Mencuri Lirikan di Sudut Harmoni

Rabu, 6 Februari 2012, saat mimpi buruk penduduk Jakarta akhirnya datang lagi.

 

Tidak pernah berhenti aku mengeluh, namun aku simpan dalam hati saja. Karena aku tahu jika aku ikut mengeluh, energy jelek yang sudah terpancar dari ratusan penumpang bus Transjakarta hari ini akan sangat mempengaruhi aku, yang menjadikan aku semakin merasa manusia paling malang se-dunia.

Sepertinya aku harus melawannya dengan senyum, dan memutarbalikan semua mimpi buruk sore ini menjadi kebalikannya sehingga aku bisa melewati mimpi buruk ini, aku yakin, setidaknya besok aku tidak akan mengalaminya kembali.

Tidak untuk besok.

***

Aku masih terjebak disini, lebih dari 2 jam aku berdiri di halte transit yang besar, Harmoni. Setelah lebih dari 3 jam terjebak dalam perjalanan di jalur Polda – Harmoni, aku merasa begitu kelelahan hingga aku ternyata tertidur selama dua jam di bus pertama. Aku begitu terlelap namun juga begitu pasrah saat aku masih berada setengah dari tujuan utama. Saat sampai, aku berharap antrean rute Kalideres setidaknya akan lebih sepi, memang tidak mungkin, karena saat tidak ada kejadian ini pun antreannya sudah cukup panjang, paling tidak aku harus menunggu 5-6 bus sampai akhirnya aku bisa masuk ke bus tersebut, bagaimana dengan sekarang? Saat mimpi buruk warga Jakarta datang di waktu yang tepat seperti ini?

Sebenarnya hujan yang aku rasakan di lokasi ini hanya 2 jam. Iya, dua jam saja, namun kenapa efeknya bisa semasif ini, banjir dimana-mana, dan kemacetan yang di luar kadar biasanya, benar-benar menghancurkan hari ini. Sumpah mati aku masih menyesal kenapa harus ada pekerjaan dengan klien di tempat itu kalau tidak karena kepatuhanku terhadap proyek yang aku sanggupi akan diselesaikan dengan baik.

Tiga jam duduk, dan dua jam berdiri. Ingin rasanya aku melepaskan lelah meski hanya tidur sambil berdiri. Mataku nanar menatap pemandangan macet di Harmoni, tidak terlalu macet memang, bahkan bisa dibilang, lancar. Namun jangan berharap banyak terhadap Jakarta. Jakarta jagonya PHP-in rakyatnya, dalam beberapa ratus meter ke depan, jalanan akan kembali menemukan hambatannya.

Aku mencegah diriku agar tidak bengong, apapun caranya,dibalik kerumunan lautan manusia ini, aku tidak boleh mengosongkan pikiranku. Dan aku melemparkan pandanganku kemana-mana, ke antrean ke arah Blok M (rasakan sensasi perjalanan kesana wahai penumpang), Pulogadung (sepi ya, sepertinya busnya banyak), sampai Cililitan yang sebenarnya juga tidak kalah penuh oleh antrean para penumpang. Dan bukan kembali ke tempat semula, pandanganku kembali ke arah Cililitan, mataku kembali memaku pada satu lelaki, yang berdiri di pinggir pegangan, dari jauh kita bersebrangan, namun sama-sama berdiri di pinggir. Dan saat aku sadar…

Dia

Dia yang aku tunggu selama ini

Dia yang tidak pernah absen menghampiri mimpiku

Dia yang membuatku berharap

***

Wajah sosok tersebut begitu lelah, namun aku masih melihat begitu mempesonanya dia. Lelaki yang menarik perhatianku, yang mampu menjejakan langkahku mendekatinya, dan tersenyum padanya hingga dia akhirnya menyebutkan namanya.

Odin

Nama dia Odin, dan aku mengenali ia, yang jaraknya kira-kira hanya tiga meter dariku.

Aku menatapnya lama, lelaki dengan perawakan tinggi yang bahkan saat terdiam pun masih Nampak lesung pipitnya, manis, hitam manis, mempesona. Aku sudah menunggunya lama, sejak aku tahu dia ditempatkan di lapangan selama tiga tahun, bahkan aku belum berbicara banyak dengannya, aku menemuinya di sini.

Dia memandangku, menatapku lama, heran, dan aku tersenyum, dia membalasnya. Aku melambaikan tangan padanya.

“Baru pulang?” Aku bertanya tanpa suara, sejelas mungkin mengucapkan kalimat tanya tersebut.

Lelaki tersebut mengangguk, aku semakin senang, dia mengenaliku! Walau aku sempat melihat tatapan herannya saat melihatku, mungkin sempat lupa.

Dan aku nekat menanyakan nomer teleponnya, aku mengisyaratkan dengan tangan membentuk telepon, dan Odin mengangguk.

Lalu dia menyebut dua belas angka secara perlahan, empat angka pertama memang mudah karena hanya menunjukan provider mana yang digunakan, namun delapan angka berikutnya begitu susah.

Lalu aku berharap apa yang diucapkan dan yang aku tuliskan tepat, sehingga aku mampu menghubunginya.

Sungguh, aku tidak mau kehilangan Odin lagi.

Aku: Hai

Aku melihat ke arahnya, dan berhasil, lelaki tersebut tersenyum lalu dengan cepat meraih ponselnya.

O : Hai juga 🙂
Aku: Kamu belum pulang?
O: Iya, gini, banjir
Aku: Kamu apa kabar?
O: Baik-baik saja, kamu?
Aku: Tidak, karena ini
O: Haha.. sama sih
Aku: Hai Odin, aku ngga nyangka bisa ketemu kamu di tempat ini, sungguh.
O: Odin siapa?
Aku: Kamu, aku Kirei, ingat? Kita pernah ketemu di Gedung Talavera.

Aku melihatnya, wajahnya semakin bingung, saat aku menangkap dia mau menatap ke arahku, aku pura-pura menatap layar ponsel.

O: Hai Kirei, sepertinya kamu salah orang. Aku Borneo. 🙂
O : Bukan Odin

 

Mukaku pias, aku memalingkan wajahku dari Odin-setidaknya seseorang yang aku kira Odin. Aku ingin memperhatikan Borneo lagi sebenarnya, meyakinkan kalau dia bukan orang yang sama. Aku memejamkan mata, mengingat bayangan yang aku tangkap.

Mereka sama, yah.. tapi mereka hanya mirip

Apa yang membuatnya berbeda?

Semuanya begitu sama, tinggi badan, lesung pipit.

Saat aku membuka mata, semuanya terasa buram, aku enggan menatapnya lagi, aku menyusup ke antrean paling kiri, agar terhindar dari tatapan jahil-atau seringai geli dari Borneo.

Aku yang membuat kesalahan terbesar. Aku sedang tidak memakai kacamata minus empatku!

 

 youdontneedit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s