Ada Dia di Matamu (Remake)

Sebenarnya cerita ini sudah pernah dituliskan di postingan Januari lalu, tapi grammarnya masih acakadut, jadi dibuat ulang untuk tujuan mengikuti proyek #UIMenulis juga. Cekidot!!

 

Sudah pukul 17.00 lewat.

Ana mendengus kesal. Mengeluh praktikum gravimetri yang ia dapat hari Jumat.

’Kenapa hari Jumat? Kenapa harus sama Gerry?’

Ana melihat ke ruang tunggu laboratorium, sahabat – sahabatnya sudah meninggalkan Ana.

“Kamu angkat crucible lead 2 sama 3 ya, kayaknya udah bisa disaring. Aku lagi nyiapin larutan standar,” Gerry menghampiri Ana.

Ana menyimpan selulernya ke kantung jas labnya.

“Matiin dulu ovennya, sudah belum?” Ana pura-pura mencari pulpen di kantong jaslab, iya, untuk menghindari kontak mata dengan Gerry

“Belum,”

Ana menatap Gerry, kesal, “Lo mau bunuh gue? Ya dimatiin dulu lah ovennya, didiemin suhunya sampe 40 derajat baru bisa diambil!”

“Oh iya ya, maaf, lupa,” Gerry berlari kecil ke arah oven dan buru-buru mematikannya.

Ana menatap  Gerry yang sedang memunggunginya, sekarang semua berubah,. Gerry mencoba menebus kesalahannya, tidak ada canda di lab lagi antara kita berdua.

’It’s not gonna work Gerry. Never,’

Ana mendatangi oven dan melihat layarnya, masih 78 derajat Celcius, tangannya meraba permukaan pintu oven sesaat, masih panas. Langkahnya diseret malas-malasan menuju ruang pengawas. Ana dan Gerry, tidak akan pernah terlihat dalam satu meja lab bersama, walau mereka akan selalu satu kelompok sampai semester depan. Saling menghindar dengan tetap mengutamakan prosedur kerja yang baik menjadi tujuan Ana dan Gerry, saat ini, entah sampai kapan.

Ana merebahkan dirinya di sofa panjang, tubuhnya merasa lelah dengan percobaan panjang ini, bahkan Ana harus memegang kunci lab sampai besok, karena tidak ada lagi petugas lab yang mengawasi, hanya Ana dan Gerry, di ruangan ini.

 

If you had my love and I gave you all my trust
Would you comfort me
Tell me baby
And if somehow you knew that your love would be untrue
Would you lie to me
And call me baby

 

Ana memejamkan mata, tiga bulan lalu mungkin Ana masih akan mendengarkan lagu ini dengan riang dan berjoget meniru J-Lo, membuat Gerry terpingkal sampai mengeluarkan airmata, karena gerakan yang Ana hasilkan malah kaku, dan konyol. Saat ini Ana merasa hatinya merasa  sakit setiap mendengar setiap bait lagu ini.

“Capek banget ya?” Gerry sudah ada di belakang kepala Ana, duduk di sofa merah kecil. Gerry menyerahkan bantal kecil ke Ana.

Ana menerima dengan kasar, lalu tergesa terbangun.

“Iya,”

“Kamu belum makan siang,”

“Nanti aja,sama makan malam,”

‘Bisa saja makan sekarang asal nggak bareng kamu, Ger,’

Maag kamu nanti kambuh,”

“Bisa diam aja ngga?” Ana menatap Gerry, tajam. Ana melihat mata Gerry, dan muak melihat apa yang ada di dalam mata Gerry. Di mata Gerry, Ana melihat bayang sahabatnya berkelebat disana. Ana berusaha mengurai kebencian terhadap sosok di sampingnya. Gerry, yang sudah bersamanya selama 2 tahun ini. Yang memutuskan untuk menyudahi hubungan karena alasan kebosanan semata.

‘Lo putus sama Gerry,Na?’

‘Iyah..hmmm,’

‘Dia memeluk gue,erat, berkata semua akan baik-baik saja. Perkataannya ngga ada yang salah hari itu, tapi matanya yang ngga bisa bohong. Matanya menyiratkan sukacita, gue dah kenal elo dari umur 8 tahun,Vi. Gue ngga pernah salah sama firasat gue terhadap elo. Anjing lo, Vi.’

 

Ana mengingat kejadian itu, lewat mata Gerry.

Ana beranjak dari sofanya, lalu langkahnya menuju ruang asam yang penuh larutan dengan konsentrasi tinggi. Ana menaruh larutan tersebut dekat Gerry, dan menuangkan perlahan ke dalam gelas ukur.

“Tolong bantuin gue tuangin akuades kesitu ya, Ger,” Ana menahan emosinya, suaranya tercekat.

“Kesini?” Gerry menunjuk ke gelas ukur 250 mL di depan Gerry, Ana melihat Gerry mengibaskan tangannya dari bibir gelas ukur tersebut, mau tahu larutan apa di dalamnya, tapi Gerry lebih memilih diam.

“Iya,kesitu,” mata Ana kelam, dan langkahnya menuju luar ruangan.

Ana melihat sekilas Gerry sedang membantunya menuangkan larutan itu

Dan…

“AAARGH!!!! Ana!! Lo mau bunuh gue?!?!?!?!” Gerry menutup wajahnya yang terkena larutan  asam sulfat dengan konsentrasi tinggi yang tiba – tiba meledak di depan mukanya.

Ana menutup pintu lab.

“Iya,Ger,” bisik Ana sambil beranjak ke kantin, tersenyum puas.

 

 

4 Comments Add yours

  1. Kak… Serem kak :S jadi inget masa SMA pas praktikum kimia ._.

    1. chemistryofray says:

      membunuhlah dengan cara yang keren, ( –,)

  2. Ririn says:

    wow .. sebenci itu kah?
    keren ceritanya.

    1. heuheu.. namanya juga cerita xD
      Terima kasih ya kunjungan baliknya, hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s