Solidaritas Wanita di Commuter Line

train

Perjalanan Kebayoran Lama – Depok bukanlah perjalanan panjang, tapi merupakan perjalanan yang mahal, haha. Bagaimana tidak? Harga tiket Comm Line 16.000, dan saya harus turun pula di Tanah Abang, nyambung ceritanya, tapi terbayarkan oleh kereta terutama di gerbong wanita yang nyaman dengan bangku empuk berwarna pink, kali pertama saya ke Kebayoran Lama tentu tidak mengecewakan. Peron stasiun Kebayoran Lama malah lebih rendah dari keretanya, bagi yang memakai rok saya sarankan menunggu di tangga orange yang sudah disediakan dan ditempatkan di tiap gerbong.

16:51 kereta yang lengang mulai menuju ke arah Tanah Abang, pengguna Comm Line mulai ramai memasuki gerbong khusus wanita di Stasiun Palmerah. Dari Tanah Abang saya naik lagi ke atas dan (lagi-lagi) mengikuti arus orang-orang yang ke Peron nomer 3, yang menuju Depok-Bogor.

Kereta dijadwalkan datang jam 17:28, untuk kereta yang menuju ke Depok, Bogor, saya selalu menyebutnya jadwal “bunuh-bunuhan”  ;D Ya, karena pada jam segitu para penumpang akan saling dorong-mendorong agar bisa masuk duluan, hal ini  jauh berbeda kalau kereta yang datang masih di bawah jam 17.Tapi ternyata penumpang dari Tanah Abang tidak terlalu banyak, sudah tidak ada tempat duduk tapi belum “bunuh-bunuhan”, karena saya tahu adegan itu akan terjadi di stasiun Sudirman, maka saya mengambil posisi bersender di pintu satu lagi, menjauhi pintu dimana para penumpang wanita akan berhamburan masuk dari pintu tadi.

Saat kereta mulai berjalan, saya menikmati bersender pada pintu satu lagi, saya belum sadar kalau setelah Sudirman adalah Manggarai, banyak penumpang wanita yang menghadap ke arah saya namun saya pikir itu wajar, mengingat jam segitu posisi berdiri bisa macam-macam, dari hadap belakang sampai berdiri diagonal, saya mendengar satu wanita depan saya bertanya “Mau turun dimana, Mbak?”, tapi karena saya sedang memakai headphone saya pikir dia bukan nanya ke saya (baru saya sadari dia sempat malu sendiri karena saya tidak menjawab pertanyaannya, maaf ya Mba..).

Akhirnya ada satu wanita lain yang berani menyapa saya, “Mbak turun dimana?” Karena banyak mata menatap ke arah saya, saya melepas headphone saya dan tidak tahu harus menjawab ke siapa karena saya tidak melihat rupa si penanya, saya menjawab “UI”. Lalu para wanita di sana agak gaduh dan hampir bersamaan intinya mengatakan kalau saya jangan berdiri di sana karena pasti akan terdorong ke luar dari wanita-wanita yang sudah bersiap mengahambur di stasiun Manggarai  nanti.

“Mbak geser aja, nanti kita bantu dorong ke tengah”

“Iya, kasihan Mbaknya, ntar pasti kedorong ke luar”

“Soalnya pintunya kebuka dari situ Mbak”

Ah ya, saya benar-benar lupa, khusus di stasiun Manggarai, pintu memang terbuka di sebelah kiri, bukan sebelah kanan, sedangkan saya dengan santainya bersandar di pintu kiri. Akhirnya saya benar-benar dibantu sama wanita yang ada di sana agar menjauh dari pintu, saya sampai bingung mau berterimakasih ke siapa karena saya yang baru mulai lagi menjadi an-ker  (anak kereta) masih diingatkan. Menurut saya, solidaritas di gerbong khusus wanita ini lebih kental dibandingkan gerbong yang isinya bercampur, kalau saya bukan di gerbong ini, saya yakin akan terdorong ke luar karena tidak ada yang mengingatkan. Aksi kompak pun tidak hanya sebatas “menyelamatkan” saya saja, namun seperti memindahkan tas, membuka jendela kereta, dan banyak hal yang dilakukan bersama antar sesama wanita.

Walau penuh, sesak, tapi nyatanya saya lebih nyaman dan merasa aman di gerbong khusus wanita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s