaha XD <—– sori Mas Anang trlalu brsemangat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s