Salam untuk Lelakiku

Temui dia langsung. Selesaikan semuanya.

 

Aku tahu dia akan menunggu, memang aku yang berusaha membuat dia menunggu. Aku enggan menunggunya, aku ingin ditunggu, waktuku sudah dihabiskan untuk menunggu saat itu, saat Furan, calon suamiku akhirnya sembuh, dan memberikan cincin indah yang sudah melingkar manis di jari manis kiriku.

Harusnya aku kirim saja lewat pos, ngapain repot-repot menemui orang yang aku benci, sumber penghancur di awal hubunganku dengan Furan, aku mau berbalik dan kembali ke parkiran, mengubah niatku untuk terlihat menang di depannya. Tapi harus, aku harus memadamkan api yang dia sulut dari awal, dari awal hubunganku dengan Furan.

“Hai Zevana,” dia berdiri dan hendak mencium kedua pipiku, namun aku menahan diri, menegang. Dia seakan mengerti dan tersenyum tipis lalu duduk.

“Maaf, aku nggak bisa lama-lama disini,” aku langsung ke tujuan, tidak ada basa-basi, aku perlu memadamkan api ini segera. Aku melirik satu gelas cappuccino yang sudah hampir habis, sepertinya dia sudah menunggu lama dan siap untuk gelas kedua.

“Iya, kamu bisa meninggalkan aku, kok. Cappuccino disini terkenal enak sekali, kamu harus coba,” katanya, mencoba mencairkan suasana.

“Oke, kapan-kapan aja. Terima kasih,” jawabku, dingin.

“Furan mana?”

Aku hampir saja mau menamparnya ketika dia menanyakan calon suamiku, tapi aku menahannya. Aku sudah menang, harusnya reaksiku tidak terlalu berlebihan.

“Tidak bisa kesini, aku sendiri.”

“Oh”

Dia sudah memesan gelas keduanya, dan aku harus segera pergi.

Aku menggeser sebuah benda ke arahnya, tanganku bahkan tidak ingin bersentuhan dengannya.

“Wow, ini undanganmu? Lucu banget, pasti konsepnya dari kamu, ya?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku, siapa yang tidak terkesan dengan undangan tersebut, seperti surat dalam botol kecil, siapapun akan memujinya. Aku mencoba melunak.

“Ada beberapa yang aku hanya kirim undangannya via media sosial, yang aku kirim kayak gini cuma yang udah deket aja,”

“Jadi, aku terhitung dekat, ya?”

Deg

Aku salah tingkah. Salah tingkah karena dia salah tangkap.

Bukan itu maksudnya Bodoh, ini bukti otentik kalau aku yang menang. Aku yang akan  menikah dengannya, bukan kamu.

***

“Kamu datang, kan?”

Aku membutuhkan jawaban dari bibirnya langsung. Dia mengangguk semangat.

“Pasti,”

Aku memalingkan wajahku ke arah jalanan, aku sebenarnya tidak melihat ke luar, aku memperhatikan pantulan wajahnya, seberkas rasa kecewa  terlihat saat dia pikir aku sedang tidak melihatnya. Aku kembali tersenyum, senang.

“Oke, aku pergi dulu, ya,” aku pamit pulang.

“Zeva,” dia memanggilku saat aku beranjak, suaranya tercekat.

“Ya?”

“Aku senang kamu sudah menyembuhkannya,”

“Semua berkat kamu, yang juga berkorban untuk pergi dari kehidupannya,”
Sebenarnya ada bagian dari hatiku yang memberontak ketika aku harus melakukan ini, aku tidak perlu membalas dendam dengan cara seperti ini, melihat rasa sedihnya langsung.

Kali ini aku menyentuh pundaknya pelan, baru pertama kali aku menyentuhnya lagi dengan lembut, setelah beberapa tahun lalu aku selalu memukulnya, meninjunya.

Dia, mantan Furan, tapi aku yang akan menikahinya, karena aku sudah menyembuhkan Furan.

“Zevana, salam ya  untuk lelakimu,”

Aku tersenyum ke lelaki berbadan tegap dan berjambang halus di depanku dan menggeleng halus , “Tidak lagi, Tio,”

2 Comments Add yours

  1. nyapurnama says:

    suka banget deh ini x))))

    1. Terima kasih
      Sering-sering kunjung ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s