(not a) Terror

Love Terror

This picture taken from here

 

 

“Ini bukan masalah serius,” aku berusaha meyakinkan staf keamanan terbaikku agar bersikap tenang. Ya, mereka bersikap tenang, namun gesturnya tidak berkata demikian, ada rasa gentar dari barisan yang saat ini berdiri tegap di hadapanku.

“Jam sepuluh, bukan hanya gedung yang akan kami ledakkan, kepala pemilik gedung ini juga,” aku membaca laporan tertulis berdasarkan rekaman isi percakapan si peneror kacangan tersebut.

“Ancaman itu datang darimana? Sudah dilacak?” Dengan santai, aku menoleh ke arah timku. Sebelumnya aku sudah tahu jawabannya, begitu klise, motif kacangan, namun aku masih mau mendengar jawaban mereka.

“Telepon kantor, nomor tidak dikenal, mungkin SIM Card sekali pakai,” Leo, pimpinan keamanan gedung ini membuka jawaban.

Terlalu mudah ditebak.

“Kalian jangan khawatir, ini hanya ancaman kacangan saja, sudah berapa lama gedung perkantoran di Jakarta tidak mendapat ancaman bom?”

Mereka menganggukkan kepalanya pelan, yakin tidak yakin, namun cukup percaya untuk mencerna kata-kataku. Ini Jakarta, kalau mau meledakkan gedungku dengan bom, ledakkan saja tanpa banyak tanya dan ancaman. Amatiran.

Aku beranjak dari ruang rapat itu, “yah.. saya ada urusan yang lebih besar dari hal ini, interview dengan seseorang yang sudah saya tunggu sejak lama akan berada di kantor ini. Kalau tidak keberatan, jangan sampai karena kehebohan berita ini membuat dia tidak jadi datang ke tempat ini.”

“Leo, suruh dua anak buahmu selalu mengaktifkan small steel detectornya saat orang melintas, itu barang asli, bukan dummy. Use it well.”

Dan aku pergi dari ruangan itu setelah mendengar dua tarikan napas terkejut dari anak buah Leo, yah.. staf keamanan yang aku tangkap tidak melakukan tugasnya dengan baik.

***

“Hei Lenka, jam sepuluh, ya? OK?”

Suara jauh di sana terdengar begitu antusias, bagaimana tidak? Hanya orang yang sangat terpilih yang mendapat kesempatan berkerja di sini, semua interviewer berlabuh di aku, aku single user bagi semua posisi, tidak ada yang keberatan dengan hal ini, karena filter dan standarku begitu tinggi, tidak ada yang  meragukanku. Siapa pun yang dapat lolos dari perusahaan ini juga otomatis menjadi loyal, tidak pernah ada yang resign di bawah tiga tahun, itu prestasi yang aku pertahankan sebagai owner gedung perkantoran dan CEO kantor pemasaran ini.

“Tentu saja, Nesha. Aku ngga nyangka kamu memberi kesempatan untukku, ini sudah lima tahun aku menunggu.”

“Hei, kamu belum tentu berkerja di sini,” tawaku, kecil.

Tidak tersinggung karena dia tahu aku bercanda, “oh ya, jadi aku harus menyogokmu berapa agar kamu mau menerimaku?”

Kami berdua tertawa, sungguh ini akan menjadi wawancara yang seru dalam kurun waktu tahunan aku merasakan wawancara yang penuh kekakuan, sudah lama sekali aku tidak menemuinya sejak kejadian itu, aku sudah melupakan dan saatnya merajut kembali jalinan persahabatan itu, “pokoknya jam 10, teng!!”

“Siap, Bos!!”

Aku meraih telepon kantorku dan menghubungi ekstensi yang sedari tadi ingin aku hubungi terburu-buru, “Leon, Ardan, ke ruangan saya. Bawa dua orang kepercayaanmu juga, segera!!”

“Baik, Bu.”

“Satu lagi, bawa sarung tangan paling steril. Saya suka kebersihan ruangan ini.”

***

Lobby gedung, jam 09:45.

Suasana lobby gedung perkantoran sudah terlihat lengang, kecuali bagi para karyawan yang keterlaluan terlambat dan menunggu SP melayang nanti karena keterlambatannya. Gedung 23 lantai tersebut sudah sepi dari kegiatan hilir-mudik, kecuali beberapa kurir atau clerk yang tidak lupa mengenakan kartu Visitor digantungkan di leher.

Seorang wanita dengan santai melangkah menuju kantor Pemasaran Gedung Perkantoran Tavisha menuju Suite 305, yang disediakan khusus sebagai Kantor Pemasaran bangunan tersebut. Tidak lupa mengenakan Kartu Visitor yang sudah ditukar dengan KTP di meja resepsionis tadi. Wanita tersebut melewati X-Ray Scanning Cabinet sebelum menuju lift.

“ Maaf Bu, tasnya ditaruh di sini dulu,” tegur satu petugas pengaman yang menjaga area tersebut.

“Oh.. iya, maaf, lupa.” Wanita tersebut gugup, dan salah tingkah, lalu memasukan tas ke mesin tersebut. Selanjutnya wanita tersebut memasuki area steel detector dan menunggu tasnya ke luar.

Namun, tas tersebut tidak kunjung muncul, conveyor berhenti di tengah-tengah, tertahan. Dua petugas keamanan sudah menggamit lengannya, “ikut kami, Bu.”

Wanita tersebut panik, ingin berontak namun dia tahu kelakuannya akan menarik perhatian orang, maka dia berusaha bersikap tenang mengikuti ke satu ruangan dimana dia pasti akan diinterogasi.

“Sudah di sini, Bu. Iya, detonator bom.” Seorang petugas melaporkan kejadian itu melalui HT.

Bom apa? Di tas?

***

Ruang Rapat Radja, jam 13:00

“Kamu serius tidak mau Gin Tonic hebat ini, Nesha?” Leo menyodorkan satu gelas kecil minuman yang ada di genggamannya ke arahku.

Aku menggelengkan kepala, “kalian saja, saya masih ada rapat sore ini. Kalian masih harus kerja, jangan minum banyak-banyak.”

Menatap pemandangan Jakarta yang begitu gagah, di belakangku beberapa staf kepercayaanku puas dengan pekerjaannya, terlebih lagi saat aku memberikan pujian yang pantas terhadap mereka, terutama harga yang pantas.

“Kamu lihat perempuan itu? Berusaha tenang namun saat masuk ruangan, dia panik bukan main!”

“Ya.. ya.. ya.., siapa yang bisa berkelit kalau menemukan detonator bom di dalam tasnya? Tangan kamu lincah sekali, Ando.”

“Terlebih lagi saat dia merasa gugup pas tasnya lupa dimasukan ke dalam x-ray cabinet, dari situ mudah sekali menyelinapkan detonator tersebut.”

“Hei, itu hanya dummy, kan?”

“Tentu saja, Bodoh! Masa’ beneran?”

Suara-suara mereka di belakangku, mengulas kembali kejadian pagi  tadi. Dendam? Tentu saja bukan, toh dendam tidak harus selalu dengan pembalasan, pun sebaliknya. Anggap saja ini hanya pembalasan sedikit saja, dari dendam yang sudah dilupakan.

“Tapi Bu, apa ancaman teror bom itu Bu Nesha yang buat?” Staf termuda membuka tanya.

“Tidak sama sekali, ancaman itu saya yakin benar ada, saya hanya membuatnya nyata dari kejadian yang ada.”

Ya, teror bom itu memang ada, namun aku yakin hanya teror kacangan, maka Lenka, yang dengan sukarela masuk ke sarang buaya, kujadikan kambing hitam atas kejadian teror tadi, mengambil beberapa staf untuk kerja sama, sungguh tidak sulit, mengingat mereka tahu ada di mana posisi aku.

Tidak pernah ada yang lebih menyenangkan dari hari ini, “Lenka..mantan sahabat, sekaligus gadis perebut suami orang yang malang..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s