Hati-hati Jangan Sampai Jatuh Cinta (part 1)

 

Begitulah pesan yang saya dapat dari rekan saya yang kampung halamannya bertempat di daerah yang akan saya kunjungi selama kira-kira satu minggu.Aceh, merupakan daerah yang benar-benar baru pertama kali saya kunjungi. Mencoba untuk menjaga hati, menuruti perkataan rekan saya untuk tidak jatuh cinta, ternyata saya salah.

 

Saya akan melakukan pekerjaan yang bertempat di daerah Meulaboh, ada pembangunan pelabuhan di sana dan saya dan satu anggota lagi ditugaskan untuk me-review pekerjaan yang sudah dilakukan disana selama beberapa bulan ini. Merupakan kali pertama bagi saya dalam jangka waktu lama ke lapangan, biasanya hanya satu-dua hari.

 

Saya menggunakan pesawat yang harus transit di Medan lalu ganti dengan pesawat yang lebih kecil di Bandara Polonia – Medan. Perjalanan Medan ke Meulaboh kira-kira hanya selama 50 menit saja. Dari sana saya mulai merasakan pesona Bumi Aceh, pemandangan  Bukit Barisan mulai menyejukkan mata, inilah salah satu alasan mengapa saat penerbangan di udara saya sangat berharap dan selalu memilih seat yang benar-benar sebelah kaca, tidak peduli menurut penelitian akan menimbulkan radiasi yang tidak bagus terhadap tubuh, well I don’t really care,  kan saya tidak terbang setiap saat, 😉

 

Setelah sampai di bandara Cut Nyak Dien di Nagan Raya, saya dijemput oleh kendaraan kantor menuju ke penginapan saya, saya dan tim menginap di Hotel Tiara yang berada di Jalan Teuku Umar, sekitar 30 menit perjalanan dari bandara. Saya menginap selama 5 haru di Meulaboh dan berkerja di site  yang bersebelahan dengan proyek PLTU yang sedang berjalan juga, saya bekerja di pembangunan port di Nagan Raya dengan view pantai yang cukup indah, sangat disayangkan kaki saya tidak dapat menjejak ke pasir-pasir tersebut karena tugas sana disana bukan berlibur, tapi kerja 😦

 Nagan Raya Beach

View pantai on-site cukup bagus, namun memang benar kata rekan saya, masih kalah dengan pantai di Banda Aceh, namun tetap saja, suara debur ombak dan udara yang terasa asin saat lidah mengecap memikat saya yang sebenarnya sudah lama tidak bermain di pantai karena kebanyakan ke dataran tinggi.

Tapi bukan berarti saya dan teman-teman saya bekerja terus-terusan seakan tidak menikmati liburan, di sana kami menyempatkan diri memanjakan perut kami dimulai dari istirahat siang dan malam hari. Tapi saya akui perburuan makanan memang paling seru pada malam hari, dan asupan makanan yang banyak dengan porsi banyak pun dimulai pada malam hari (menatap perut).

 

Untuk makan siang kami banyak mengunjungi tempat makan tidak jauh dari site, dengan rata-rata lauknya sama, ikan 😀

 

Untuk malamnya kami berkunjung ke beberapa tempat makan mie Aceh, tapi mie Aceh yang paling terkesan rasanya adalah Kuta Raja.

 Mie Kepiting Kuta Raja

 

 

Warkop Kuta Raja

Beberapa rekan yang sedang di Meulaboh dan kampungnya di Meulaboh merekomendasikan untuk mencicipi  mie Aceh yang khas bernama Mie Tangsi, namun Mie Kuta Raja cukup membuat saya puas, dengan menu yang saya pesan adalah Mie Kepiting Spesial. Sluruuup..

 

Kepiting yang masih segar dapat kita pilih sendiri, dibandingkan dengan kalau memesan yang mie dengan daging yang penyajiannya lebih cepat, Mie Kepiting spesial ini harus menunggu waktu yang cukup lama, tapi penantian pun tidak mengecewakan.

 

Mienya sesuai dengan harapan saya, tidak dengan porsi menggunung yang sebenarnya tidak bijak dikonsumsi saat jam Sembilan lama, porsi mie-nya sedikit, namun terlihat penuh karena kepitingnya yang menggunung, saya merasa mendapat kepiting paling banyak dibandingkan dua rekan saya yang juga memesan mie kepiting tersebut, karena potongan tubuhnya banyak sekali, saya sampai kewalahan menggunakan alat peremuknya itu, dan kedua tangan saya mulai aktif terlibat membuka dan menarik dagingnya.

 

Mienya enak, bumbunya pas, tidak membuat saya mual karena kentalnya, dan lagi, porsinya sedikit, tapi menurut saya pas. Kepitingnya? Waah, jangan ditanya, segar, lezat, penuh rasa walau tidak diberi bumbu macam-macam. Sempurna, saya suka sekali.

 

Malam terakhir di Meulaboh saya tutup dengan seplastik (satu plastiknya bisa untuk tiga gelas, anyway..) kopi susu yang lagi-lagi, sempurna.

Malam sebelumnya saya pernah memesan kopi susu dan diberikan kopi+susu kental manis hampir ¼ dari gelasnya, mungkin penjualnya tidak tega dengan seorang gadis yang seperti sedang mencoba belajar minum kopi, sehingga susunya banyak sekali. Saya tidak tahu ini kopi susu yang dibeli dimana, karena saya dibawakan oleh rekan saya yang baru kumpul-kumpul sama stafnya (iya saya tidak diajak, karena semuanya lelaki, mungkin segan kalau ada kehadiran saya satu-satunya perempuan disana), mungkin di warung kopi dekat Hotel Meuligo. Tapi sempurna, campuran kopi dan susunya pas, Subhanallah, ngga akan ada kopi instan yang menyamakan kopi susu ini. Nanti saya Tanya lagi dan akan di update dimana kopi yang enak ini.

 

Lima hari di Meulaboh sungguh menyenangkan, sayang saya tidak punya banyak waktu untuk berkunjung ke wisata alam, dan makam Teuku Umar yang katanya bertempat di Meulaboh. Karena hari Jumatnya saya akan melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh. (Bersambung..)

 

Captain Obvious i did warned you not to fall in love, didn't i @rayfarahsoraya ? :D

 

           

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s