Sayangnya Aku Sudah Terlanjur Jatuh Cinta (part 2)

Merupakan postingan lanjutan dari ini —> Hati-hati Jangan Sampai Jatuh Cinta (part 1)

“Apa yang mbak Farah pikirkan pertama kali saat harus ke Aceh?”

Excited, aku penasaran sama PLTU terapung, dan hal menakjubkan lainnya yang akan saya temui nanti di sini.”

“Bagaimana dengan GAM, konflik-konflik, bahkan tsunami?”

“Haha.. sama sekali ngga ada di pikiran aku, Pak. Aku menikmati perjalanan ini, sangat.”

Begitulah pertanyaan pertama dari orang yang mengantarkan saya dari Meulaboh ke Banda Aceh, saat tahu  bahwa hari itu merupakan kali pertama saya ke Aceh. Selanjutnya cerita beriringan saya dengar tentang ketakutan beberapa pendatang mengenai GAM yang masih berkeliaran di Aceh dan hal lainnya, namun tetap saya menikmati perjalanan Meulaboh – Banda Aceh yang katanya bisa memakan waktu 5-7 jam tersebut, dan perjalanan tersebut termasuk cepat, sejak dibangun Jalan Baru.

So, I started to remove my cell-phone and enjoy the journey

renbow

Disambut oleh dua pelangi di awal perjalanan ❤

Perjalanan sejauh sekitar 249 km terasa lancar, karena jalan yang masih sepi. Saya berangkat dari Meulaboh jam 6:30, matahari pun masih sedikit menampakkan sinarnya, seperti itulah bila sedang berada di Barat Indonesia, bahkan azan pun berkumandang baru sekitar jam 5:30. Suasana masih sepi, dan saya menikmati perjalanan dengan pemandangan laut di kiri saya. Mobil pun melaju sampai 100 km/jam dengan lancarnya.

Saya mungkin termasuk seseorang yang beruntung baru menempuh perjalanan ini saat jalan baru sudah selesai dibuat. Beberapa tahun lalu, saat belum lama pasca terjadinya tsunami, perjalanan Meulaboh – Banda Aceh ditempuh sampai seharian, karena akses jalan terputus, sehingga harus disambung dengan menggunakan getek (kapal feri) sebanyak dua kali.

Lalu saya teringat perkataan beberapa orang yang memang asli dari Aceh dan beberapa pendatang yang bekerja disana, agar jangan lupa berhenti di Geurutee (biasa dibaca Grute), tempat itu adalah view paling indah sepanjang jalur perjalanan ke arah Banda. Tidak sabar saya mau lihat seberapa indah Geurutee sampai banyak yang berpesan saya tidak boleh hanya numpang lewat saja, tapi harus berhenti di sana.

Adalagi hal unik yang saya temui saat perjalanan, dimana sapi dan kerbau dapat duduk sesantainya, jalan semalasnya, bahkan berhenti lama, jalur yang harusnya untuk mobil menjadi seperti untuk sapi dan kerbau. Di Lhok Geulumpang contohnya, dan beberapa daerah setelah itu, banyak sign yang mengharuskan kita harus hati-hati karena sapi dan kerbau suka lewat dalam rombongan yang banyak. Sesekali saya melihat sapi yang benar-benar berhenti di tengah jalan, benar-benar menghalangi sehingga harus beberapa kali membunyikan klakson. Saya juga bertanya kepada pengemudi bagaimana kalau kita tidak sengaja menabrak sapi-sapi ini, apakah pemiliknya akan tiba-tiba muncul. Katanya kalau mobil kita yang rusak, tidak akan ada yang mau mengakui kepemilikan rombongan sapi ini, tapi bila kita menabrak salah satu sapi sampai mati, pasti ada aja seseorang yang mendatangi kita untuk minta ganti rugi, entah benar pemiliknya atau bukan. Wallahualam..

CIMG7734

Jam sudah menunjukkan pukul 8:30, kami sudah sampai Calang. Kami memutuskan untuk membeli sarapan dahulu di warung pinggir jalan, sebelum akan melalui Pegunungan Geurutee, orang yang mengantarkan saya menyarankan agar makanannya dibungkus saja dan dimakan di Geurutee, karena itu tadi, pemandangannya yang akan memanjakan mata. Lalu nasi dan ikan tuna pun akan saya konsumsi di Puncak Geurutee nanti (hampir setiap hari saya mengonsumsi ikan, semoga saya lekas pintar,haha).

Sebelum menuju Geurutee, mata kita mulai dimanjakan dengan lautan biru kehijauan dengan pasir putih yang bersih, pantai tersebut kosong, seperti tidak ada penghuninya, dengan pohon cemara sebagai penahan gelombang yang menutupi dari beberapa meter bibir pantai. Ingin rasanya saya minta berhenti dan bermain dengan pasir dulu selama beberapa menit. Dari kejauhan saya melihat beberapa bangunan seperti struktur penampang jalan, jaraknya sekitar 20 meter dari bibir pantai, saat saya tanyakan itu bekas bangunan apa.

“Pak, kok itu ada semacam struktur jalan ya di tengah laut sana?”

“Iya Mbak, dulu itu jalur yang sebenarnya.”

Saya terkejut, tidak menyangka bahwa jalan yang saya lewati saat ini merupakan pengganti dari jalan yang ada berpuluh meter dari jalan saya sekarang. Sungguh saya tidak dapat membayangkan seganas apa lautan saat tsunami tersebut, yang membuat jalanan hancur, dan banyak sekali rumah bantuan yang terletak di pinggir laut, menggantikan rumah korban bencana tersebut, namun tidak pernah ditempati oleh penghuni lamanya. Kemungkinan besar karena trauma. Hati saya mencelos kalau ingat pemandangan struktur jalan tadi.

Sampai di Puncak Geurutee, kami disambut oleh bunyi serangga hutan yang saling bersahutan dan keheningan menyambut saya. Keheningan yang menenangkan, rasanya seperti saat sedang ingin menyendiri, mencari suatu tempat untuk melarikan diri, di sini kita akan mudah menemukannya tanpa harus sibuk mencari. Hawanya sangat sejuk, padahal saat itu sudah menunjukkan jam 10 lebih, pepohonan rindang di kanan-kiri jalan dan dibaliknya pemandangan laut yang biru kehijauan bagai zamrud menemani saya saat sang pengemudi mulai menurunkan giginya, dan mobil pun mulai melalui rute yang menanjak.

Di Geurutee, dengan mudahnya kami menemukan monyet-monyet liar yang berlompatan dari satu pohon ke pohon lain, atau sedang asyik makan bersama anak-anaknya. Di Geurutee kita dapat menemukan beberapa tempat makan yang berjejer dengan beberapa tempat duduk yang sengaja disusun mengarah ke lautan. Namun untuk parkir mobil memang agak susah di tempat ini, karena jalurnya benar-benar hanya untuk dua mobil saja, kalau menggunakan mobil kita bisa parkir di sebelah tebing, di dekat bangunan kayu tingkat dua yang bercat hijau.

geurutee

Geurutee, pemandangan indah yang menghipnotis di Bumi Aceh

 

Kami membuka bekal kami dari Calang di salah satu tempat makan, tentunya jangan lupa memesan beberapa makanan atau minuman agar tidak terkesan hanya nebeng makan saja. Saya langsung menduduki bangku yang menghadap ke arah lautan yang indah, dengan pulau yang tidak berpenghuni, pasir putih dari kejauhan, juga monyet-monyet yang penasaran memperhatikan saya dari jauh, tapi enggan untuk menghampiri saya. Beberapa kali saya menghirup nafas yang dalam, membiarkan oksigen yang masih murni merasuk ke dalam paru-paru, menenangkan. Beberapa lama saya terhipnotis oleh pemandangan yang berada di depan saya, sampai saya lupa harus segera menghabiskan sarapan saya.

Ada satu cerita dari warga sekitar yang memang satu mobil dengan saya, beberapa tahun lalu, saat masih ada GAM dan militer yang berkeliaran, sore hari sudah tidak ada lagi kendaraan yang berani lewat jalur ini, pun angkot tidak mau jalan kalau penumpangnya hanya sedikit. Terang saja, dari segi lokasi memang bisa dibilang rawan, kanan kiri hutan dengan pepohonan yang lebat dan tersusun rapat dan tidak ada penerangan pada jalannya. Karena sering terjadi perampokan atau penghentian kendaraan untuk diminta sejumlah uang. Beruntunglah seiring waktu berjalan, rasa aman sudah mulai dirasa oleh warga sekitar, sehingga saat ini mereka bebas melewati Geurutee baik pada pagi, maupun sore hari.

CIMG7736

 

CIMG7740

Monyet Geurutee

Setelah lebih dari 30 menit di tempat makan Geurutee, kami melanjutkan perjalanan yang tinggal 1-1.5 jam lagi. Saat menuruni gunung tersebut, terjadi kemacetan, karena pada arah sebaliknya terdapat batu sebesar mobil off-road yang berguling dari atas, beruntung sekali saat kejadian tidak ada mobil yang lewat, sehingga tidak mencelakakan siapa pun. Selain terhadap rombongan sapi dan kerbau, pengemudi pun harus awas terhadap bebatuan yang setiap waktu bisa saja longsor.

CIMG7751

Batu sebesar mobil

 

Jam 11:30 akhirnya saya sampai di tempat tujuan, yaitu Ajoen. Perjalanan lima jam yang benar-benar saya nikmati, ingin sekali saya kembali ke Geurutee hanya untuk merenung, ditemani teh hangat dan secarik kertas, bolpoin, lalu menuliskan keindahannya dalam kata-kata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s