Sekelebat Maaf untuk Lima Tahun

Cerpen ini dikirimkan untuk kompetisi Cerita Cinta Kota @_PlotPoint

 

 

Lima tahun lalu, tatapan mata gadis itu tidak lebih dari tatapan kesal dan seakan tidak pernah akan memaafkan apa yang Dastan lakukan saat itu.

Dan sekarang..

 

***

Festival Cisadane 2010, hari kedua

Suasana festival siang yang terik masih terlihat ramai, padahal saat itu hari kerja dan anak sekolah belum libur. Dastan merapatkan lagi hoodie merah yang sudah dia kenakan dari tadi pagi, sambil tetap mencoba berjalan sepanjang trotoar dengan santai, berharap tidak ada petugas atau panitia atau siapapun yang memergokinya.

Dastan bosan kembali ke sekolah lagi, dan memutuskan untuk membolos dua pelajaran berikutnya.

Masih jam 11, endusnya kesal. Menyesal telah pergi tanpa mengajak kedua sahabatnya, tapi merasa geli sendiri saat membayangkan kedua sahabatnya bosan dengan empat jam non-stop mata pelajaran Kimia yang selalu identik dengan pelajaran nina-bobo tersebut.

“Saya harus ke apotek, Bu. Penting, maag saya kambuh, obatnya nggak ada di PMR,” mohon Dastan ke Bu Sina, yang bertugas menjadi guru piket.

Bu Sina menatap Dastan lamat-lamat, mungkin berpikir atau menimbang keputusan, mengijinkan murid keluar setelah jam istirahat merupakan hak istimewa kalau murid tersebut memang sedang mempunyai keperluan terdesak, tapi obat tersebut sebenarnya bisa minta dicarikan oleh Pak Satpam atau siapapun tapi..

“Kamu isi dulu kertasnya, jangan telat datang, ya.” Akhirnya secarik kertas diserahkan ke Dastan untuk diisi. Diam-diam Dastan menuliskan jam kembalinya adalah jam 14, dan beruntungnya tidak ada double check atas apa yang ditulis Dastan tadi, Bu Sina benar-benar percaya terhadapnya, Dastan yang tidak pernah membolos, Ketua Pelaksana Latihan Dasar Kepemimpinan tahun ini, pemegang ranking 10 besar dari pertama masuk, dan sederet prestasi lainnya. Tapi, saat ini Dastan ingin mengecap rasanya kebebasan, melanggar aturan, dia sedang muak berlama-lama di lingkungan tersebut. Terlalu banyak rutinitas yang berputar-putar, kembali ke asal, atau bergerak stagnan.

Dan sekarang di sinilah Dastan, sendirian. Mencoba menikmati kesendiriannya, mungkin untuk yang pertama kali.

***

Walau terik namun angin berhembus dengan sejuk, terlebih lagi Kali Cisadane yang sejak beberapa tahun lalu telah berubah menjadi bersih dan sama sekali tidak tercium bau amis atau bau apapun seperti kebanyakan kali yang berada di kota-kota besar. Kawasan Kali Cisadane, terutama di belakang Plaza Robinson Tangerang, telah berubah, jalur pejalan kaki yang lebar, taman-taman, dan tempat duduk yang banyak, juga pepohonan yang sengaja ditumbuhkan di sekitar pedestrian dan dibiarkan tumbuh rindang, membuat nyaman dan sejuk.

 

Dastan menumpu tangannya ke pegangan besi menghadap kali, beberapa Pe’cun atau Perahu Naga sudah terparkir di seberang kali. Mungkin beberapa jam lagi lomba Pe’cun akan diadakan. Lomba Pe’cun sudah menjadi tradisi selama beberapa puluh tahun silam. Satu lagi, tambahan warisan kekayaan budaya bangsa Indonesia dari Tangerang.

Mata Dastan menatap kagum apa yang di depan matanya, kali yang tidak kotor, angin sejuk walau siang terik, beberapa orang yang sedang mengecek perahu mereka, mempersiapkan dengan baik sebelum perlombaan. Dan Dastan berpikir apa ia mampu dengan dayungnya mengikuti Lomba Perahu Naga tersebut, mendayung dengan keras mengayuh air yang terasa lebih berat di bawah dayungnya, dan merayakan setiap kemenangan atau kepuasan, walau tidak menang dengan menepukkan ujung dayungnya ke permukaan air. Menimbulkan bunyi ‘Cetak!!’ yang sangat keras. Dastan teringat lagi waktu dia masih kelas X, saat mendapat pelatihan Water Rescue, mengeluarkan bunyi ‘tasss’ yang pelan dari ujung dayungnya sudah membuatnya senang.

 

Hembusan angin sejuk ke sekian kali memunculkan pikiran yang sedang berkecamuk di pikiran Dastan. Mempertanyakan mengapa dirinya sedang ingin sendiri? Dastan yang ekstrovert, yang tidak pernah mau makan sendiri, yang tidak bisa tidak menyapa orang asing duluan, lebih memilih diam. Beban organisasi  yang sedang ia alami kah? Atau tuntutan prestasi yang harus dipertahankan?

“Kurang satu, belum punya pacar!!” Rika, sahabatnya, spontan mengatakan itu beberapa hari yang lalu saat Dastan mencoba membuka diri untuk mengatakan apa yang dia alami. Tapi setelah celetukan sahabatnya itu, Dastan bersumpah tidak akan mau mencoba bercerita serius atau meminta pendapat lagi terhadap sahabatnya yang tidak pernah serius tersebut.

 

Tidak terasa waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, tidak perlu melihat jam karena alarm dari dalam tubuhnya sudah memberitahu duluan. Perut Dastan bergemuruh minta diisi, padahal mulutnya sedang tidak ingin mengunyah.

 

Lalu, Rika,  sahabatnya menghubungi, dan tahu selanjutnya akan seperti apa.

“Dimana?”

“Kali Cisadane,” jawabnya malas-malasan, karena tidak perlu ada pertanyaan lanjutan setelah itu.

Klik

‘Dan kedua pengacau pun akan datang sebentar lagi.’ Dastan meneruskan langkah, sebisa mungkin ke tempat dimana kedua sahabatnya sulit menemukannya.

***

Es podeng.

Dastan menghampiri tukang es podeng yang berada rapi di deretan penjual makanan-makanan dan minuman di sekitar festival. Selain di Pasar Lama entah dimana lagi dia  bisa menemukan es podeng. Sebelum makan besar, Dastan memutuskan untuk membeli satu gelas besar es podeng. Dengan tambahan roti tawar juga di dasar gelas.

“Dua gelas lagi ya, Pak.” Suara lain datang, ikut memesan es podeng.

“Satu aja, Pak, yang ini saja. Yang itu beda lagi,” timpal Dastan.

“Iya Pak, beda, tapi yang bayar tetap dia ya, Pak.” Satu suara di belakang Dastan terkikik geli, satu lagi pasti sedang menahan tawanya setelah mengucapkan kata tersebut.

Dastan membalikkan badan, jengkel. Biasanya memang Dastan yang tidak pernah mau mengikuti kegiatan bolos-membolos mereka yang sudah mereka lakukan setidaknya seminggu sekali, itu masih mending, waktu kelas X mereka berdua hampir dikeluarkan karena membolos beberapa pelajaran khusus hampir setiap hari.

Rika dan Nafsah. Kedua orang aneh yang malah menjadi sahabatnya, yin dan yang,  hitam dan putih, penyeimbang kehidupan monoton  Dastan.

Satu perempuan tersebut memberikan seringai lebar, kemenangan. Satu lelaki lainnya tersenyum tipis, dengan artinya sama, kemenangan.

“Pertama kali gue bolos, dan harusnya gue sendirian.”

“Tapi emang hari ini rutinitas kita bolos, jadi yang ikut-ikutan itu elo,” Rika tidak mau kalah, tangannya sigap mengambil es podeng yang sudah jadi dan mencari tempat duduk yang terlindung dari sinar matahari.

“Izinnya apalagi tadi?” Sebenarnya sampai pertanyaan itu selesai dilontarkan, Dastan tahu ia salah bertanya. Harusnya pertanyaan itu tidak perlu diungkapkan kepada dua jagoan cabut tersebut. Seperti bertanya apakah Dewa Mars pandai  berperang? Yaa semuanya tahu jawabannya.

Nafsah mengangkat gelas es podengnya seakan itu gelas wine, memiringkan kepalanya dengan rasa hormat, “you do know the answer, Your Majesty.

 

Tanpa suara, tanpa kebawelan Rika, mereka menikmati setiap suap es podeng tersebut. Sayup-sayup dari panggung utama mulai terdengar musik gambang kromong, yang pasti mengiring para penari menampilkan Tari Cokek.

 

“Gue mau ke stan Komunitas Anak Langit deh ntar,” Rika melempar pandangannya ke arah stan yang berjejer, isinya bisa jualan barang-barang, makanan, stan sponsor, stan kampus, sampai komunitas-komunitas. Lalu sekilas Rika tersenyum simpul sambil menyuapkan lagi es podengnya. Dastan dan Nafsah mengerti, Rika ingin melepas rindunya terhadap adik didiknya di Rumah Belajar Komunitas Anak Langit, kegiatan yang saat ini Rika tinggalkan dulu karena kesibukannya di sekolah. Memang di antara ketiganya, Rika yang mempunyai jiwa sosial paling tinggi.

 

“Tenang Rik, kita kesanalah pasti, masa’ balik lagi ke sekolah?” Hibur Nafsah yang berhasil mengubah raut wajah Rika menjadi ceria lagi.

“Ah gampang banget sih bikin elo seneng, Rik!” Dastan menahan sakit saat Rika spontan sengaja menginjak kakinya.

“Yuk ah, jalan. Bayar ya, Tan.” Rika berlari kecil ke arah stan tersebut. Seperti biasa, urutan Rika adalah datang ke stan yang tidak menarik – tidak terlalu menarik – cukup menarik – menarik – menarik sekali. Tapi saat ini Rika tidak dapat membendung rasa rindunya, dia memutuskan untuk melakukan hal yang sebaliknya.

 

Tapi Dastan tidak mengikuti Rika, dia memberikan waktu untuk Rika melepaskan rindu yang sudah lama ditahan, dan pasti akan banyak luapan emosi yang terjadi saat Rika menemui adik didiknya. Dastan sedang tidak ingin melihat banyak luapan emosi. Karena luapan emosi tersebut sudah dia rasa sejak lama dan tidak dapat dicurahkan ke siapapun, bahkan Nafsah dan Rika.

***

“Ada yang kosong, ya?” Nafsah berdiri di sampingnya, yang sudah berdiri di pinggir kali, mengambil tempat yang pijakannya cukup dekat dengan permukaan kali.

“Dan sialnya gue nggak  tau itu apa,” dia mulai meluncurkan batu kerikil pertamanya, hanya membuat batu kecil itu melompat dua kali sebelum tenggelam ke dasar kali.

“Gue pernah ngerasa gitu,”

“Kapan?”

“SMP”

Dastan tertawa, menimbulkan gurat heran di wajah Nafsah.

“Nggak apa-apa, menurut gue terlalu dini kalau saat lo lagi puber-pubernya, eksplorasi diri, elo sudah merasa kosong dengan perubahan lo.”

“Tapi orangtua gue cerai, Tan.”

Tenggorokan Dastan tercekat, lalu diam. Nafsah mengangguk pelan, memaklumi sahabatnya, lalu ikut melemparkan kerikilnya dan mampu membuat kerikil tersebut meluncur di permukaan air sebanyak empat kali.

“Gue menang,”

Dastan menggelengkan kepalanya, “belum. Tadi baru pemanasan.”

Entah kenapa, Dastan menjadi lupa akan rasa lapar yang sempat melilit lambungnya tadi.

“Rika nggak apa-apa ditinggal sendirian?”

“Dia malah akan ngusir kita kalau kita berdua terlalu dekat dengan Rika, Tan”

“Yup, bener, dan lihat ini..” Dastan memasang kuda-kuda sebelum melemparkan kerikilnya, tangan kanannya diayun ke belakang dengan cepat dan tangkas, namun kerikil tersebut tidak akan pernah dia lemparkan ke permukaan kali tersebut. Karena tangan Dastan yang panjang, menghentak dari depan ke belakang mengenai seseorang yang sedang lewat tepat di ulu hati, membuatnya limbung ke belakang dan hampir terjatuh dengan tulang ekor mendarat ke tanah duluan, kalau Nafsah tidak menahannya duluan.

“Nggak punya kendali atas tubuhnya sendiri, mencelakakan orang lain,” gadis tersebut seakan berbicara sendiri, bukan marah-marah ke Dastan. Tapi raut mukanya menahan sakit, nampak jelas di mata Dastan.

“Ma..maaf..” Dastan mendatangi gadis tersebut yang lari dengan langkah pincang, menjauhi diri dari Dastan.

“Naf, tangan gue tadi..”

“kena di ulu hati, Tan. Sumpah, kenceng banget.”

Dastan merasakan ngilu di sekujur tubuhnya, dia pernah merasakan seseorang meninju ulu hatinya saat pertandingan karate dan berhasil membuat dia sesak nafas selama sepuluh menit. Rasa bersalah menyergapnya dalam jumlah yang besar, menyelimutinya.

Gadis tersebut berlari mendekati tong sampah, dan seperti berusaha memuntahkan sesuatu. Wajah Dastan pucat, takut terjadi apa-apa dengan gadis itu.

“Maaf.. maaf banget, gue ngga bermaksud..”

Gadis tersebut memberikan isyarat untuk berhenti, “gue nggak kenapa-napa.”

Terpatri di ingatan Dastan apa yang orangtua katakan kepadanya, jika bersalah, minta maaflah, sampai orang tersebut jelas memaafkanmu, berkata langsung bahwa ia memaafkanmu,kalau belum terucap kata tersebut, kejar sampai kau mendapatkannya.

“Maafin gue.. gue bener-bener nggak sengaja,”

“Gue baik-baik aja. Oke?” Tatapan mata gadis tersebut menghujam tajam ke arah mata Dastan, jelas tampak rasa kesal dan marah di matanya.

“Tapi..”

Lagi, gadis tersebut memberi isyarat Dastan untuk berhenti, lalu meninggalkannya. Dastan benar-benar gugup sekarang, gadis itu dalam keadaan sakit tepat di ulu hati, dan tidak ada kata dia memang memaafkan, dan sekarang meninggalkan Dastan.

Dastan yang visioner, suka melihat jauh ke depan, merangkai apa yang ia perbuat saat ini akan menimbulkan dampak apa ke depannya, di bayangannya gadis itu akan terkulai lemah, kesakitan, sesak nafas, bahkan lebih buruk lagi. Dastan pernah mendengar ada yang sampai meninggal saat suatu benda menabrak keras ulu hati orang tersebut. Dan Dastan takut hal yang buruk akan terjadi pada gadis tersebut. Teringat lagi gadis bermata cokelat tersebut yang menahan marah, malah semakin membuat Dastan lemas.

“Gue dalam masalah..”

***

Tidak ada yang salah dengan Dastan. Tapi mungkin sifatnya yang termasuk sensitif, atau bisa dibilang sportif. Nafsah kenal baik sifat dominan dari sahabatnya tersebut, dibalik sifat tegas dan solidaritasnya yang tinggi.Sahabatnya tidak segan meminta maaf kepada kawan, bahkan lawan bila dia memang berbuat kesalahan. Di setiap pertandingan maupun kompetisi, hal terakhir yang terpenting yang akan dia lakukan saat kalah adalah melangkahkan kakinya pertama ke arah lawan dan memberikan selamat. Bila Dastan yang menang dia menganggukkan kepala, lalu tersenyum, tidak perlu ada sorak sorai kemenangan atau ucapan selamat dari lawannya. Hal itu yang membuat Dastan disegani baik kawan maupun lawan, dan terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya dan Rika.

“Naf, Dastan mana?” Rika menghampiri Nafsah, Rona pipinya memerah , tanda bahwa Rika sangat menikmati silaturahmi singkat yang dirindukan dari dulu.

“Ka, kalau lo disakiti secara fisik sama cowo, ngga sengaja, gimana?” Nafsah bertanya sambil berjinjit mencari hoodie merah Dastan, tidak terlihat dari tempatnya berdiri.

“Maksudnya?” Rika tidak paham, belum tahu apa yang terjadi.

“Kalau elo nggak sengaja kepukul sama cowok yang nggak elo kenal,gimana? Sampai kesakitan sekali. Dastan baru menyakiti seseorang,” lanjutnya.

Rika terdiam, seakan membayangkan kalau perempuan tersebut Rika dan yang memukulnya adalah Dastan.

***

Gue pasti akan maafin dia,batin Rika.

Pasti, mengingat sifat loyal dan setia dari sahabatnya, kalau memang tidak sengaja, pasti akan dia maafkan. Dengan cepat Rika menghapus bayangannya yang terlalu subyektif, dilihat dari kacamata Rika yang sudah mengenal Dastan lama.

Kalau gue nggak kenal Dastan, pikirnya.

Pasti Rika akan tetap memaafkan juga, Rika tahu betul bagaimana Dastan akan meminta maaf jika Dastan memang melakukan kesalahan, sampai ada kata Rika memang memaafkannya.

“Pasti belum ada kata maaf dari orang tersebut,”

“Mungkin.”

“Perempuannya mungkin keras,” Rika mencoba membayangkan reaksi perempuan tersebut saat terkena pukulan Dastan.

“Dan sifat Dastan seperti itu,” lanjut Nafsah.

“Karena saat seorang perempuan terluka secara fisik, yang pertama merasa sakit itu hatinya, Naf.”

***

Naya, gadis yang tidak sengaja terpukul oleh lelaki yang mungkin sebaya dengannya, berlari kencang ke dalam Plaza Robinson. Malu, wajahnya memerah, itu yang pertama kali ia rasakan saat terjatuh, karena roknya tersingkap sedikit sampai paha. Naya menggelengkan kepalanya lagi, masih malu akan kejadian tadi.

Bukan sakitnya, malunya!! Kata itu berulang-ulang datang ke pikirannya.

Naya tahu lelaki tersebut pasti akan mengikutinya, tapi mungkin tidak akan berpikir sampai masuk ke mall ini. Naya memutuskan untuk masuk ke Mc Donalds di dekat gerbang utama, dan membeli es krim, menenangkan diri.

Naya memegang lagi ulu hatinya, nyeri, tapi tidak akan separah yang pernah dia rasakan dulu saat turun di pertandingan. Kesal, karena tidak tahu apa-apa Naya terkena pukulan dari orang yang sama sekali tidak ia kenal, ingin sekali membalasnya.

“Hhhh…”

Tidak perlu ada balas dendam, tidak pernah diajarkan oleh siapapun untuk membalas memukul, tinggal menunggu waktu bagi Naya agar bisa memaafkan orang tersebut.

***

“Nggak ketemu, ya?” Rika menghampiri Dastan yang duduk kelelahan. Lambungnya mulai terasa perih lagi, sepertinya sudah jam dua lebih dan perutnya belum terisi nasi sama sekali.

Dastan tidak menjawab, yang malah menegaskan jawaban yang sesungguhnya.

“Besok sampai hari terakhir festival ini, gue akan datang, cari dia,” kata Dastan tiba-tiba.

“Kemungkinannya kecil ya Naf?” Tambahnya.

“Nggak apa-apa, kita cari aja,” Rika merangkul pundak sahabatnya, bantuan sahabatnya membuat Dastan jauh lebih tenang.

Dastan memikirkan lagi gadis itu, Dastan pernah menemuinya, tapi tidak tahu dimana. Semuanya ingatannya seperti maju-mundur, datang sekelebat, hilang lagi, muncul kembali tapi tidak dapat mencapai ingatan siapa dan setidaknya dimana dia pernah menemui gadis tersebut. Hal itu lagi-lagi semakin membebani pikiran Dastan.

“Seenggaknya ada yang bikin hati elo nggak kosong lagi kan, Tan?” ledek Nafsah, yang dibalas oleh tinju pelan dari Dastan ke lengannya.

“Iya, seenggaknya nggak bikin elo galau!!” Rika sudah menghindar duluan sebelum jadi korban Dastan.

 

Tapi mereka bertiga salah. Dastan salah.

Keesokan harinya, sampai hari terakhir Festival Cisadane, sosok gadis tersebut tidak ada.

Sampai tahun berikutnya.

Sampai dua tahun berikutnya.

Sampai Dastan pun melupakan kejadian itu, dan tidak pernah ke Festival Cisadane lagi di tahun berikutnya.

***

Festival Cisadane 2015, Sabtu.

 

Setelah makan di Roti Bakar 88 yang juga menawarkan view Kali Cisadane yang masih sama, masih sejuk, masih terawat, Dastan dan kedua sahabatnya menuju ke Festival Cisadane.

“Gue kangen kesini,” Rika duduk di belakang, menikmati jalanan Tangerang yang sudah tiga tahun tidak ia lewati karena kuliahnya di Malang.

“Nggak jauh beda tapi,” Nafsah ikut menimpali.

“Gue mau es podengnya aja, terus kita pulang.” Dastan ikut terlibat pembicaraan, namun matanya sibuk mencari parkiran yang kosong.

“Yaelah.. masa’ cuma karena es podeng aja sih?” Ekspresi Rika cemberut.

“Gue pulang naik angkot aja bisa, kok,” tambahnya.

“Ah elo Rik, udah lulus kuliah malah makin kekanak-kanakan, deh.” Nafsah berkata dengan santai, tapi jambakan kecil mendarat di kepalanya.

***

Es podeng adalah jajanan pertama yang sudah mereka datangi.

“Masih gue aja yang  bayarin, nih?” Dastan bersiap mengeluarkan dompetnya.

“Iyalah!!” Sahut mereka berdua berbarengan.

Sambil menatap ke arah Kali Cisadane, orang-orang lebih merapatkan diri ke arah jembatan, meneriakan Pe’cun unggulan mereka menang, memberi semangat. Lomba Pe’cun memang bukan diadakan antar masyarakat kota Tangerang saja, tapi se-Jabodetabek. Begitu meriahnya terlebih lomba tersebut diadakan pada hari terakhir.

Namun mata Dastan tertuju pada seseorang, tanpa sadar dia menatap gadis tersebut begitu lama.

“Baru sampe, matanya udah kemana-mana deh, Tan.” Rika melihat sahabatnya tertuju ke satu arah, dan menatapnya lama. Rika menyenggol Nafsah dan menunjuk ke arah tatapan tersebut. Gadis dengan kulit sawo matang eksotis dan tinggi, rambut panjang yang dicepol tinggi, mengenakan blus tanpa lengan kuning dan celana jins biru terang yang makin menunjukkan kaki jenjangnya. Bukan tidak mungkin gadis tersebut menjadi pusat perhatian, terlebih lagi ketika wajahnya menunjukkan gadis tersebut mempunyai darah Tiong-Hoa di dalamnya.Unik, eksotis. Pemandangan yang lalu juga ikut membius Nafsah.

“Ah elo malah ikutan!!” ucap Rika dengan muka kesal.

“Cantik banget, Rik..” ucapan Nafsah seakan dihipnotis oleh gadis tersebut.

“Gue mau kesana, ya?” Tanpa pertimbangan Dastan menghampiri ke arah gadis tersebut.

“Nekat,” dengus Rika.

“Hebat!!” Nafsah mengacungkan dua jempol ke arah sahabatnya tersebut.

Rika menyilangkan tangan di depan dadanya, menanti aksi sahabatnya yang ekstra ekstrovert itu. Tapi mereka berdua salah, Dastan menghampiri seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari gadis eksotis itu, sahabatnya tidak menghampiri gadis eksotis tersebut.

***

“Hai,”

Gadis tersebut menengok ke arah suara di belakangnya. Dan tersenyum, “Ya?”

Deg deg deg deg deg

‘Bola mata cokelat itu..’

Ada rasa yang berbeda saat menemuinya lagi, tatapannya jauh terlihat teduh dibandingkan saat terakhir kali gadis tersebut menatapnya. Tatapan itu mungkin akan berubah saat dia memperkenalkan diri sebagai seseorang yang melukainya lima tahun lalu. Mungkin tatapan itu akan kembali berubah menjadi kemarahan, kekesalan, tapi setidaknya Dastan akan mencoba mendapatkan maaf itu kembali. Walau sudah lima tahun lamanya.

“Nama saya Dastan,”

“Nama saya Naya,” gadis tersebut mengernyit, mungkin heran dengan seseorang yang datang langsung memperkenalkan diri, masih dengan senyumnya, gadis yang sudah berhijab tersebut ikut memperkenalkan diri. Tapi mereka tidak berjabat tangan, Dastan masih merasa gugup.

“Naya, saya Dastan. Mungkin kamu tidak ingat saya, tapi..”

“Saya masih ingat kamu,” ucapan Naya yang membuat Dastan terkejut, lalu Naya tertawa.

“Iya, saya masih ingat kamu. Kamu yang melukai saya, hmm.. waktu itu, beberapa tahun yang lalu. Ah, tapi sudahlah.”

“Kamu maafin saya?”

“Ya iyalah, cewe macam apa saya masih dendam sama hal seperti itu sampai sekarang pula?” Naya tertawa lagi, yang membuat Dastan salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali.

“Nggak tahu, saya merasa.. masih ada rasa bersalah yang besar, sampai saat ini,”

“Iya, maaf, saya yang salah. Saya meninggalkanmu selama itu dalam keadaan bersalah ternyata. Saya saat itu lari, karena.. malu.”

Dastan yang tertawa kali ini, baru tahu semua kebenaran ceritanya, Dastan yang sensitif berusaha mengejar Naya untuk minta maaf, namun Naya berlari karena malu akan kejadian tersebut walau maaf sudah dia berikan hari itu juga.

Dastan melirik ke arah dua sahabatnya yang ternyata masih mengamatinya, memberikan cengiran iseng ke mereka berdua yang pasti mengira dia mau berkenalan dengan gadis keturunan Tiong-Hoa yang eksotis tersebut. Bukan, gadis ini lebih eksotis menurutnya.

“Jadi, dimaafkan, ya?” Dastan kembali meminta penjelasan ke Naya, walau terdengar seperti memaksa.

“Iya, sempai* Dastan, Anda dimaafkan,” Naya mengulurkan tangan ke arah Dastan, tapi Dastan tidak menyambutnya, menatapnya heran.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Dastan, kamu selalu juara umum di pertandingan kumite* se-Nasional, siapa yang ngga kenal sama kamu?”

“Kamu..”

“Iya, saya karateka juga, kelas – 50 kg, aku memang bukan atlet yang bagus, jadi kamu tidak terlalu terkenal.”

“Ya ampun!” Iya, Dastan menjadi ingat, dia pernah menemuinya saat pertandingan Nasional tahun 2010 di Bandung, perguruan Naya yang sama tapi berbeda lokasi diperkenalkan oleh pelatihnya. Perkenalan dengan Naya begitu sekilas karena Dastan harus mempersiapkan pertandingan final satu jam lagi saat itu.

“Saya sudah tahu itu kamu saat kejadian itu, kok.”

Lagi, Dastan salah tingkah, “kamu mau maafin saya lagi nggak karena saya baru ingat hal itu sekarang?”

Naya mengangguk cepat, “pasti! Tapi sepertinya kamu nggak pernah latihan lagi, ya?”

“Hee.. iya, kangen sih.”

“Saya masih rajin melatih, bahkan di ranting kamu saat ini. Kalau mau, besok  kita ketemu lagi, jam delapan pagi. Oke?”

Dastan mengangguk pelan, ada lagi desir di hatinya, lega, mendapatkan maaf atas kelakuannya waktu sekolah lalu, bersyukur begitu sempitnya dunia dipertemukan dengan seseorang yang ternyata sama-sama atlet, dan tersenyum saat tahu masih ada waktu untuk mengenalnya lebih jauh.

“Saya pamit, ya. Saya tunggu kamu besok, kita adu kumite,” kata Naya diselingi senyum jahil. Gadis cantik tersebut berlalu, namun wajahnya sudah terpatri erat di pikiran Dastan.

“Jadi dia, Tan?” Nafsah mengamati gadis tersebut dari kejauhan.

“Iya, selama ini kita sudah bertemu sebelumnya.”

“Terusin, Tan,” Rika memberikan tinju kecil ke lengan kiri Dastan. Dastan tidak bisa berhenti tersenyum.

Lima tahun lalu, tatapan mata gadis itu tidak lebih dari tatapan kesal dan seakan tidak pernah akan memaafkan apa yang Dastan lakukan saat itu.

Dan sekarang..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*sempai = istilah bela diri karate, kakak seperguruan

*kumite = istilah bela diri karate, bertarung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s