Akselerasi Takdir Tuhan

 

Namaku Rea, dan aku bukan pencuri.

Sungguh, aku hanya bosan dengan tuduhan itu, yang mulai rapat menempel dengan seluruh kujur tubuhku, dan ditegaskan oleh tatapan mereka.

 

Namaku Rea, dan aku bukan pencuri.

Setidaknya, kalian harus tahu mengapa aku melakukan hal tersebut.

***

Tidak ada yang lebih melelahkan dari Jumat pagi. Terlebih lagi, praktikum Mikrobiologi yang mau tidak mau harus dilakukan di lantai 4 gedung G, atau Gedung Kimia – MIPA. Bukan, aku bukan dari Kimia, tapi lintas departemen, dan hanya departemen Kimia yang menyediakan segalanya, dengan fasilitas yang setidaknya lebih lumayan daripada departemenku.

Tapi, pe er terbesar adalah harus menaiki anak tangga demi anak tangga sampai lantai empat untuk mencapai laboratorium tersebut. Kalau kamu pikir tangganya hanya sedikit saja per tingkatnya, kamu salah. Pokoknya, melelahkan, dan pagi-pagi sudah  melakukan kardiovaskular dengan jas lab tersampir di pundak dan tas ransel besar di punggung, benar-benar merupakan pengalaman satu semester yang tidak akan pernah aku lupakan. Setidaknya aku bisa pamer ke fakultas lain bahwa menggunakan fasilitas konvensional seperti tangga jauh lebih menyehatkan daripada menggunakan lift.

Dan rasa kagumku bukan karena diriku sendiri yang bisa selalu tepat waktu, namun para asisten laboratorium atau aslab, yang sudah stand-by jauh lebih dulu daripada mahasiswa lainnya. Entah tuntutan Ibu Durha yang sangat tegas- kalau tidak bisa dibilang galak, atau memang mereka aslab yang dipilih berdasarkan apresiasi mereka terhadap waktu, sehingga mereka bisa selalu tepat waktu. Setidaknya, dari empat kali kelas praktikum yang sudah berjalan, aku tidak pernah melihat ada aslab yang berjalan cepat dengan muka panik menghampiri meja juniornya. Pemandangan yang sering aku lihat malah sebaliknya, teman-temanku yang menghampiri meja lab, lalu kalau mereka ketinggalan soal pre-test yang langganan diberikan sebelum mulai praktikum, mereka akan memohon-mohon para aslab, banyak yang berhasil. Namun ada juga yang gagal, dan rela melihat angka nol besar dengan warna merah, tebal, sampai menembus kertas Daftar Nilai, bertengger di sebelah nama mereka.

 

“Kamu terlambat, Rea. Tumben.” Tika menyapaku, yang melihatku tergesa-gesa dengan asal memasukan tasku ke loker kayu terbuka yang sudah berisi tiga tas lainnya.

Aku hanya tersenyum singkat, karena toh Tika tidak melihat. Ia benar-benar sedang bingung mau menaruh tasnya dimana. Karena beginilah keadaan lab Mikrobiologi di gedung ini, hanya ada lima belas loker kayu yang ditumpuk tiga tingkat. Bagi mahasiswa yang datangnya cepat, mereka hanya tinggal melempar sembarang tas mereka ke loker manapun, karena belum ada pemiliknya. Namun bagi aku dan Tika, usaha terakhir kami adalah menyusupkan dengan paksa tas-tas kami ke satu loker yang paling tidak sudah terisi tiga atau empat tas, lalu kami memaksa tas-tas itu dengan menekan paksa tas-tas itu, berharap ukurannya akan mengecil, atau tidak ada lagi rongga udara di dalam tas teman yang lainnya sehingga tas kami bisa masuk.

“Aku mau sekali-kali bisa bebas melempar tasku ke loker yang masih kosong,” Tika sedang sibuk menghimpitkan tasnya di tingkat paling bawah. Aku membantunya, berjongkok dan menekan-nekan tas-tas yang lain sehingga tasnya bisa masuk. Saat ini, kebiasaan melempar tas secara sembarangan bagi mahasiswa yang datang lebih awal menjadi kebanggan tersendiri buat kami. Menaruh di meja lab marmer yang hanya berjarak dua meter dari loker butut tersebut? Boleh saja. Tapi tanggung akibatnya. Salah satu temanku pernah melakukannya karena tidak mau mendapatkan nilai nol besar untuk kedua kalinya, akibatnya pengurus Lab yang sangat bawel itu marah besar dan menaruh tas itu di luar, digantung di langit-langit yang entah sampai sekarang aku masih bingung bagaimana beliau melakukannya. Konyol, namun itu cara terakhir yang akan kami lakukan agar bisa menaruh tas kami bila loker penuh.

“Hei, Rea. Ini bawah meja lab terbuka, dan..” Tika dengan muka senang mencabut kunci yang tertinggal. Tidak biasanya, lemari di bawah lab selalu tertutup rapih, namun hari itu kunci pun ditinggal. Betapa cerobohnya siapapun yang meninggalkan lemari dalam keadaan terbuka tersebut.

Tika sudah menaruh tasnya, lemari di bawah  meja lab begitu luas dan gelap sehingga sang tas pasti akan seperti menjadi Ratu semalam yang dimanjakan oleh kelegaan tempat. Tapi, aku menolaknya menarik lagi tasku, dan turut menyimpan bersama tas Tika. Karena aku sudah menaruh tas tersebut yang pasti akan susah dikeluarkan.

 

Sebenarnya, karena aku sudah tahu tas mana yang akan menjadi target aksiku.

***

Masalah tas yang sepele itu mengantarkan kami berdua mendapatkan nilai nol yang besar. Sungguh, aku dan Tika tidak menyangka bahwa ternyata waktu yang kami habiskan hanya untuk mengurus urusan taruh-menaruh tas telah memakan waktu lebih dari lima belas menit. Bahkan kakak aslab pun sudah memperhatikan dari  jauh.

“Kalian rela ya, menghabiskan waktu kalian disana demi mendapatkan nilai nol?”

Kakak Eki, yang sebenarnya adalah salah satu dari aslab yang paling tidak bisa ditawar dan diminta sedikit belas kasihannya, duduk dengan tenang dan  menatap kami berdua yang sebenarnya sudah pasrah dengan nilai tersebut.

Lalu Kak Eki mengernyitkan dahinya, “kalian tidak ada yang mohon-mohon sama gue biar dikasih keringanan?”

Aku dan Tika sepertinya menggeleng serentak, karena aku melihat ekspresi sekilas dari Kak Eki, terkejut.

“Oh gitu ya. Padahal baru aja gue mau  kasih nilai 30 loh, kan lumayan pas test kalian tinggal kejar nilai 75 biar lulus,” Kak Eki  baru akan memulai briefing praktikumnya saat kami  berdua serentak mulai mendekatinya dan memohon dengan sangat.

Tapi, kami harus membayar harga nilai 30 itu mahal sekali. Makan siang di kantin selama satu minggu.

 

Praktikum “Kultivasi dan Isolasi Bakteri” pun dimulai. Aku satu kelompok dengan empat temanku lainnya yang sedang bersiap-siap menyiapkan peralatan. Dengar dari beberapa senior, praktikum ini sangat memakan banyak waktu. Setidaknya delapan jam pas, atau 2 SKS praktikum akan dihabiskan dengan sempurna. Sempurna.

Aku  melihat sekeliling lab. Praktikum kali ini benar-benar beda, aku hampir tidak melihat temanku yang ke belakang hanya untuk minum air mineral yang dia bawa, atau diam-diam ke luar lab dan makan beberapa potong biskuit atau donat tanpa cuci tangan dulu, padahal tangan mereka habis bersentuhan dengan bakteri E.Coli atau Staphyloccus aureus, tapi sejauh ini mereka masih sehat-sehat saja. Mungkin karena sehabis itu mereka meminum susu  kalengan yang terkenal kemurniannya itu, minuman wajib para mahasiswa yang habis terpajan macam-macam bahan kimia dan bakteri.

 

Aku sudah preparasi semuanya, kaca preparat, sampel, blanko, tugas aku sudah setidaknya sudah selesai, aku tinggal mengekskusi bakteri-bakteri tersebut. Dan jam istirahat pun tidak terasa sudah dimulai. Jam dua belas. Beberapa temanku sudah gelisah karena tidak rasa lapar yang sangat. Bagaimana tidak? Ini praktikum yang hampir tidak ada sela walau hanya untuk ke toilet.

 

“Makan dimana, Rea?” beberapa teman mulai ribut saling bertanya makan dimana makan dimana dan makan dimana, sedangkan mereka tahu dengan masa istirahat yang hanya kurang dari satu jam ini, tidak ada tempat lain selain di kantin sendiri.

Dengan hampir berlari mereka menuruni tangga. Aku tertinggal di belakang. Tidak tertinggal juga sebenarnya, aku sengaja meninggalkan diri.

 

Karena aku mau beraksi.

***

Aslab pun makan bersama dengan penanggung jawab lab, ada ruangan khusus yang sangat jauh, mungkin sekitar dua puluh meter jaraknya, mungkin lebih. Jaraknya saling berjauhan dengan loker kayu tersebut. Ah ceroboh, memang itulah kebiasaan teman-temanku. Meninggalkan tasnya, beberapa malah meninggalkan dompetnya, menitipkan satu-dua lembar uang ke teman atau  menaruh di kantong sambil menenteng telepon selularnya, benar-benar tidak mau repot. Padahal meninggalkan tas tanpa pengawasan yang berarti dari orang lab juga berbahaya. Bagaimana tidak? Jarak ruangan aslab dan loker, selain berjauhan, juga terhalang dengan rak-rak penyimpanan bahan kimia di setiap mejanya, pasti akan menghalangi penglihatan.

 

Aku masih memakai jas labku ketika aku ingin mengambil tasku. Aku melepaskan jaslab segera dan menyampirkannya ke gantungan jaslab yang sudah penuh dengan jaslab temanku yang lain. Bau macam-macam senyawa kimia hasil praktikum yang lain pasti sudah bercampur, belum lagi yang belum pernah dicuci sama sekali sejak pertama kali praktikum dimulai. Aku tidak sampai hati mau membayangkannya.

 

Lamat-lamat aku menatap pintu masuk lab, selama beberapa detik, memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang masuk, sekedar untuk mengambil barang yang terlupa atau apapun itu. Aku terduduk di bangku yang paling dekat dengan pintu lab selama beberapa menit, mengawasi lama. Lalu aku melompat sedikit dari bangku yang tinggi tersebut. Menuju loker.

 

Aku membuka sebuah tas, tapi bukan tasku. Namun, tas yang berada di bawahku. Bukan ketidaksengajaan, aku sengaja membukanya. Ah Numa, kamu sudah aku incar dari kapan tahu, aku sudah tahu kebiasaan kamu yang selalu meninggalkan dompet di dalam tas, dan sifat kamu yang sombong dan selalu pamer kekayaan kepada aku, dan teman-teman lainnya, membuat aku merasa kamu yang aku beri kehormatan sebagai korban pertamaku.

 

Tas mungil berwarna merah muda dengan motif polkadot hitam pun mulai aku jelajahi dalamnya dengan tanganku, tidak lama sampai kusentuh tekstur kulit asli yang lembut dan berukuran tebal. Hanya berjarak beberapa centimeter saja dari resleting tasnya. Entah mengapa tidak ada adrenalin yang mengalir dalam aksi ini, padahal ini aksi pertamaku. Tapi aku merasa semuanya sudah kuperhitungkan secara matang, bahkan aku  masih sempat menengok sebentar ke arah ruangan aslab untuk memastikan tidak ada yang memergokiku.

 

Segera aku mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan isinya. Aku hanya membutuhkan paling tidak sepuluh lembar saja, tidak seberapa dari puluhan lembar merah yang berada di dalam dompet kebesarannya, belum lagi kartu kreditnya yang tidak ada limitnya. Ah, aku terlalu banyak tahu.

 

“Aku.. ini.. tertukar dengan dompetku..” aku mengerang, badanku lemas, dingin, namun aku  masih bisa meyakinkan. Aku mengeluarkan tasku dan mengeluarkan dompetku dengan warna dan tekstur yang hampir sama walau sebenarnya dari kulit imitasi.

 

Ini adalah alasan terbaikku kalau memang ada yang memergokiku, namun nyatanya aku salah.

“Rea, kamu ngapain?!?!” teriak Tika, yang diikuti oleh beberapa temannya yang terkejut oleh apa yang mereka lihat.

 

Dan aku hanya terdiam, tidak bisa berkelit, aku yakin wajahku sangat pucat. Apa lagi yang bisa aku perbuat? Ketika ada dompet yang pemiliknya ada di depanku ada di tangan kananku dan uang yang baru saja aku paksa menjadi milikku  berada di tangan kiriku?

***

“Aku tidak ingin berhenti kuliah!!” aku berteriak, kehilangan kontrol suara dan sikap hormatku kepada ibuku sendiri.

Ibu menghembuskan nafas panjang, lelah, namun tidak tahu harus berbuat apalagi.

“Naaak… adik kamu butuh pengobatan yang rutin dan intens, Ibu nggak bisa membagi biaya pengobatan adikmu dan kuliah kamu sejak ibu dipecat menjadi tukang cuci,”

Aku diam, menahan marah. Aku membayangkan adik aku yang terbaring sakit disana, aku membayangkan diriku yang masih bisa kuliah di universitas yang paling aku impikan ini. Namun berhenti di tengah-tengah masa studiku yang sedang menyenangkan ini?

Aku tetap terdiam. Marah. Marah terhadap diriku sendiri, marah yang sepertinya aku kurang kerja keras untuk membantu Ibu. Tetapi apa yang aku lakukan selama ini benar-benar mendobrak batas kemampuanku, aku keluar dari kepanitiaan, organisasi yang sebenarnya membuatku nyaman, untuk mengajar kesana-kemari untuk tambahan kuliah dan obat adikku. Ibuku lebih berat lagi, beliau membuka warung makan di depan rumah, menjadi tukang cuci laundri yang selalu banyak orderan, menjual kue subuh, menjahit juga. Ibuku lebih, dia berkerja lebih dari batas kemampuannya.

“Maafkan Ibu, Nak. Tapi penyakit adikmu semakin parah. Kamu ambil cuti dulu satu semester, bantu Ibu, untuk kali ini saja,”

Padahal di kampus dan di tempat mengajarlah aku bisa lari dari kenyataan, melupakan nasibku sebagai orang yang tidak mampu, melupakan nasibku yang mempunyai adik sakit-sakitan yang tidak pernah aku cintai, karena selalu menyusahkan Ibu, bahkan menyalahkan Ayah yang sudah dipanggil Tuhan duluan karena penyakit jantungnya.

 

Aku bahkan berani  menyalahkan Tuhan.

 

“Nak, Ibu yakin, kamu bisa kuliah lagi,”

“Ibu tahu kalau uang semesteran Rea sudah diberi keringanan, terus minta keringanan lagi? Terus minta turun terus keringanannya sampai lulus? Bisa-bisa Rea DO, Bu!”

Ibu diam. Kehabisan kata-kata. Ibu harusnya tahu, bahwa aku sekolah tinggi pun demi mereka berdua,Ibu dan adikku. Agar mapan. Agar tidak jadi orang susah terus, agar tidak seperti Ibu yang hanya lulusan Sekolah Dasar.

“Aku akan tetap kuliah, dan Rea janji, kita akan tetap mempunyai biaya pengobatan untuk Adik,” aku berjanji kepada Ibu.

“Bagaimana Nak caranya?”

“Apapun. Dengan cara apapun, Bu.”

 

Iya, dengan cara apapun, walau itu salah.

***

Namaku Rea, dan aku bukan pencuri.

Tiga bulan sejak kejadian itu, aku hampir selalu sendiri. Semua teman serentak menjauhkan diri. Jarkom yang biasa rajin dikirimkan kepadak hampir tidak ada, aku selalu mendapatkan informasi pergantian jadwal kuliah atau asistensi dari staf TU.

Aku memang tidak dikeluarkan, aku berkilah bahwa aku kleptomania, dan kleptomania tidak bisa disembuhkan. Aku meyakinkan seluruh dosen, sampai ketua jurusan. Aku memang tidak dikeluarkan, tapi diawasi dengan ketat.

Tapi yang paling menyakitkan adalah perlakuan sosial dari teman-temanku sendiri. Dan secara tidak sadar aku pun menarik diri.

“Tasnya dibawa ya, nanti ada yang NGAMBIL lagi loh,” ucap Numa setengah berteriak, saat praktikum Mikrobiologi Jumat lalu. Sakit sekali  mendengarnya, namun aku mau bagaimana.

Saat ini aku yang selalu keluar pertama, dari semua kelas, maupun praktikum. Aku hanya menunjukkan bahwa aku tidak mau melakukan hal itu lagi. Bergegas aku turun menuju kantin Dalas, duduk menyendiri lagi. Padahal tiga bulan yang lalu, kursi ini selalu ramai oleh teman-temanku, yang selalu mengajakku makan.

“Hai, Re,” Tika mendatangiku, kaku. Mungkin ini kali pertama dia mau menyapaku setelah sekian lama kita menghindari tatapan mata kala berpapasan. Mungkin aku yang selalu menghindar.

“Tik..” aku menyingkirkan tasku, membiarkan Tika duduk di sebelahku. Entahlah, namun saat ini, setelah sekian lama sendiri, aku membutuhkan teman.

Tapi lagi-lagi aku  berulah. Apakah kamu pernah merasakan? Ketika semua orang menjauhkanmu dan ada satu orang yang mendekatimu, kamu akan skeptis dengan maksudnya dan malah cenderung defensif. Aku menjadi seperti itu di depan Tika. Aku tidak mempercayai kebaikannya. Sebenarnya aku merasa berdosa kalau memang sebenarnya Tika ingin mencairkan semua hal yang sudah  beku selama tiga bulan ini. Namun aku kepalang defensif.

“Aku mau ke mushalla dulu, ya.”

Aku membawa tasku dan menuju ke mushalla MIPA dengan langkah cepat. Aku ingin berada disana saat ini, padahal aku tahu disana malah suasananya sedang ramai.

 

Adzan dzuhur sudah beberapa menit lalu berkumandang, namun memang banyak mahasiswi yang sudah berkumpul disana, untuk sekedar menunggu jam kuliah berikutnya atau malah cepat-cepat shalat karena waktu praktikum sudah mau dimulai.

 

‘Hati-hati terhadap pencuri. Taruh barang-barang berhargamu di depanmu’

 

Ah, lagi-lagi aku tersentil oleh kertas kecil yang ditempel di setiap dinding mushalla tersebut. Dan banyak kalimat yang isinya sejenis dengan apa yang aku baca tadi. Sebenarnya tulisan itu sudah lama ada, tetapi kali ini aku lebih merasa sensitif ketika membacanya.

 

“Hhhh…”

Aku benar-benar merasa sendiri, dan aku baru merasa kalau ternyata berat rasanya. Aku menyenderkan punggungku di belakang,  tempat beberapa orang pun masih sibuk dandan setelah semua butiran bedaknya sudah luntur terkena air wudhu tadi.

“Maaf Mbak, permisi.” Seorang perempuan, yang aku taksir masih menyandang status mahasiswa baru menyapaku.

“Ada apa, ya?”

Perempuan tersebut malu-malu, tetapi sepertinya tidak ada jalan lain selain harus berbicara denganku.

“Mbak, aku sama teman-teman aku mau lab Fisika dulu sebentar, tapi kita nggak bawa tas. Kami boleh nitip sebentar. Mbak ada kuliah nggak?”

Aku melihat lebih dari lima tas di sampingku dan tak sadar mungkin aku menaruh tatapan curiga terhadapnya.

“Kenapa nggak kamu bawa saja?”

Perempuan tersebut salah tingkah, memaksakan dirinya tersenyum.

“Kita ada rapat dulu, jadi.. kita mau bolos kuliah dulu, dan kebetulan kelasnya disana,”

“Teruuuus…”

Sepertinya aku terlalu banyak mau tahu.  Tentu saja, aku harus tahu mengapa mereka sampai repot-repot menitipkan tasnya ketika mereka bisa membawanya sendiri. Dan akhirnya aku berhasil memaksa perempuan tersebut bercerita. Rapat sebentar, masuk ke kelas sebentar ambil tugas, bolos kuliah. Aku tersenyum, dan mengangguk dengan jaminan ini kali terakhir mereka meminta pertolongan ini padaku.

 

Dan ternyata, kelima tas tersebut sudah berada di sampingku selama lebih dari setengah jam, padahal pemiliknya berjanji hanya sebentar.

***

Aku meninggalkan mereka.

 

Jelas, memang aku tidak ada kelas lagi, memang aku tidak mau masuk kelas dahulu. Tapi bukan berarti aku mau lama-lama di mushalla demi memperlancar niat mereka buat membolos.

 

Aku sudah berjalan agak jauh dan aku mengentikan langkahku sebentar di fakultas sebelah, FKM. Aku duduk dan memindahkan posisi tasku dan  membuka isinya.

 

Dan mulai  berhitung.

 

“Lima juta.. delapan ratus delapan puluh tiga ribu rupiah..”

Tanganku mulai menyecap aroma lembaran-lembaran yang kupegang saat ini. Sampai sekarang pun aku masih heran darimana pemilik lima tas tersebut mempunyai uang sebanyak ini.

 

Lega, aku tersenyum lega. Setidaknya dengan cara gadis itu yang terburu-buru ia tidak akan sampai detail mengetahui ciri khasku. Kalau mereka melaporkan mereka pun akan bingung menjelaskan bagaimana wajah sang pelaku, karena aku sudah membaur dengan pelaku-pelaku yang lain, yang tenang duduk di belakang shaf dan menunggu waktu yang tepat untuk bisa menggeser pelan tas korbannya dan merogoh isinya.

 

Siapa suruh mereka mempercayakan orang asing ini untuk menitipkan tas dirinya dan temannya?

Siapa suruh mereka terlalu percaya dengan penampilanku yang menipu ini?

 

Dan ini caraku mempercepat takdir Tuhan, ini pilihanku agar rezeki benar-benar datang disaat aku membutuhkannya.

 

Dan aku senang.

“Akhirnya, ada uang untuk bayar kuliah semester ini,”

4 Comments Add yours

  1. Kim Nara says:

    Hai, kunjungan balik nih. Kemaren makasih banget udah mampir di FF aku.

    Hmm… sebenernya rada gak enak bilangnya tapi gimana ya? Aku pengen banget baca karya kamu tapi aku kurang nyaman sama warna font-nya. Backgroundnya item dan tulisannya biru nusuk. Kalau boleh saran sih pake putih atau abu-abu paling muda aja cukup. Aku udah berusaha baca beberapa paragraf tapi jadi pusing, padahal pengen banget baca 😦

    Maaf ya kalau aku dateng-dateng langsung komen kaya gini ^^V Sukses terus 🙂

    1. Hai Kim Nara (nggak tau nama aslinya)

      Ngga apa-apa, senang sekali bisa dapet saran yang panjang-lebar pula dari pembaca yang baru kunjung kesini.
      Tapi mau jelasin aja, sebenarnya memang nyaman pakai warna putih, tetapi beberapa minggu lalu pernah kena komplain juga dari pembaca yang kunjung via ponsel, karena mereka tidak membaca apa-apa. Jadi walau di PC semua template terlihat, tapi kalau via ponsel tetap saja terlihat backgroundnya putih.
      Tapi boleh juga, berarti template blognya putih aja ya backgroundnya, jadi yang baca via PC sama ponsel tetep nyaman sama fontnya. 😀

      Terima kasih sekali lagi ya masukannya, heuheu

  2. hhh dalem ternyata ya,
    selama ini kalo ada kasus maling gitu, ga pernah mikirin alasannya kenapa, apa emang butuh duit ato gimana

    1. eh tapi di fakultas gue emang triknya gitu loh, dwi. mereka ikut ngaji, ikyut solat, jilbabnya panjang, tapi mereka sebenarnya lagi ngincer target. jaket gue aja pernah diembat. 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s