Just a Feeling

“Boleh ya?”, Tania menoleh, sambil memegang mp3 player yang beralih tempat terus berada di genggamannya. Odi mengangguk, matanya  masih fokus ke jalanan yang berada di depannya.

“Sudah ke berapa kali?”

Tania terkikik, “Hm.. tiga atau empat mungkin?”

Tania menekan satu tombol, yang memutarkan kembali lagu yang sama.

“Aku suka sekali lagu ini.”

Odi t erdiam sepanjang lagu tersebut yang diputar. Tania sesekali bersenandung sambil melihat ke sisi jalan di kirinya. Pikirannya mengawang ke satu kejadian masa itu, membawanya jauh namun segera ia hempaskan.

‘Harusnya tadi aku naik taksi aja, bukan malah ikut dia’, sesal Tania. Namun acara fund raising selesai terlalu malam, dari kelima temannya, dia yang rumahnya terjauh. Tidak ada yang menjemputnya dan taksi yang melewati tempat tersebut sangat jarang, tawaran Odi diterima. Awalnya mereka berenam, dan tinggallah mereka berdua.

“Kenapa lagu ini bermakna bagi kamu?”, Odi tiba-tiba membuka pertanyaan, Tania kikuk.

“Engh.. nggak tau, aku bener-bener suka lagunya aja. Ini kenapa ada di playlist kamu hayooo?”

“Buat referensi band.”

“Oooo..”, Tania mengetahui juga, Odi mempunyai band, lagu ini mungkin sesuai dengan genrenya. Tapi Tania menyukai lagu ini benar-benar karena musiknya, tidak lebih.

 

You said you wished you did not love me anymore

 

You left your flowers in the backseat of my car
The things we said and did have left permanent scars
Obsessed depressed at the same time
I can’t even walk in a straight line
I’ve been lying in the dark no sunshine
No sunshine
No sunshine

 

“Lucunya, aku ngerasa ikut sedih aja denger lagu ini.”

Odi berdehem, “ada-ada aja kamu.”

“Seriusan. Yang kasihan tuh ya, kalau kamu denger lagu sedih, yang bikin galau gitu, tapi kamu ngga tau lagu itu mau buat  siapa.”

“Kalau mendengar lagu tapi tidak menimbulkan emosi apapun, itu gimana?”

“Mati rasa, ngga punya cinta. Hahaha..”, Tania menutup  mulut menahan tawanya, dan ekspresinya berubah saat Odi menimpalinya.

“Berarti aku mati rasa.”

***

Tania menahan katanya, menimang apakah pertanyaannya akan menyinggungnya atau tidak. Mobil pun mulai memasuki jalan kecil menuju rumah  Tania.

“Kenapa..gitu, Di?”

“Sejak kejadian itu, lagu cinta semanis apapun..”

Mobil pun berhenti di depan rumah Tania.

“..tidak ada rasanya lagi.”

No I can’t believe that it’s over now

Just a feeling

Just a feeling that I have

 

Lagu “Just a Feeling” masih terdengar, Tania tidak berkata apapun, membuka pintu mobilnya. Odi juga terdiam, pandangannya dialihkan ke kaca mobil kanan.

“Terima kasih ya, Di.”

“Sama-sama.”

Tania tidak serta-merta memasuki pagar rumahnya, mencoba mencerna apa yang Odi katakan, apa yang ia utarakan secara tersirat. Tania ingat, mereka punya cerita, mereka pernah punya cerita. Cerita yang tidak berakhir dengan  bahagia, pilihan yang tidak jatuh terhadap Odi.

Tania memegang cincin di jari manis kanannya, tidak sadar memutar-mutar pelan cincinnya, bukan Odi yang terpilih, dan memang bukan seharusnya dia.

“Terima kasih untuk semuanya ya, Odi.”

 

And I can’t believe that it’s over now

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s