Dua Panah yang Sejajar

Kayla mengecek kalender yang tidak jauh dari tangannya, “jadi, mau kemana kita long weekend minggu depan?”

Ardo mengambil kalender yang masih di tangan Kayla, “Sempu?”

Kayla menggelengkan kepala, “nope, yang lain”

Ardo mengernyitkan dahi, ada kalimat Tanya yang dia ingin ucapkan tapi tertahan, dan memilih untuk diam, “nih, explore Pacitan, tiga hari dua malam, meeting point Plaza Semanggi”

“Sip!! Gue ikut yang itu aja, tinggal nyebrang dari kantor gue.”

“Yah.. gue kan jauh, Kay.”

“Berkorban dong, Do. Lo aja bisa bela-belain ke sini, kan?”

Demi elo, Kay. Gue ngga akan pernah bisa nolak.”

Ardo menunduk, melanjutkan pekerjaannya membantu Kayla menyelesaikan proyeknya, yang tidak sanggup diselesaikan, karena kalau masalah single lay-out, Kayla menyerah, dan Ardo yang sangat mumpuni di bidang ini.

***

Tidak ada yang salah dengan persahabatan mereka berdua yang sudah berjalan lima tahun, sampai pada saatnya salah satu dari mereka mempunyai perasaan yang lebih.

Mungkin memang tidak ada yang namanya persahabatan wanita-lelaki yang murni karena rasa nyaman sebagai sahabat. Salah satu, atau bahkan keduanya, mempunyai rasa lebih dari seorang sahabat, tinggal siapa yang memutuskan, membiarkan rasa mengalir dalam diam tanpa masing-masing bersikap biasa namun tidak ada yang terungkap, atau mencoba mengatakan semua perasaan yang terbendung, dengan resiko apa pun.

Ardo memilih menanggung resiko tersebut.

Kayla dengan santun dan lembut menyatakan tidak bisa, apa yang Kayla rasakan murni persahabatan, tidak ada satu titik pun rasa lebih untuk Ardo, namun Kayla memintanya untuk menentukan pilihan, hatinya masih terbuka lebar untuk meneruskan persahabatan ini, atau selesai sampai di sini, keduanya sama – sama merasakan sakit, Kayla kehilangan sahabat, dan Ardo yang patah hati memutuskan persahabatan.

Ardo memilih yang pertama.

Namun dia tidak menyerah.

***

Lebih dari tiga jam Ardo di rumah Kayla, setengah pun belum sampai terselesaikan.

“Udah tiga jam, belum selesai? Istirahat dulu sana, nambah minum lagi apa cemilan?”

Ardo menyodorkan laptopnya, desain yang sudah dikerjakan selama tiga jam tanpa ada perbincangan hangat yang biasa mengalir tanpa tahu mereka sudah kehabisan waktu untuk bersama.

“Ini, persis. Do. Keren banget. Istirahat dulu deh kita, gue mau ambil minum lagi nih,”

“Samain aja, Kay,” matanya masih fokus menatap layar, sesekali menatap sekilas sahabat yang cantik di depannya, ingin sekali melanjutkan pekerjaanya sampai selesai, tapi Kayla bukan wanita yang bisa ditentang perintahnya.

“Masih berjam-jam lagi loh, Kay,”

“Ngga apa-apa, gue temenin,”

“Yaaa asal ada elo yang nemenin sampe besok juga gue sanggup,” Ardo mengalihkan pandangannya ke layar kembali, tidak melihat Kayla yang tersipu mendengar gombalan sederhana sahabatnya.

Kayla memperhatikan sahabatnya yang sedang asik menyulut rokoknya dan menatap ke luar. Tidak ada yang salah dengan sahabatnya, Ardo, sama seperti keinginan wanita lain yang tidak akan menolak untuk memilikinya, Kayla merasa seperti itu, hampir tidak ada cela pada Ardo. Hanya saja, ada satu hal yang mengganggu pikiran Kayla, dan malah menjadi kekhawatiran terbesar Ardo. Namun kesalahan Kayla adalah tidak mengatakannya, kejadian lalu hanya berujung pada kalimat yang standar, klise. Bukan tipe Kayla yang memberi suatu jawaban sekadarnya.

Kayla harus menjelaskannya.

***

“Kay, jangan diseriusin ya, cuma mau ngobrol ringan aja sama elo,” Ardo mematikan rokoknya dan memulai pembicaraan. Kayla sempat gelagapan karena sedang asyik menatap sahabatnya.

“Kenapa, Do?”

“Kita punya banyak persamaan, kan ya? Apa persamaan itu yang bikin elo ngga bisa sama gue?”

Kayla meraih dua lembar kertas, “pinjem spidol dong, Do.”

“Yee.. ditanya malah mau buka kelas menggambar,” celetuk Ardo kesal, sambil menyerahkan dua spidol merah dan hitam ke Kayla.

“Haha.. ngga, bentar, perhatiin ini, Do.”

Kayla mulai membuat dua panah yang searah di kertas pertama, “persamaan kita apa aja sih? Fotografi, musik grunge, nge-band..”

cerpen 1

“pantai, senja, sunset, ..” Ardo mulai melanjutkan.

“Ntar, ntar, gue nulis dulu.. Edelweiss, main capsah, semur jengkol..” Kayla sibuk menuliskan apa yang diungkapkan di sebelah kedua panah tersebut.

“Gue dah ngga suka semur jengkol, Kay.”

“Yang penting lo pernah suka, gue tetep tulis,” Kayla tersenyum jahil saat mendengar Ardo mendengus protes, tapi Ardo terlihat bingung dengan apa yang Kayla lakukan saat ini.

Lalu Kayla meraih kertas keduanya, dan menggambar dua panah yang berlawanan arah.

cerpen 3

“Menurut gue, jodoh itu adalah, seseorang yang bisa jadi pelengkap kehidupan kita. Makanya ada ungkapan, lelaki mencari tulang rusuknya yang hilang, untuk melengkapi. Wanita mencari seseorang untuk melengkapi hatinya, melengkapi kesempurnaan ibadahnya, mencari imamnya.”

Kayla menunggu reaksi Ardo, namun tidak ada, dia tetap diam, menunggu kalimat apalagi yang akan sahabatnya katakan.

Kayla menghela nafas, “kita berdua, terlalu banyak persamaan, sangat banyak. Sampai gue yakin elo itu cerminan gue, fotokopian gue,  I see you in me.”

“Lanjut, Kay, terus?”

Kayla mulai merasa gelisah, tanpa sadar menggigit bibirnya, dalam hati menyesal mengapa harus membuka topik ini, mengalihkan pembicaraan Ardo yang mungkin akan jauh lebih ringan dari pembicaraan ini,  ini akan berefek menyakitkan, jauh lebih menyakitkan dari penolakan saat pertama kali Ardo menyatakan perasaannya.

Namun semua harus dijelaskan.

“Menurut gue, yang namanya jodoh itu yang tadi, melengkapi, dua insan berbeda sifat, keinginan, minat, watak dan disatukan dalam satu ikatan serius, yang malah membuat mereka saling melengkapi, dan malah menjadi sempurna, seperti ini.” Ditunjukannya, dua panah yang berbeda warna dan berlawanan arah.

“Dan kita, seperti ini, karena kita sama, kita berjalan sendiri, mungkin beriringan, namun kita berjalan masing-masing, kita tidak akan pernah saling melengkapi, kita bisa hebat sendiri-sendiri.”

“Kamu terlalu skeptis, Kay.” Suara berat Ardo seakan menggema, memburuh di telinganya.

“Ngga, ngga skeptis, Do. Kita mampu menjalankan hobi jalan kita masing-masing, kita bisa memahami karakter masing-masing, karena kita sama, gue ngga menemukan sifat baru yang harus gue terima, atau gue perbaiki, gue ngga bisa berusaha bujuk-bujuk ajak suami gue ntar cobain camping di pantai sambil nunggu sunset, apapun itu, kita bisa hebat masing-masing, tanpa ada gue, tanpa ada elo,”

“Kita, masing-masing, butuh pelengkap, butuh arah panah berlawanan ini, butuh seseorang yang berbeda dari kita berdua.” Tangan Kayla menggariskan dua panah berbeda yang disatukan di ujungnya.

cerpen 2

“Visioner sekali, ya?” Ardo membuka suara, sinis.

Kayla hanya bungkam mendengar sindiran Ardo.

Mungkin benar kita sama, terlalu banyak kesamaan, terlalu banyak merasa sama.

Hati Kayla kini yang terasa ngilu, menyentak kesakitan, airmatanya mengalir, segala persamaannya dengan Ardo membuat dia seakan mampu merasakan sakit hati Ardo saat ini.

 

 

8 Comments Add yours

  1. adichal says:

    Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta. – Gie
    *ea

    1. Sedangkan di kasus ini mereka mempunyai kesamaan tapi berbeda dalam hal perasaaan, uwaaaa!! TT_TT

      1. adichal says:

        Iya, reverse. Gue suka tapi, ironi itu seksih.
        xD

      2. sukanya cerita gue aja dulu ya, jangan suka sama gue :-S

      3. adichal says:

        hahaha.. Dari sisi astronomi aja lu udah gak masuk kualifikasi. Sorry to say. (–,)

  2. apemcomal says:

    tapi ada juga yang bisa bersatu justru dari memiliki persamaan kan?

    1. Yes, malah ada yang bilang jodohmu adalah cerminanmu.
      Yah anggaplah ini adalah satu cara cerdas dari si perempuan untuk menolak sang lelaki 😀
      Terima kasih sudah berkunjung, ya

      1. apemcomal says:

        terima kasih kembali…
        ditunggu lagi cerita lainnya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s