Limbimbik dan Cerebi

brainlove

 

“Hei, apa yang gadis itu lakukan?” Aku mengintip dari balik layar yang terpampang besar di depanku.

“Haha.. deg-degan, dia mau kasih surat untuk pujaan hatinya.” Libimbik tersenyum jahil.

“Ih pasti kerjaan kamu, deh,” protes aku, aku belum pernah merasakannya tapi aku mengerti apa yang gadis itu alami.

Gadis tersebut mengalihkan perhatianku, degup jantungnya seakan mampu kudengar dari sini, padahal harusnya aku tidak mendegar apa-apa.

“Hei, Limbibik, begitukah rasanya jatuh cinta?” Penasaran, aku menanyakan ini kepada sahabatku.

“Entahlah, kamu kira aku pernah merasakan jatuh cinta? Kan aku yang mengatur semuanya.”

“Hmm” Terdiam, aku semakin penasaran tentang jatuh cinta, hingga aku mencoba membayangkannya ketika tiba-tiba.

“Hei, Cerebi, sana kamu kembali ke tempatmu, kerja sana, piknik mulu kesini!!” Limbimbik si Limbic System mengusirku agar kembali ke meja kerjaku di Otak Kecil sana.

“Aku merasa ngga kerja apa-apa kalau kamu yang aktif berkerja, Mbik.” Aku mengeluh.

“Kenapa?”

“Karena inilah efek jatuh cinta, kamu membuat semua fungsi di seluruh bagian otak lumpuh, kamu yang berkerja keras sekarang, karena kamulah muara kontrol seluruh perasaan manusia, Mbik.”

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s