The Sweetest Revenge

Hari pertama aku memberanikan diri untuk berada disini.

 

Sudah satu setengah tahun aku menghindari tempat ini. Bukan karena apa-apa, tetapi ternyata memang susah menyembuhkan lagi hati yang terluka, menutupnya dengan erat hingga tidak membekas, setidaknya bekas itu tidak terlihat.

 

Dua anak kecil dengan riang mengitari air mancur tersebut, air mancur yang di bawahnya dipasang lampu  cerah yang menenangkan hati. Ah, jangankan anak kecil tersebut, aku pun menikmati saat air tersebut memancur deras ke atas, ketika anak-anak tersebut berteriak dan bertepuk tangan kesenangan, aku pun tidak bisa menahan senyumku.

 

I have no idea why do I really love the dancing fountain..

***

Sudut favoritku adalah bangku kayu yang panjang, ditutupi atap dengan genting berwarna hijau toska yang indah, seperti rumah kecil yang hanya berisi bangku kayu yang langsung menghadap ke air mancur tersebut. Aku selalu menyempatkan waktuku sepulang kantor untuk duduk terdiam disana, lamat-lamat melihat beberapa orang yang sepertinya mempunyai tujuan yang sama denganku. Satu tempat yang bisa melepaskan penat mereka sesudah pulang kerja.

 

Beberapa meja dan bangku melingkar sengaja diletakkan mengelilingi air mancur tersebut dalam jarak yang sudah ditentukan, sehingga kami, para orang dewasa tidak perlu takut-takut akan terkena cipratan air tersebut, namun tetap dapat menikmati air mancur menari tersebut sambil sesekali tersenyum geli bila ada anak kecil yang berlari menuju pusat air mancur menari tersebut lalu membiarkan tubuhnya basah oleh semburan air dengan sepuhan warna-warni dari lampu tersebut. Tinggal sang pengasuh atau orangtuanya yang menahan kesal karena tidak ada baju ganti untuk si anak.

 

Satu setengah tahun lalu, selalu ada alasan mengapa aku harus berada disini setiap malam, mengapa aku menyempatkan diriku hanya untuk melihat si air mancur menari sesekali, setidaknya, dengan cara seperti itulah aku lebih sabar menunggumu.

 

Iya, menunggumu. Kamu adalah alasan aku berada disini kala itu.

***

Beberapa orang sudah mulai membuka laptopnya dan sengaja memilih tempat yang langsung berhadapan dengan air mancur menari tesebut. Sisanya yang tidak mendapatkan tempat yang sangat terbatas tersebut terpaksa harus memilih meja lain yang masih tersedia dengan muka kecewa.

 

Setidaknya saat ini aku mempunya spotku sendiri, tujuanku hanya satu, menikmati kembali pemandangan ini.

 

“Hei..”

Tanpa menengok ke arah sumber suara, aku tahu siapa  pemilik suara berat tersebut dan aku tidak perlu terkejut untuk hal ini. Kamu pasti sudah melihat kedatanganmu, aku melihatmu di ujung sana tapi tujuanku bukan untuk menemuimu.

“Hai, Abel. Apa kabarmu?”

Ada sunggingan senyum tipis dari bibirmu, namun getar itu sudah hilang lama. Seharusnya aku merasakan getar yang dulu tidak perlu aku tanya munculnya darimana. Aku membalas senyumnya hanya sebagai formalitas saja.

“Baik, sepertinya aku baru melihatmu lagi,” Abel duduk di bangku panjang ini, dan aku bergeser sedikit walau kamu tidak duduk mendekatiku, setidaknya aku member tanda kalau kita sudah punya sekat sendiri, kita sudah ada batas.

 

Aku tidak memberikan komentar, letak tempat tersebut yang berada di dataran yang cukup tinggi membuat hawa dingin mulai merajam ke sekujur tubuhku, aku memeluk tubuhku sendiri, mulai kedinginan dengan baju tipis ini.

 

Namun anak kecil tersebut masih dengan semangat bermain di sekitaran air mancur  yang pasti airnya dingin sekali.

 

“Kamu masih sama saja ya, menatap dengan tatapan antusias ketika melihat air mancur menari tersebut,”

 

Kamu masih ingat semua ternyata, satu setengah tahun aku menjaga jarak darimu, kalau tidak mau dibilang menghilang, dan semuanya tentangku kamu coba gali lagi.

 

Aku diam saja, tidak memberikan barang satu kata pun atas belasan kata yang kamu ucapkan tadi. Aku belum siap menemuimu.

 

Aku belum siap ditemui kamu lagi.

“Kamu, tumben ada di kafe? Biasanya hari  ini kamu nggak ada di kafe,” aku memutar topik, yang bisa mengalihkan usaha dia untuk recall memorinya tentangku, tentang kita.

 

Alih-alih menjawab pertanyaanku, kamu malah tertawa sekilas, menggeleng-gelengkan kepala dan melihatku. Wajah itu lagi, yang harusnya bisa membuatku tersenyum walau tanpa harus berusaha membuat kamu sadar aku memperhatikanmu.

 

“Lebih dari satu setengah tahun kamu tidak kesini, kamu pikir semua akan sama saja? Konsisten? Tidak, Ilana. Hari ini aku di kafe, besok aku harus ke cabang kafe aku yang satu lagi. Yah, pokoknya semuanya sudah berubah,” ujarmu, menjelaskan semuanya.

 

Dan matamu tidak lepas mataku, ekspresi kamu tiba-tiba berubah, menahan arah matamu agar lurus dengan mataku, tatapan yang selalu membuatku segan untuk membalasnya.

 

“Serius, kemana saja kamu, Ilana?”

***

‘Aku tidak kemana-mana, aku masih di tempat yang sama, masih di kantor yang sama, masih Ilana yang sama. Sampai kamu menyakitiku dengan cara yang tidak terduga, aku berubah sejak saat itu. Aku menjauhimu, yang mungkin terlalu berlebihan, tapi kamu tidak berusaha mencegahku, mencariku, mengejarku. Kamu tetap disini, dan aku beranjak dari tempat ini, mencoba melupakan semua kenangan tentang tempat ini, air mancur menari yang sangat aku nikmati hanya untuk bisa melupakanmu. Melupakan bukan tugas yang bisa  kulakukan dengan mudah, terlebih, itu kamu.’

 

Aku menahan semua penjelasan yang harusnya bisa membuatmu sadar, tetapi lagi, aku bungkam. Diam mampu membuatmu merasa lebih berdosa. Ya, kan?

 

“Hhhh..”

Kamu menghembuskan nafas dengan berat, udara dingin seakan gentar mendatangimu, tidak berani menyerangmu yang hanya mengenakan kaos tipismu tersebut. Entah secara kebetulan, kamu mengenakan pemberianku, dulu.

 

“Maafkan aku,”

Aku hanya membalas dengan senyum, lagi. Kamu menatap arah depanmu, nanar, sesekali menunduk. Karena apalagi yang aku mau? Memberikan maaf tidak akan bisa memperbaiki semuanya. Bahkan tidak membuatmu tergerak memohon kepadaku, memintaku untuk kembali. Dari dulu, memang hanya ada sedikit cinta yang kamu tempatkan dihatimu, untuk aku. Sisanya, entah, aku tidak mau mengingatnya cinta itu untuk siapa saja.

 

Kamu memberikan satu cinta untuk salah satu pelanggan di kafemu.

Kamu memberikan cinta lainnya untuk kolegamu.

Terakhir, yang paling menyakitkan, cinta itu kamu  berikan juga kepada sahabatku.

 

“Kamu tahu? Anak-anak, hampir tidak mengenal rasa takut. Mereka melihat air mancur ini, mereka pasti kebasahan, atau bisa terpeleset, selalu ada risiko untuk terluka. Tapi, mereka tidak memikirkannya. Alih-alih takut kebasahan, mereka senang ketika masuk ke dalam pusat air mancurnya, membiarkan tubuh mereka basah, mereka tertawa, menikmati semuanya. Dan orangtuanya malah yang kerepotan,”

 

Aku tertawa sekilas, membayangkan kejadian yang benar terjadi beberapa waktu lalu. Dan tempat ini  terasa begitu lengang, waktu yang seakan berhenti, turut ingin mendengarkan penjelasanku.

 

“Tapi lucunya, saat kita dewasa, kita malah menimbang semuanya. Kita menikmati keindahan air mancur ini, tapi mendekatinya pun enggan. Kita takut kebasahan, kita takut terpeleset, dan lainnya. Kita mempertimbangkan segala sesuatu sebelum kita mengambil keputusan kalau kita sudah dewasa,” lanjutku.

 

Kamu melihat ke arah kiri, menghindar tatapan denganku. Apa kamu sudah menangkap maksudnya? Aku tidak tahu cara memberitahumu rasa sakit yang dulu kamu tinggalkan. Aku hanya ingin mengatakan kamu tidak lebih dari anak kecil itu,  yang melakukan perbuatan yang harusnya sudah kamu pikirkan risikonya terlebih dahulu, karena kamu sudah dewasa.

 

“Aku sudah lama memaafkanmu. Artinya, kalau aku sudah berada disini lagi, aku sudah siap menemui kamu,”

 

“Sekarang, biarkan aku menikmati keindahan ini, ini air mancur menari paling indah yang pernah ada di kota kita. Jangan rusak momen indah ini, kamu bisa menemaniku sambil ada yang menjemputku,” lanjutku lagi.

 

Kamu menatapku lama, lagi, mengernyitkan alismu, lalu berganti dengan senyum dinginmu, dan mengangguk pelan.

“Aku akan menemani kamu,”

“Terima kasih,”

 

Tanpa ada kata-kata yang terucap, kita menikmati pemandangan air mancur itu dalam diam. Aku memperhatikan dari sudut mataku beberapa kali kamu melirik aku, lebih baik aku diam saja. Cerita satu setengah tahun lalu bisa kita hapus saja, kan?

 

“Kamu tahu, aku selalu ada di kafe ini lima hari seminggu, dua hari lagi baru disana,” kamu membuka percakapan.

 

Suasana tempat ini menjadi lebih hangat dan nyaman, aku tidak mau menghukumnya lebih lama lagi.

 

“Oh, ya? Kenapa?”

 

“Hanya tempat ini  yang menyuguhkan pemandangan yang indah. Disana, yah.. langsung berhadapan dengan jalan raya, aku kurang menyukainya, walau ramai juga,”

 

“Kapan-kapan aku boleh deh main kesana,”

 

“Pasti, ditunggu,”

 

Kekakuan yang aku bentuk dari awal mulai pecah. Namun saatnya aku harus pergi.

“Kamu makin kurus, Abel. Tapi bagusan kurus gini,”

“Haha.. kamu yang berubah, makin gemuk kamu, Ilana,”

“Haha.,. wajar dong, kan lagi hamil,”

 

Aku menimpalinya dengan santai, tapi apa yang kamu balas di luar perkiraanku. Kamu benar-benar terkejut.

 

“Apa?”

“Iya, aku sudah menikah. Maaf, aku pamit ya, Abel. Suamiku sudah jemput,”

 

Aku meninggalkannya, hatiku lega. Menghukumnya dengan kabar bahagiaku.

Di air mancur menari ini, perasaanku benar-benar sedang menari.

Aku menang.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s