Ditakdirkan Bersama

Malam itu, aku hendak mengobrol sama denganNya.

Tuhan, kalau memang kataMu aku ditakdirkan bersama, mengapa kita belum juga menyatu dalam satu ikatan?

Aku sudah menunggunya terlalu lama.

 

Sampai sejauh mana kau menunggunya?

 

Entah,sudah lama. Sangat.

 

Kalian memang ditakdirkan  bersama. Kamu dengan seorang pria yang akan menjadi imammu dan memuliakanmu. Dia, akan bersama wanita yang melengkapi tulang rusuknya. Tapi, bukan kalian yang saling melengkapi. Bukan.

 

Terkesiap, akan adegan monolog tadi.  Mungkin kalau aku tadi benar-benar berbincang dengan Tuhan, bukan ini jawabannya. Ini adalah jawaban hasil dari ketakutanku. Entahlah, mungkin memang kita tidak ditakdirkan bersama, seperti monologku tadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s