Satu Kata Sapa Pertama

Aku merasakan tubuhku mulai mempercepat lajunya, aku merasakan gelap yang teramat dalam sampai akhirnya aku mulai sadar belum saatnya aku berteriak, belum saatnya aku ketakutan. Lama aku menahan diri untuk melawan seluruh ketakutanku ketika akhirnya secercah warna mulai membentuk namanya, menampakkan diri. Merah, kuning, putih, krem.

 

Aku berhasil mencapai Lucid Dreamku.

 

Aku melihat sekeliling, kantin kantor yang berada di lantai 17, jam makan siang, suasana crowded¸ seragam khusus bagi karyawan lapangan yang selalu bisa ke Jakarta hanya berapa kali dalam setahun, wanita-wanita gaji kecil dengan gaya yang wah, sungguh seperti gambaran kantorku.

 

Itu dia, seruku antusias. Dia yang aku tunggu dalam waktu yang sama, dalam perasaan yang sama. Satu waktu disini sama dengan satu waktu disana. Aku mulai mencubit lenganku sendiri, dan rasanya tidak sakit, namun anehnya aku masih dapat merasakan debar jantung yang mulai berani melanggar aturan agar berdebar dengan teratur.

 

Aku hanya mendapati fisiknya setidaknya satu tahun sekali, dari waktu kerjaku yang belum sampai dua tahun, aku baru menemuinya selama empat kali saja. Ini tahun kedua aku akan menemuinya lagi, dan aku tidak mau ada niat yang tidak terlaksana hari ini. Aku tidak mau lagi semua rencanaku akan menjadi sesal saat pertemuan kelima nanti. Aku tidak mau menangis lagi karena saat pertemuan keempat aku tidak menemuinya lagi dan bersabar saat tahun mulai berganti dan semua orang siap mengganti kalender lamanya, aku menyematkan satu lembar post it kecil pada bulan pertama di tahun ini.

 

‘Dia datang’

 

Dia memakai seragamnya di dunia Lucidku, seragam biru muda yang tidak membuatnya seperti buruh, aku mengenal seragam itu adalah posisi yang penting di perusahaannya, namun dia dipekerjakan di lapangan, off-shore, satu tahun bisa kembali ke Jakarta saja sudah istimewa karena jabatannya.

 

Sayang -atau pengecutnya aku, aku hanya mendapatkan seluruh informasi itu bukan dari dirinya langsung, dari namanya yang mudah ditemukan di internet, dari profil Linked In-nya, dari manapun. Kepayahan aku mencari data tentang dirinya, tapi tujuan utamaku agar dia tahu namaku belum bisa kulaksanakan.

 

Neo, nama pria tersebut, melihatku sekilas tanpa senyum, berjalan bersama beberapa koleganya ke kantin yang menjual ayam bakar penyet, makanan kesukaannya, dan kesukaanku juga. Tetapi di dunia Lucid ini banyak hal ganjil, aku  tidak melihat satu orang temanku, sama sekali. Aku sendirian. Dan aku memutuskan untuk duduk sendiri di dekat mejanya.

 

Trek.

Satu nampan diletakkan di depanku. Neo, bisikku.

“Kamu kenapa ada disini?”

Aku gelagapan, bingung menjawabnya, kenapa aku seperti mempunyai balon kasat mata penuh kata yang muncul di atas kepalaku, dia seperti tahu kenapa aku berada disini, kenapa aku membuat dunia ini.

Ini kan duniaku, protesku dalam hati.

“Kamu, sapa aku nanti. Beranikan diri kamu, aku tahu semua caramu mengetahui namaku, aku tahu semuanya,” lanjutnya, wajahnya jaraknya selebar meja makan ini, cukup dekat.

 

Deg deg deg deg deg

 

“Ini mimpi aku, kamu nggak usah atur apa yang mau aku kehendaki,” aku akhirnya protes, tidak senang dengan kalimatnya dan nadanya yang ketus.

“Kalau ini mimpi kamu, kenapa kamu ngga bisa mengaturnya?”

Kepalaku limbung, seperti ada sesuatu yang merenggut kepalaku, aku seperti ingin terbangun, tapi aku menyelesaikan semua ini.

“Kamu berada di mimpiku, Tria,”

***

Nggak mungkin, Neo. Aku jelas berusaha sekeras mungkin memvisualisasikan segalanya sebelum tidur tadi, memutar lagu induksi yang dapat merealisasikan mimpiku, dan tiba-tiba kamu bilang ini mimpimu? Keterlaluan, aku kesal, percaya tidak percaya. Dunia Lucid tidak nyata, ini pasti bagian dari gambaran yang aku bentuk dalam keadaan tidak sadar.

 

“Aku mau mengenalmu. Aku akan mendatangimu saat kita bertemu nanti. Tapi jangan datang ke mimpiku lagi, buatlah duniamu sendiri,”

 

Neo menyentuh tanganku, sekilas, aku merasakan hangat tangannya, walau tidak menggenggamku erat, itu sudah cukup bagiku. Senyumnya jelas terekam di pikiranku, senyum yang baru aku dapatkan satu kali, saat pertemuan ketiga. Dan, ini senyum pertamanya di dunia Lucidku, di dunia Lucid Neo.

 

“Satu sapaan dariku, aku yang mulai, bagaimana?”

Aku menantang diriku sendiri, setidaknya bisa kumulai dari mimpi ini dahulu.

“Silahkan, pegang janjiku, aku menyambutmu,”

 

BRAK!!

Gebrakan keras sekali yang aku rasa disengaja membangunkanku menuju hari Senin, pertemuan kelimaku.

 

***

Yang berbeda, lima kawanku berada di sampingku. Sama sepertiku, mereka sama antusiasnya denganku. Bedanya, aku belum mengatakan kalau aku sudah menemui Neo tadi, di mimpiku.

“Dan lo harus kenalan sama dia,” Nina memaksaku, langkahnya tetap memburu menuju ayam bakar penyet kesukaannya, aku mengikutinya.

“Jangan cuma wacana,” ujar temanku yang lainnya.

“Masih single itu, “ entah suara siapa lagi yang heboh mengikutiku langkahku.

 

Dan ini keadaan kantin yang sebenarnya, lagi-lagi aku melihat sekeliling, kantin kantor yang berada di lantai 17, jam makan siang, suasana crowded¸ seragam khusus bagi karyawan lapangan yang selalu bisa ke Jakarta hanya berapa kali dalam setahun, wanita-wanita gaji kecil dengan gaya yang wah. Sama.

 

Neo masuk ke kantin dari pintu yang berbeda, tapi dia sendiri. Satu senyum yang aku tunggu dari senyum terakhirnya pada pertemuan ketiga tidak dapat aku temui. Aku menatapnya lama, mengirimkan sinyal maya agar dia melihatku barang sedetik, sama seperti di mimpi tadi.

 

Berbeda ya responsnya, tapi kan tadi malam di dunia mimpi, aku menghibur diri.

 

Tetapi masih sama, dia menuju ayam bakar penyet tadi, sayangnya aku sudah memesan duluan. Aku menahan langkah sebelum sampai ke tempat dudukku, memerhatikan akan duduk dimana nanti dia.

 

Neo duduk sendiri, dan aku bersikeras menahan diri untuk tidak mendatanginya.

“Jangan sekarang, kamu menganggu waktunya makan,” bisik Nala, yang sadar aku tidak lepas pandang sedetik pun dari Neo.

Pria jangkung dengan badan tegap dan memakai kacamata tersebut akhirnya melihatku, aku membalasnya dengan sedikit senyum. Tetapi belum sempurna senyumku dia melengos, menatap ke arah lain.

 

Kenapa jadi kayak gini?

 

Waktu makanku berjalan terasa lebih cepat, aku seperti memaksa tiga jarum detik, menit dan jam untuk melaju lebih cepat, pertemuan keenam tidak akan berarti apa-apa, artinya kemunduranku untuk tidak berbuat apa-apa. Aku harus menyapanya, seperti apa yang dia katakan tadi kepadaku.

 

“Duluan, ya”

Setelah meninggalkan teman-temanku aku berjalan cepat mengejarnya, yang sudah selesai makan dan menuju minimarket kecil di luar. Aku benar harus mulai duluan.

 

Dan niatku yang terlalu semangat malah membuatku menabrak seseorang.

 

BUK!!

 

Pria yang aku tabrak tadi limbung, sepertinya aku  benar-benar menabraknya dengan keras.

“Maaf… maaf, Mas. Maaf!!!”

Aku panik dan membantu mengambilkan tas ransel yang tidak dia kenakan di pundak, tasnya berat sekali, wajar kalau dia sampai terjatuh.

Lelaki tersebut tanpa ekspresi, menerima tasku, dan mengangguk pelan, menerima permintaan maafku, aku masih merasa ada raut kesal disana.

“Maaf, Mas,”

Aku mengejar Neo yang terlihat dari jauh sudah menuju ke kasir. Aku harus mencegatnya setidaknya di luar minimarket tersebut.

 

“Tria Kinanti, ini,” pria tersebut menyerahkan sesuatu kepadaku, aku benar-benar kesibukan dan panik menyerahkan ranselnya hingga baru sadar ID Cardku terjatuh.

“Ya ampun..,” aku menerimanya dengan panik, mataku bergantian menatapnya dan menatap ke arah minimarket tesebut.

“Nama gue Ega, lain kali kalau nabrak saya lagi, jangan panggil ‘Mas’ ya,”

Aku tersenyum simpul, malu. Lalu melihatnya lebih lama, ya ampun.. manis sekali wajahnya, dan aku sadar bahwa pria ini satu lantai denganku tetapi beda perusahaan. Tidak sadar, aku terus menatapnya.

“Tria, kenapa? Masih mau minta maaf lagi?”

Aku tersadar dari pikiran kosongku tadi, entah apa yang terbesit tadi di pikiranku namun sosok di depanku sungguh menarik. Yang paling penting, sosok ini adalah seseorang yang hampir setiap hari ku temui.

“Maaf ya Ega, tadi.. itu.. anu..,” aku kehabisan kata-kata. Tujuan awalku mendadak lenyap ketika melihat sosok ini.

“Kenapa? Sebentar, kamu satu lantai dengan saya ya kantornya?”

Aku mengangguk semangat, entah mengapa aku ingin memulai percakapan panjang dengannya. Satu kejadian konyol yang malah membawa kita ke percakapan yang seru, satu sapaan pertama yang tidak dibuat, tidak direncanakan. Dalam keadaan masih berdiri kami berbincang banyak hal.

 

Aku bahkan hampir lupa dengan dunia mimpiku sendiri.

 

Aku melihat ke arah minimarket, masih ada Neo disana, terdiam di depan, seperti menunggu sampai aku tersadar bahwa ia sudah berada disana sejak lama. Neo tersenyum dan menganggukkan kepalanya padaku, dan berlalu.

 

Aku tidak perlu menciptakan duniaku sejak saat itu.

 

 

 

 

4 Comments Add yours

  1. aaak ini keren 😀
    bawa2 dunia mimpi ala Inception, keren,

    tapi tema ceritanya sendiri juga bagus sih,
    daripada stuck ke satu orang, ga taunya nemu yg lain
    bagus 😀

    1. pokoknya ntar cerita duet kita lebih unik lagi ya, dwi! xD

  2. trihans says:

    Suka…..unik ceritanya 🙂

    1. asiiii, terima kasih, Mas! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s