3 Tahun (+2)

Reza membuka lagi salah satu blognya. Blog yang urung terbaca oleh siapa pun. Reza sengaja membuka blognya dari luar, tidak masuk ke akunnya, dirinya sedang ingin memposisikan dirinya sebagai pembaca, bagaimana jika ada orang yang tidak sengaja menemukan cerita ini dengan modal Google Search. Sebisa mungkin Reza tidak pernah menyantumkan tag pada setiap tulisannya, namun bila ada yang membacanya, Reza akan merasa baik-baik saja.

Kecuali jika dia yang membacanya

***

April 2011, Reza kembali membuka salah satu cerita yang saking panjangnya harus dia bagi menjadi dua. Matanya tajam menatap kembali layar tersebut, cerita tanpa gambar, yang menunjukan bahwa ada hal yang dapat membedakan dari cerita-cerita yang sudah dia tulis lebih dari lima tahun yang lalu, bahwa cerita ini “3 Tahun”, mempunya sensesi aneh saat menulisnya, bahkan saat membacanya kembali.

“Karna ternyata dicintai lebih bijak daripada mencintai, walau jujur,gue lebih milih dicintai orang yang gue yang dicintai,tapi waktu itu Tuhan ngga kasih gue pilihan itu,Tuhan cuma beri 2,tetap menunggu elo,atau membuka hati buat orang yang sudah sabar menunggu gue,yang ternyata ngga jauh dr gue,yang ngga pernah gue sadari sebelumnya.Gue akhirnya memilih untuk belajar,belajar buka hati untuk Alfi,dan itu keputusan yang nggak pernah gue sesali,sebuah keputusan yang bijak dibanding menunggu,menunggu elo”

Gadis tersebut menahan nafas saat membaca cerita tersebut, rasa sesak mulai menyusup ke dadanya, dan berhenti di kerongkongannya yang tercekat.

“Alfi..” bisiknya lirih, menyebut seseorang yang pernah hadir dalam cerita hidupnya, menaungi dirinya dalam kenyamanan, menjamin dirinya dengan kasih sayang yang enggan berhenti walau hanya beberapa menit, mengorbankan segalanya bahkan untuk diri sendiri agar dapat selalu menyenangkan Reza, Alfi yang selalu ada untuk Reza, dan Reza yang selalu belajar, belajar untuk menyeimbangkannya, namun tidak bisa, satu tahun, dua tahun, usaha terberatnya saat itu untuk belajar menyeimbangkan suatu hubungan, malah mematahkannya di tengah-tengah. Seperti pena yang macet, tidak digunakan untuk menulis, bukan karena isinya sudah habis, pena tersebut hanya perlu diperlakukan khusus sampai akhirnya dapat digunakan untuk menulis lagi, menghabiskan tintanya sampai tidak terpakai lagi. Namun Reza memilih untuk berhenti menggunakan tinta tersebut, tanpa harus menunggu segala sesuatunya akan berakhir indah. Mengakhiri semuanya dengan Alfi.

Rendi

Sudah dua tahun berselang sejak Reza memberikan bunga itu, dan mencurahkan semua perasaan yang sempat tertahan, enggan untuk dikatakan, semuanya jelas, saat itu.

Yang membuatnya menjadi tidak jelas karena setelah itu terjadi perasaannya tetap bertahan

***

Aku mengamatimu..

Reza menangguhkan jemarinya di atas tuts tuts kibor, bimbang untuk kembali bercerita, setelah lama tidak pernah ada cerita lagi tentangnya.

Aku mengamatimu dari jauh, setelah dua tahun berselang. Aku yang memberikanmu mawar itu, mawar putih, bukan merah.

Namun ternyata aku salah, aku harusnya memberikanmu mawar merah muda, karena ternyata mawar tersebut adalah mawar yang paling wangi di antara mawar lainnya.

Tapi aku yakin, mawar putih yang aku berikan padamu, akan menjadi mawar terakhir yang layu disbanding sepuluh mawar merah yang diberikan oleh banyak orang yang sedih akan kelulusanmu.

Dua tahun, aku mengamatimu, saja, dari sini.

Tidak ada usahaku untuk kembali menghubungimu, pun denganmu yang terlihat senang dengan kehidupan barumu di sana, menikmati pekerjaanmu, menikmati waktumu di lapangan, menjalankan rutinitas di lokasi pedalaman, aku mengamatimu, bahagia.

Bahagia tanpa harus banyak berinteraksi dengan siapa pun di linimasa

Bahagia tanpa harus mengeluh kehidupan yang lebih baik di Jakarta

Bahkan,

Bahagia dengannya

Bulir air mata pertamanya mengalir ke pipi Reza, iya, Reza mengamati dari semua media sosial yang memungkinkan dirinya masih dapat mengamatinya, semuanya. Sampai akhirnya mendapati satu sosok perempuan yang manis, yang Reza yakin dapat menjadi tulang rusuk Rendi yang hilang. Dengan cepat Reza mengalihkan kesedihannya, tidak ingin membiarkan ada airmata kedua yang terjatuh. Reza meraih ponsel di dekatnya, mengecek apapun yang bisa dia lihat atau dia baca, atau dia mainkan, apapun asal bisa sedikit menghapus serangan emosi yang menyerangnya tadi.

Beruntung, ada seseorang yang mengirimkan SMS ke ponselnya, Reza berharap akan menjadi teman pengalihannya barang sementara, muncul dari nomor yang tidak dia kenal namun tidak asing di ingatannya.

Ini masih nomor Reza? Randi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s