Doa Salah Tujuan

Image

 

Tertidur dengan kaki bersila dan kepala yang hampir sejajar dengan punggungnya, menyentuh lantai. Hanya orang-orang yang mempunyai tingkat elastisitas yang tinggi yang mampu melakukan pose tersebut, dalam keadaan tertidur pula.

“Heeeei banguuun, kerjaa!!!” Aku mengguncang-guncangkan punggungnya, membuat gangguan yang pasti membuat dia mengernyitkan mata.

Dengan mata mengantuk dia mengangkat badannya, mukenanya masih dikenakan.

“Aku tidur berapa lama?” Rasa, menguap lebar sekali sambil sesekali mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Lima belas menit, mungkin,” aku jawab sekenanya, tapi memang kira-kira seperempat jam dia tertidur di mushalla kecil ini.

“Hem.. masih dengan doa yang sama?”

Rasa mengangguk dengan semangat, “pastinya!!”

Aku menarik nafas panjang, menatapnya tanpa kata, namun dapat diartikan oleh Rasa, ‘masih saja’

“Ya.. mau gimana, aku masih penasaran,” tawanya terkikik.

Tapi aku tahu, seberkas harapan masih terlihat jelas di mata Rasa. Rasa yang tergila-gila oleh seseorang yang baru kenal sekilas hanya dari senyumnya, hanya dari balas-balasan tatapan yang berlangsung sebentar tapi lebih dari dua detik. Yah, aku pernah membaca, seseorang bisa merasa ia sedang diperhatikan dengan tatapan yang lebih dari dua detik. Sepertinya terlalu sebentar, namun aku juga pernah merasakan mencoba menatap seseorang yang aku suka, aku lebih memilih untuk tidak menatapnya lama-lama., jadi salah tingkah.

Aku kembali teringat oleh lelaki tersebut, lelaki tinggi dan berparas manis dengan kacamata bingkai tebal yang tidak membuat lelaki tersebut terlihat cupu, yang membuat Rasa penasaran, membuat Rasa kembali semangat ke kantor, seperti murid SMP yang semangat ke sekolah karena akan bertemu kakak kelasnya yang cakep. Iya, seperti itulah kelakuan Rasa selama tiga bulan ini.

”Sudah, nggak usah,”

“Ih, nggak mau,” kilahnya.

“Doanya ganti aja,” aku masih ngoyo membujuk.

“Apa?”

“Ya.. semoga pernikahan kamu dilancarkan, bulan depan, kan?”

Aku menoleh ke arah Rasa, yang sudah kembali ke posisi semula, menunduk dengan kaki bersila mencium sajadah, namun aku mendengar sengguknya, Rasa menangis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s