Chocomint Frappuccino

“Chocomint Frappuccino, Kakak Alena!!”

Seorang gadis manis berperawakan mungil, mengenakan dress warna nude yang senada dengan warna kulitnya mendatangi meja kasir.

“Ini, Kak. Selamat menikmati.” Dengan ramahnya Dilo, temanku yang bertugas sebagai kasir tersenyum kepada gadis tersebut. Manis senyumnya membuat aku ingin memilikinya.

Alena, nama gadis tersebut menuju ke lantai atas, aku melihatnya datang sendiri. Sepertinya tidak akan ada yang menyusulnya, kalau kebiasaan yang lama masih dia lakukan. Datang sendiri, berjam-jam, dan pulang dengan senyumnya saat kita semua mengucapkan terima kasih.

Dia harus tersenyum padaku. Alena.

***

30 menit kemudian..

“Chocomint Frappuccino, Kakak Alena!!”

Seorang gadis manis berperawakan mungil, mengenakan dress warna nude yang senada dengan warna kulitnya mendatangi meja kasir.

“Tadi.. manggil nama saya?” Gadis itu memandangku heran, saat itu kasir sedang tidak ada di tempat, aku sebagai barista menggantikan posisinya dulu.

“Iya, Kakak order minuman yang sama, kan?”

“Tidak, saya tidak order apa-apa,” gadis tersebut memiringkan kepalanya dan menatapku heran. Manis sekali.

“Oh gitu, ya. Tapi sudah dibuat minumannya, Kak.”

“Sebenarnya saya belum order lagi, tapi nggak apa-apa, yang ini saya bayar saja,” dia mengeluarkan dompetnya, aku malah merasa tidak enak.

“Eh Kak, ngga apa-apa? Ini bisa kita cancel kok kalo Kakak nggak pesan.”

Gadis tersebut menggeleng pelan, dan tersenyum, “nggak apa-apa, minum saya memang habis, kok.”

“Terima kasih, ya.” Gadis tersebut mengucapkan duluan sebelum aku, lalu kembali ke atas. Non-smoking room, di bawah AC, sehingga udara dingin AC malah tidak mengenainya. Dan selalu disitu tempatnya.

***

1 jam kemudian..

“Chocomint Frappuccino, Kakak Alena!!”

Seorang gadis manis berperawakan mungil, mengenakan dress warna nude yang senada dengan warna kulitnya mendatangi meja kasir. Kali ini ekspresi wajahnya bingung.

“Mas, saya tidak order apa-apa lagi,” gadis itu langsung membuka percakapan. Kali ini, aku yang kebingungan. Kasir yang harusnya bertugas belum datang juga.

“Tapi Kak..”

“Saya tidak mau bayar lagi karena saya sudah tidak mau minum lagi,” gurat kesalnya mulai terbaca dari wajahnya.

“Maaf ya Kak, ini..” Aku mengambil minuman yang terlanjur dibuat tersebut, lalu terburu mengecek kembali list pesanan yang berada di monitor.

“Ternyata bukan Alena, Kak. Aneta. Maaf sekali ya, Kak. .” Aku malu sekali, aku memang sepertinya tidak bakat menjadi kasir. Untung tempat ini masih sepi pengunjung, sehingga kecerobohanku tidak mengundang pengunjung yang melihatnya protes atau berkomentar.

‘Lagian barista disuruh jadi kasir,’ keluhku.

“Nggak apa-apa, kok. Jangan diulangi, ya. Kembung tau minum tiga gelas,” wajah kesalnya sudah reda, digantikan oleh tawanya yang renyah. Lalu dia kembali ke atas, spot kesukaannya setiap dia berkunjung kesini.

Dilo, temanku yang seharusnya menjadi kasir saat itu, hanya tertawa geli di ruangan karyawan yang pintunya sengaja dibiarkan terbuka agar melihat kelakuanku tadi.

“Bisa aje modus lo, Ndi.” Gelak tawanya tertahan saat ada pengunjung yang mulai order tetapi aku yang harus melayaninya.

Aku diam saja, menahan senang. Mengenang kembali senyum gadis tersebut, Alena.

Memang minuman kedua dan ketiganya bukan dari siapapun, aku yang membuat dia harus turun kembali dan mendatangiku.

Agar aku bisa melihat senyumnya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s