Den White Hart Kongen

Aku hanya mendengarnya dalam kesunyian, saat itu, aku yakin dia sebenarnya hadir.

Embun menetes dari sudut daun yang mengarah ke tanah, dua-tiga tetes pada setiap daun terdiam, seakan menunggu, lalu seekor landak hutan muncul dari balik rerimbunan rumput yang tinggi, menjilati daun-daun yang sudah terlapisi embun yang menyegarkan dahaga hewan tersebut. Kabut tebal masih menyelimuti kastil Rootwirck di dataran Norwegia,menciptakan pesona keindahan yang misterius dari bangunan tersebut dari kejauhan. Tidak jauh dari sana, seorang Raja sedang menikmati hari-hari terakhirnya, menikmati apa yang selama ini terlewat dari pandangannya, melewati segala hal indah di sekelilingnya. Salah satu anak tertua setia mendampingi perjalanannya.

“Kali pertama saya di sini, dan ternyata kastil ini terlihat.. sangat megah,” Raja membuka percakapan, menatap tempat tinggalnya selama lebih dari 60 tahun dengan takjub.

“Bukan kali pertama saya menatap kastil ini, dan tetap terkagum-kagum, Ayah.” Pangeran Haavard, nama sang anak, dengan sabar menemani Ayahnya. Sang Raja masih kuat berjalan, tidak ada yang tahu bahwa sang Raja sedang dalam keadaan sakit parah. Senyumnya tetap tergurat di wajahnya, matanya masih memancarkan kebijaksanaan, suaranya masih tegas, berwibawa.

“Sudah lama Ayahmu ini tidak berburu, apakah ini jejak harimau?” Sang Raja menunduk, tangannya mengusap pelan tanah di dekat kakinya, memperlihatkan jejak kaki hewan yang masih basah.

Pangeran Haavard ikut menunduk, memegang tanah lembab yang tidak jauh dari kakinya, “ya, ini masih baru, Yah. Pasti belum jauh darisini.”

Sang Raja tertawa pelan, “beginilah kalau sudah berumur, keinginan untuk berburu masih ada, apalagi bersama kamu, Alethea, sayang Ayah sudah tidak kuat lagi.”

“Kalau kamu tahu hari ini hari terakhirmu hidup, apa yang akan kamu lakukan?” Sang Raja tiba-tiba membuka percakapan, Pangeran Haavard tidak merasa terkejut, akan ada waktunya pertanyaan tersebut dilimpahkan ke dirinya.

“Saya akan seperti Ayah, saya akan mengelilingi daerah ini, memperhatikan sesuatu yang selama ini kurang awas di mata saya, saya akan menikmati setiap udara yang saya hembuskan dan keluarkan, dan..”

“… saya akan meminta maaf kepada rakyat saya.”

Sama seperti yang sudah kau lakukan selama ini, Ayah. Pangeran tidak pernah berhenti mengagumi sosok ayahnya tersebut.

“Saat kamu tahu hari ini hari terakhirmu, semuanya terasa.. lebih jelas. Kamu merasa dapat mampu melihat lebih tajam, kamu mampu lebih peka merasakan, kamu mampu mencium aroma lebih kuat, bahkan aroma ketakutanmu sendiri, kamu semakin jelas mendengar, kamu semakin ingin lebih sedikit berbicara, karena kamu semakin bisa memilah – milah kata yang dapat menjerumuskanmu atau menolongmu nanti,”

“Hari ini hari terakhir Ayah, Ayah semakin tenang menghadapi setiap waktu yang berjalan, lucunya, waktu berputar malah semakin lambat. Bukan malah terasa semakin cepat,” lanjutnya, suaranya tercekat.

“Ayah, mari kita pulang. Kita makan pagi bersama,” sang Pangeran mengakhiri perjalanan subuh dengan sang Raja, karena semburat sinar mentari mulai muncul dari pegunungan  Vakre åser. Pangeran Havaard membiarkan Ayahnya menikmati pemandangan indah itu selama beberapa waktu.Mata sang Pangeran memejam, menikmati kehangatan matahari yang menyinari berurutan dari ujung kepala, lalu turun lembut hingga ujung kaki, menghangatkan badannya, menghangatkan relung hatinya.

“Mari, kita pulang.” Sang Raja mengajak anaknya untuk pulang.

Sang Pangeran berjalan di belakang Ayahnya, setiap langkahnya masih diiringi rasa kagum. Sang Raja yang bijak, yang selalu menganggap setiap hari adalah hari terakhir bagi dirinya, sehingga setiap hari selalu ada hal baik yang dia lakukan. Yang paling diingat oleh Sang Pangeran adalah sang Raja yang menyempatkan waktunya seharian untuk bercengkrama bersama rakyatnya, dan meminta maaf atas kesalahannya selama Raja memerintah negeri ini. Satu keinginan kecil yang akan dilakukan Sang Pangeran nanti, menjadi panutan bagi rakyatnya, dicintai, namun tetap rendah hati. Maka, Sang Raja selalu dijuluki : Den White Hart Kongen (Raja yang Baik Hati).stirling-castle-_-copyright-stirling-council

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s