Perempuan yang Berjalan Terburu

girl on train

Ini hari ketiga, dan dengan mudahnya menemukannya.

Mudah,

Dia turun dengan terburu-buru, menyela beberapa orang yang dengan santai menuruni ekskalator stasiun, lalu menyamankan ritme nafas sampai akhirnya dia tersenyum saat kereta tepat datang pada waktunya.

Yah seperti itulah dia, sosok yang selalu berjalan terburu, selalu mepet datang ke stasiun ini.

Aku telah memperhatikannya dari tiga hari yang lalu, perempuan dengan raut ceria dan lincah berlari agar tidak ketinggalan kereta.

Gerbong khusus wanita, itulah gerbong yang selalu dia pilih, mendapatkan kenyamanannya sendiri di tempatnya bisa leluasa walau di tempat penuh.

Dia menuju Selatan, kita berbeda tujuan.

***

Bagaimana aku dapat mengenalmu, hai perempuan yang berjalan terburu?

Di hari kelima ini kamu masih di tempat yang sama, berlari menuruni ekskalator, tersenyum lega ketika kereta tepat datang saat kau menjejakan langkah di peron Selatan, lalu duduk bersandar di pintu dengan headphonemu?

Bagaimana aku bisa mengenalmu? Aku bisa saja hari itu menyamakan arah pulangmu, tapi usahaku tidak berlanjut karena kamu selalu di gerbong yang sama, gerbong wanita.

Di hari yang sama, aku menuju Utara, dan kamu masih ke Selatan, tanpa tahu harus ke celah mana agar aku bisa mengenalmu.

***

Hari kedelapan,

Dan aku merasa gagal sebagai lelaki yang seakan tidak berani berkenalan dengan seorang perempuan.

Aku tidak melihatmu di hari kedelapan ini, mungkin memang lebih baik seperti itu.

Agar keinginan untuk mengamatimu semakin berkurang, dan biarlah hari berjalan seperti biasanya, berkonsentrasi ke arah pulangku ke Utara, tidak lagi mengamati keretamu yang mengarah ke Selatan sana.

Hai perempuan yang berjalan terburu, mengamatimu tetaplah menjadi penantianku., walau kesempatan tidak akan membagi hasil peruntungannya.

“Mas,Mas, maaf, ini lewat stasiun Duri?”

“Eh iya Mba, ini lewat Duri.”

“Oh iya, aku biasa ke arah Bogor soalnya, hehe.. Terima kasih ya, Mas.”

“Iya, sama-sama, Mbak”

Iya, sama-sama, hai perempuan yang berjalan terburu. Tidak akan ada waktu yang kembali lagi untuk memutar kesempatan ini agar bisa titik awal mengapa aku selalu memperhatikanmu.

“Oh iya, emang kamu mau turun dimana?”

Senyumnya masih sama, namun kali ini, senyumnya kunikmati tepat di depanku, bukan di sebrangku.

Dan dia tidak sedang terburu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s