An Old Men and Young Guy

tight heart

This picture was taken from here

Halte Prasetya Mulya di kawasan TB Simatupang terlihat lengang, hampir jam sebelas malam bukanlah waktu yang wajar jika kemacetan masih melanda di jalanan itu, hanya beberapa angkot yang lewat dengan muatan kosong, mungkin dari beberapa angkot tersebut sudah mulai beranjak pulang, atau berganti pengemudi, di satu tempat dimana beberapa rekan sesama pengemudi menunggu di warung kopi sambil bercengkrama dengan rekan-rekannya.

Seorang pemuda dan seorang lelaki tua duduk di halte itu berdua, mereka duduk berjauhan, seakan mengulur jarak, sehingga dalam keadaan jauh mereka masing-masing merasa aman. Lama waktu berjalan, keduanya seakan belum menemukan transportasi yang harus mereka naik.

“Dik kamu menunggu bus apa?” Lelaki tua tersebut membuka percakapan.

“Yang ke Depok, Pak. Bapak nunggu bus apa?” Pemuda tersebut menyambut hangat pertanyaan lelaki tersebut, menunggu lebih dari setengah jam tanpa melakukan apa-apa, berbicara basa-basi tentu tidak akan merugikannya.

“Sama, Dik. Kok belum datang-datang, ya? Sudah lebih dari setengah jam,” lelaki tersebut mulai resah, gelisah menatap jam tangannya, pemuda tersebut merasa iba.

“Sebentar lagi mungkin, Pak.“ Pemuda tersebut menggeser posisi duduknya mendekati lelaki tua tersebut, ditaksir berumur tujuh puluhan tahun, namun masih segar, duduknya masih tegap, raut wajahnya hampir tanpa kerut.

“Biasanya ada kan tapi?”

Pemuda tersebut tersenyum kecut, “saya baru pertama kali naik bus jam segini, hari Minggu pula.”

Lelaki tersebut mengangguk pelan, “jangan-jangan ngga ada, ya?”

“Kita tunggu saja sebentar lagi Pak, atau gimana? Saya masih mau nunggu sampai jam sebelas nanti,”

“Iya, saya ikut nunggu juga. Kalau ngga ada, apa kita patungan naik taksi saja ya sampai Depok?” Lelaki tua tersebut menawarkan diri, pemuda tersebut langsung menganggukkan kepalanya, patungan taksi berdua cukup meringankan biaya taksi tersebut, daripada menunggu lama bus yang belum tahu akan lewat atau tidak semalam ini.

Selama lebih dari lima belas menit percakapan antara keduanya berlanjut, dari hanya sekedar basa – basi sampai tertawa bersama, bertukar cerita dan pengalaman, tentu saja pemuda lebih banyak mendengar, karena yang lebih banyak pengalaman adalah lelaki tua tersebut.

“Dik, misalnya, kalau ada hantu di sebelahmu saat ini, apa yang akan kamu lakukan?”

Pemuda tersebut bergidik, namun tidak merasakan bulu kuduknya berdiri, sehingga dengan pelan-pelan dia melihat sebelah kirinya dan tidak melihat apa-apa.

Lelaki  tersebut tertawa, “saya bilang kan misalnya.”

Menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah, pemuda tersebut menjawab, “saya lebih baik menutup mata saya, saya tidak mau melihatnya.”

“Maka kamu mampu menutup matamu atas apa yang tidak ingin kamu lihat.”

Pemuda tersebut menganggukkan kepalanya, sambil masih meyakinkan dirinya bahwa makhluk halus tersebut itu hanya pemisalan dari si bapak.

“Kalau kamu melewati Tempat Pembuangan Akhir di Bantargebang, apa yang ada di pikiranmu?”

“Bau, pastinya, saya akan menutup hidung saya seharian karena baunya.”

“Iya, benar, maka kamu mampu menutup hidung kamu atas apa yang tidak mau kamu rasakan baunya.”

“Hmm.. dan misalnya, kamu membayangkan kehilangan orang-orang yang kamu cintai, dalam satu hari, mereka meninggal, meninggalkanmu,”

Jari tangan pemuda tersebut mengepal, mendengarkan perkataan lelaki tua tersebut saja sudah membuat dirinya bergetar, bagaimana bila membayangkannya? Namun otaknya membentuk pikirannya untuk membayangkan dan merasakan kehilangan tersebut, pemuda tersebut merasa tidak berdaya.

Lelaki tersebut menaruh tangan ke pundak pemuda tersebut, “maafkan lelaki tua ni Dik, saya tidak bermaksud apa-apa, janganlah kamu membayangkan lebih jauh, Bapak hanya sedang mengajakmu melihat fungsi semua inderamu secara mendalam.

Pemuda tersebut merenung, dari ketiga pertanyaan lelaki tua tersebut, pertanyaan ketiga yang menohoknya, mengapa?

“Kamu bisa menutup telinga atas apa yang tidak ingin kamu dengarkan, kamu bisa menutup mata atas apa yang tidak ingin kamu lihat, dan lainnya…”

“.. namun kamu tidak bisa menutup hati atas apa yang tidak ingin kamu rasakan..”

 

Inspired by Johnny Depp’s Quotes:

“You can close your eyes to the things you don’t want to see, but you can’t close your heart to the things you don’t want to feel.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s