Book Review: Love Atheism by Rhein Wijaya

love atheism

 

Judul                   : Love Atheism

Pengarang          : Rhein Wijaya

Penerbit               : nulisbuku (self publisher)

Desain Sampul  : Citra Dinanti

Tebal                     : 156 halaman

 

“Sha, apa menjadi love-atheism itu menyenangkan?”

“Menguntungkan lebih tepatnya, karena aku tak harus terikat oleh seorang lelaki. Tanpa ikatan pun, aku dan siapapun itu bisa tetap saling memiliki rasa. Aku pikir ini jalan terbaik saat aku tak bisa bertahan pada satu hati. Begitulah jika dilihat dari sisi lelaki itu.”

 

Alisha, seorang perempuan yang menganut satu paham yang mungkin dia ciptakan sendiri: Love-Atheism. Singkatnya, begitu skeptisnya Alisha terhadap cinta yang akan bertahan di satu hati dalam waktu yang lama. Love-atheism merupakan pandangannya yang menganggap bahwa cinta sejati itu tidak pernah ada.

‘Aku seorang perempuan baik-baik yang hanya saja sulit menjadi perempuan baik untuk seorang lelaki’

Alisha dengan mudahnya membidik seorang lelaki yang dia incar, Sena misalnya, atau Randy, atau siapapun yang dia anggap tidak akan mau menjalin hubungan yang serius. Alisha menikmati setiap hubungan yang berjalan singkat, jika bertahan lama pun, selalu ada banyak lelaki dibalik Alisha, yang siap menyambut Alisha, datang saat dibutuhkan, dan tetap menunggu saat Alisha menjauh.

Ava, sahabat Alisha, selalu berusaha menjodohkan sahabatnya  itu dengan lelaki yang mapan, ganteng, dan hal lainnya yang akan membuat perempuan mengangguk ketika ditawarkan jenis lelaki yang seperti ini, kecuali Alisha, saat lelaki ini ingin menjalin hubungan yang serius, dengan cepat Alisha akan menolaknya.

Alisha, sang penganut Love-Atheism. Cerita mengapa Alisha menganut paham ini tentu saja akarnya, salah satunya dikecewakan oleh Kai, lelaki yang sangat ia cintai setulus hati, yang menemani masa-masa sekolahnya saat itu. Sampai saatnya Kai menghilang dari hidupnya, menghilang tanpa ada kabar. Sejak itu, Alisha begitu sinis terhadap cinta.

Lalu dalam satu hari Alisha mengenal Abbie, lelaki pertama dalam beberapa tahun kegelapan dan kesinisannya akan cinta, muncul dan langsung membuat Alisha lengah akan paham yang dia ambil dahulu. Begitu kagumnya dengan Abbie, sehingga Alisha merasa harus mendapatkan Abbie, tentunya dengan cara biasa Alisha, sebagai Love-Atheism.

Lama hubungan Alisha dan Abbie berjalan, yang membuat Alisha yakin kalau inilah hubungan serius yang akan berujung manis, yang akan membuat Alisha merasakan jatuh cinta, bukan hanya kekaguman semu yang berujung perasaan yang hanya bertahan sementara.

Dan Gemma datang ke kehidupan Alisha, menawarkan segala perasaan yang timbuk-tenggelam namun menelusup dengan halus dan manis ke hati Alisha.

Apakah Alisha akan tetap mempertahankan dan memelihara hatinya? Yang selalu dia samakan dengan tanaman? Cinta, seperti tanaman, harus dirawat dengan baik.

Menjalani cinta yang sama, membuat jenuh. Menjalani banyak cinta, membuat lelah, Tapi tak menjalani cinta, membuat hampa. Mungkin sebab itulah selingkuh muncul sebagai penyeimbang kejenuhan, kesetiaan kekasih sebagai tempat lelahmu bersandar, dan kasih sayang alam semesta agar kau tak merasa sepi. Mungkin pula yang kubuthkan saat ini hanya ditemani alam semesta, bukan Abbie maupun Gemma.

Well, in my honest opinion, I think this novel is great. Jujur aja ini adalah novel metro-pop/chicklit yang mau saya baca. Saya menemukan novel ini tidak sengaja saat mau order di website nulisbuku.com. Pertama melihat ringkasan ceritanya, saya tertarik – kalau tidak mau dibilang tersindir. Love-Atheism merupakan istilah yang langsung menarik perhatian saya dan langsung menarik minat saya untuk menggunakannya sebagai paham saya, haha..

Banyak puisi atau kalimat analogi yang pas, Rhein menuliskannya dengan baik. Deskripsi perasaannya, semua cerita masa lalunya, sampai penjelasan saat si tokoh Alisha ini sedang merasakan jatuh cinta tapi tidak terlalu terkesan manis sekali.

 

Bagus, suka!!! Jempol, empat jempol buat Mbak Rhein Wijaya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s