The Antares

“We are all like the bright moon; we still have our darker side.”
― Kahlil Gibran

“Jangan pergi dulu,” aku memohon sekali lagi, entah sudah malam ke berapa aku selalu mengantarkan kata yang sama, dan aku mendapatkan reaksi yang sama, berat melangkah, berkata segalanya akan baik-baik saja, toh aku akan kembali nanti, klise.

“Kamu tahu, aku akan kembali,” janjinya, menatapku dari kejauhan, bersiap pergi.

Entah ada beberapa yang menyaksikan drama ini, aku tidak peduli, bagiku, kita saling melengkapi, dia dengan sisi lembutnya namun mempunyai sisi gelap yang harus kusembunyikan, maka aku selalu ada berada di dekatnya, menjadi pengalih perhatian bagi orang-orang yang menyaksikannya, agar mereka menatapku, bukan menatapnya lama. Dia rapuh, aku tahu itu, maka aku yang selalu berjalan di depannya, menemaninya, namun dia selalu pergi. Sedangkan aku malah tetap tinggal di sini, menjadi tak terlihat, tak terpedulikan. Aku sendiri.

Aku melihat sekeliling, gelisah, membujuknya begitu sulit, tapi entah rasa cintaku yang besar terhadapnya, aku tidak merasa beban untuk melakukannya, setiap saat.

“Sisi gelapku akan terlihat, dan kamu harus setia bersamaku,” lirihnya, dengan tatapan  yang lembut, entah mengapa, aku yakin inilah alasan banyak orang yang mencintainya, menunggu kehadirannya, dan tersenyum saat melihatnya, mystical beauty, cantik tanpa harus berusaha terlihat demikian.

“Kamu bisa di sini padahal, kalau kamu mau.” Sesungguhnya aku malu, sebagai lelaki yang begitu banyak memohon. Namun entahlah, kehilangannya seperti aku kehilangan sinarku.

“Aku tidak jauh dari sini, aku tetap mengawasimu, menatapmu, yang mengalihkan sisi gelapku, kamu selalu di sana, aku tidak, aku harus pergi, sementara, percayalah..”

“ini  bukan yang pertama kali, kan? Lalu kenapa kamu masih ragu aku tidak akan kembali?” Lanjutnya, tegas.

Dia beranjak pergi, dengan jarak yang tidak terukur, jauh. Hanya yang di dekatnya yang dapat melihatnya, sisi gelapnya muncul, dan siapa pun harus menyembunyikannya.

Karena ada saatnya, saat dia kembali, dengan sinarnya yang sempurna, membuat bahagia siapa pun yang melihatnya.

Mereka tahu akan sisi gelapnya, namun saat kembali, itu adalah hal yang tidak pernah dipermasalahkan.

Lima belas malam lagi, dia akan kembali berada di sampingku, di bentuk sempurnanya, Bulan.

“Moonlight drowns out all but the brightest stars.”
― J.R.R. TolkienThe Lord of the Rings

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s