Satu Buket Mawar

Tek tok tek tok tek tok              

Bunyi heels yang menghentak lantai bersahutan, beberapa mahasiswa yang sedang asyik rapat dan duduk santai di lantai menyempatkan diri untuk melihat ke arah suara. Beberapa menatap dengan kagum, berharap akan segera menyusul seniornya, memakai toga, dengan tambahan gelar di belakang namanya yang membuat bangga siapapun.

Ninda tetap tidak bergeming di dalam kantin Dalas MIPA, tatapannya tidak lepas dari arah kirinya, mencari seseorang, tidak sabar menemui seseorang, dan menyelesaikan semuanya. Satu buket bunga mawar berwarna pink yang masih segar diletakkan di depannya. Segar, bahkan wanginya bisa tercium beberapa meter dari mejanya.

Ninda membenarkan posisi duduknya, memindahkan sedikit bangku bundar yang tidak terlalu membuatnya nyaman, namun sudah beberapa tahun belakangan sofa di kantin Dalas sudah tidak ada, sejak kantin di belakang gedung Biologi berpindah kesini semua.

“Aku lewat belakangmu tadi”, muncul di depan Ninda dan tersenyum jahil.

“Eh.. engh..”, Ninda kikuk, salah tingkah. Seseorang di depannya tertawa renyah, membuat Ninda lebih tenang.

“Aku lihat kamu lihat ke arah pintu kiri mulu, jadi aku lewat belakang aja.”

Ninda menyerahkan buket mawar tersebut, menggeser pelan ke depannya, “Ini buat kamu, Efran Aldi, dengan gelar Es-Es-I. Selamat ya.”, Ninda menjulurkan tangannya, menyalami Efran, seseorang di depannya.

“Terima kasih Ibu Ninda. Semoga menyusul.”, balas Efran menahan geli, mengangkat bunganya, memindahkan ke samping kanannya.

“Ehem!!”, Ninda menengok ke arah suara, di jendela sebelah kiri beberapa teman Efran menghentikan langkahnya, salah satu dari mereka pun mengacaukan susana.

“Diemin aja si Kribo itu, Nin.”, Efran mengedik ke arah teman-temannya, memberi isyarat untuk tidak mengganggu mereka berdua.

“Bentar lagi Efran jadian nih sama Nindi.. Ihiy!!”, suara tersebut tampak belum jera mengganggu. Efran melihat dengan sebal, namun sumber suara sudah berlalu. Ninda hanya diam, semakin salah tingkah melihat tingkah seniornya  tadi.

“Nindi.. Efran.. Nindi.. Efran.. Eh, itu Nindi apa Ninda ya?”, suara yang sudah berlalu tetap terdengar jelas.

Dan semuanya menjadi berubah.

“Sebentar, Nin. Bunga ini dari siapa? Kamu kan?”, Efran berbalik dari tatapannya terhadap teman-temannya tadi, raut wajah gembiranya hilang seketika.

Ninda menunduk, berharap agar Efran tidak perlu membutuhkan jawaban atas pertanyaannya sendiri.

“Nin, aku maunya kamu. Bukan dia.”

Srettt

Efran menggeser buket tersebut dengan kasar hingga terjatuh, air mukanya menahan kekesalan. Ninda menunduk, pelupuk matanya mulai terasa berat, ia membiarkan satu-dua tetes airmatanya terjatuh.

“Maaf..”

Tidak ada kata lagi yang bisa Ninda ucapkan selain permintaan maaf. Ninda melakukan kesalahan, yang melukai hatinya, dan juga Efran.

“Yang aku harapkan bisa menjadi milikku itu Ninda, bukan Nindi.”, Efran beranjak dari kursinya, meninggalkan Ninda sendirian, meninggalkan Ninda dengan hati yang rapuh. Dan mengambil kembali buket mawar warna pink tersebut.

Bunga dari Nindi, kembarannya, untuk Efran.

Bukan dari dirinya.

 

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s