Introvert

Turka masih tersenyum-senyum sendiri, memalingkan muka dariku. Aku berusaha menebak hal apalagi yang membuat dia begitu bahagia. Setidaknya yang aku tahu sejak malam tadi, dia sedang patah hati.

Masih terlalu pagi, komplek perkantoran di kawasan Sudirman belum begitu ramai, taman luas di area belakang kantor yang selalu difungsikan sebagai area merokok pun masih sepi. Hanya segelintir eksekutif muda yang merokok sambil berbincang dengan rekannya.

“Enak juga ya berangkat sepagi ini.”, mata Turka melirik jam tangan di tangan kirinya. Aku mencibir, ini memang bukan hal yang biasa ia datang sepagi ini, ia selalu datang terlambat.

“Tapi karena kamu belum tidur sama sekali, Turka.”, aku menoleh ke arah sahabatku,wanita yang masih mengenakan gaun malamnya dengan muka kusut, aku telah memberikan blazer putih agar bisa membuat penampilannya sedikit lebih sopan di kantor nanti.

Ia kemudian melepaskan sepatunya, dan mulai berjalan pelan mengelilingi taman itu dengan kaki telanjang.

‘Ini pasti pengaruh obat itu.’, aku telat mencegahnya, rasa sesal mulai menghantuiku.

Lalu Turka sudah berada di sampingku, menyulut kembali batang rokok ketiganya, menghirup asapnya berlawanan arah wajahku, aku benci asap rokok, dia tahu itu. Aku juga membenci semua gaya hidupnya, dia tahu itu, tapi aku terlalu sayang kepadanya, sebagai  persahabatan dua gadis kecil yang sudah bersama sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu.

“Kamu ngga perlu masuk kantor sekarang harusnya. Istirahat. Sadarkan dirimu.”, desisku, menegaskan kata tersebut.

Lalu Turka mengecek ponselnya, memeriksa jadwalnya hari ini, “Hei, kamu pasti tahu kan, aku ada meeting penting hari ini.”

“Tapi kamu sedang tidak sadar.”

Turka mendekat padaku, matanya sejajar dengan mataku, matanya yang sangat merah. “Hei sahabatku sayang, tahukah kamu meeting dengan klien Oil and Gas dari Turki tersebut. Aku dalam keadaan sedikit mabuk. Apa hasilnya? Apa? Aku tetap mendapatkan proyek tersebut kan? Haha..”, Turka menyikut sikutku pelan.

“Iya, setelah kau tidur dengan CEO perusahaan tersebut, bitch.”, sinisku.

“Oh come on.. masa’ kamu nggak mau menyerahkan apapun demi proyek sebesar 3 miliar, eh?”

Aku memalingkan pandanganku dari matanya, aku tidak bisa berkata apapun. Aku dan Turka, dua warna yang sangat berbeda, aku yakin dia  hitamnya, dan aku putihnya, namun selalu ada di bagian tengahnya, dimana semua kebaikan dan sifatnya yang halus hanya berlaku untukku. Ia  sudah kepalang menjadi sahabatku, dan aku kepalang berat meninggalkan dia yang seperti ini.

“Rokok?”, Turka menawarkan rokok dengan kandungan nikotin terbesar yang pernah aku temukan, entah dia mendapatkan darimana, yang pasti bukan dari minimarket atau hypermarket manapun.

Are you  kidding me?”, ku singkirkan barang aneh itu menjauh dariku. Turka terkikik lalu menyulut rokok keempatnya pagi ini.

“Kamu, ya, kamu, jangan terlalu introvert, apalagi tertutup terhadap lelaki. Kamu cantik, Navisha. Cantik. Kamu hanya membuka tinggal hatimu saja…”

“..dan membuka bajumu, jika diperlukan.”, kedipnya.

Turka si ekstrovert, dan aku, Navisha si introvert. Yah, keseimbangan yang aneh bagi kami yang membuat kami tetap dekat.

“Kamu nggak perlu sebrengsek aku, tapi setidaknya kamu jangan terlalu lama sendiri. Aku muak melihat kesendirianmu.”,

“Masih ada kamu, apalagi kamu sudah ditinggal Gio. Pas kan? Dua wanita kesepian.”

“Bangsat!”, umpatnya kesal, nama yang sengaja kusebut, nama yang belum genap delapan jam meninggalkannya, lalu langsung bercinta dengan wanita lain, tepat di kamar sebelah Turka.

Please.. kamu pulang aja, aku bisa handle semuanya.”, aku berusaha membujuknya pulang, aku yakin meeting hari ini tidak mudah baginya, bahkan jika Turka menjanjikan semua. Semuanya.

“Ah diamlah, Navisha. Kalau memang aku tidak bisa menjamin badanku untuk bisa membujuk Mr. Noland menerima proposal ini..”

“Aku akan bilang ia bisa mendapatkan paket combo.”, Turka melengos melewatiku, masuk menuju gedung.

“Maksudmu?”, aku berusaha mengejarnya. Lalu Turka membalikan badannya, dan lagi, mengedip nakal.

“Ya.. aku akan mengajakmu juga menemani Mr. Noland. Me..nemani.”, kedua jarinya memberi isyarat tanda petik lalu tertawa kecil, dari sini aku ingin sekali menampar mulutnya yang sembarangan.

One Comment Add yours

  1. Mau dong, kenalan sama Turka
    hahah *salah fokus*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s