Aware-less

Siapa dia, ya?

Aku sudah mengamatinya lama, dari sebelum gerbong ini mempunyai gerbong khusus wanita, sampai sekarang kereta baru yang indah ini. Yah, sesekali saja aku menggunakan kereta ini awalnya, seperlunya saja, salah satunya untuk mengagumi hasil kerja keras ayahku atas armada ini. Tapi sejak bertemu dia tiga bulan lalu, aku rajin menggunakan Commuter Line.

Ayahku awalnya yang mengurus pembeliannya, namun berpuluh tahun berikutnya, beliau memiliki ide, mendobrak tradisi agar mencoba menciptakan sendiri kereta Commuter Line, ingatlah aku pada apa yang dia katakan padaku saat itu, “Ayah yakin, kita bisa membuat kereta kita sendiri, tidak perlu lah impor, apalagi belinya Cuma kereta bekas, memalukan,” selalu aku ingat ucapannya. Dan pendiriannya membuahkan hasil, contohnya ini, kereta dengan ribuan penumpang di dalamnya, asli dari ukiran tangan-tangan cekatan tenaga ahli dari Indonesia.

Stasiun Tanah Abang, 70% penumpang mulai turun dari kereta ini, aku heran betapa banyaknya yang turun di stasiun ini.

“Bu, kok banyak yang turun di sini,ya?” Aku mendekati seorang Ibu yang masih duduk tenang, aku duduk di sebelahnya, seluruh bangku di kereta tersebut hampir kosong.

Tapi, dia masih ada.

“Banyak yang nyambung Mbak, ada yang nyambung ke Serpong, ada juga yang biar dapet kereta duluan ke Bogor gitu.”

Setelah menimpali dengan –oh dan mengucapkan terima kasih atas info singkatnya, aku berdiri dekat pintu karena ingin turun di stasiun berikutnya.

Deg deg deg deg deg

Dia mendekat ke pintu yang sama, padahal pintu di dekatnya juga kosong dari penumpang yang berdiri mau turun ke stasiun berikutnya. Aku mencoba mengendalikan diri, menggigit bibir, agar tidak keluar senyum yang nantinya malah diketahui oleh dia.

Dia tersenyum.

Aku memegang tiang di dekat pintu, salah tingkah, aku sepertinya hanya mematung, mengguratkan senyuman datar ke dirinya, membodoh – bodohi diri sendiri, bingung harus memulai perkenalan dari mana.

“Pulang ke arah Tangerang juga?” stalker

“Aku biasanya lihat kamu turun di Tanah Abang, loh.” Stalker akut

Eh biasanya pake backpack Deuter, kok sekarang yang North Face?” Ratu Stalker

Aku mengatupkan pertanyaan – pertanyaan itu di mulutku, agar tidak keluar, aku tidak menemukan kalimat pembuka untuk bisa berbicara dengannya.Cemen? Biarin.

Pintu kereta belum sempurna terbuka, seorang Bapak bertubuh kecil sudah ke luar, namun naas, pintu kereta tersebut sudah menutup lagi, bukan menahan selama beberapa detik, dan akupun tidak jadi keluar dan..

Jari sang Bapak terjepit di antara pintu tersebut, aku melihat jari tengah dan telunjuknya muncul, menggapai – gapai di depanku, aku benar – benar panik, tidak mampu berbuat apa-apa.  Aku hanya berteriak, kepanikan, meminta tolong siapa pun yang ada di belakangku, di samping. Suasana menjadi kacau, teriakan Bapak semakin keras, kedua pintu seakan menjepit semakin keras, tidak melepaskannya, sistem otomatis di pintu kereta sepertinya bermasalah. Petugas belum ada yang datang, dan penumpang yang duduk malah berdiri, menonton.

“Permisi  sebentar, Dara.”

Aku mendengar seseorang di belakang, memanggil namaku, refleks aku meyingkir, orang tersebut merusak sesuatu yang tertempel di dinding kereta, dan menarik tuas ke arah sebaliknya. Hebat, pintu tersebut terbuka, seluruh pintu terbuka seakan tidak bisa menutup lagi. Si Bapak terduduk lemah di depan pintu kereta, petugas datang dengan peralatan P3K.

“Pak, minum dulu,” aku memberikan air mineral yang belum aku buka kemasannya, lalu  aku memutuskan untuk keluar dahulu karena aku tidak tega melihat muka Bapaknya yang kesakitan.

Aku duduk di ruang tunggu, aku yang melihat kejadian itu di depanku membutuhkan ketenangan.

“Namanya, Emergency Lock Door, “ dia ada di depanku, berdiri, kemaja slim fit krem dipadu dengan celana hitam, sepatu keds, haha.. sepatu keds, tapi tetap saja, mengalihkan duniaku, kupu – kupu datang lagi.

“Maaf?” Aku tidak mengerti maksudnya.

“Iya, saat ada yang teledor, atau seperti tadi, seorang Bapak yang tidak sabar keluar dari kereta padahal pintu belum terbuka sementara, sistem pintu otomatis mempunyai pola membuka-menutup sepersekian detik – lalu baru membuka sempurna.”

Dia menyalakan rokoknya sebentar, lalu melanjutkan penjelasan, di depanku yang masih terbengong – bengong mengapa dia tiba-tiba datang menjelaskanku itu.

“Oke, lanjut. Dan, jika ada kejadian itu, di sebelah kanan pintu terdapat sistem pengaman, jadi kalau ada yang terjepit tangannya, kamu hancurkan cover alat itu, kamu putar tuasnya, dan pintu akan terbuka otomatis.”

“O..” aku hanya bisa bergumam pelan, masih mencerna.

Don’t be too panic, Dara.”

“Kamu kenapa tahu nama aku?” Tanyaku, sambil mengingat-ingat di sebelah mana aku menaruh aksesoris yang mencantumkan namaku, nihil.

Dia hanya menggedikkan bahu, tersenyum penuh arti.

“Pesanku, saat kamu menemani ayahmu sedang inspeksi keselamatan sistem transportasi, please, perhatikan cara kerjanya, jangan hanya gadgetmu saja.”

Mukaku memerah padam, malu. Aku selalu ingat bagaimana semangatnya ayahku memperkenalkan konsepnya, dan memintaku untuk menemaninya, namun biasa, aku malah asik dengan perangkatku sendiri, saat ikut menemaninya mengawasi penyusunan dan perakitan kereta Commuter Line tersebut.

Tapi siapa dia?

“Kamu siapa?”

“Andes Rezka, tim Safety Inspection, anak buah ayahmu.”

Semakin memerah mukaku. Jadi inilah orang yang dari dulu ingin ku kenal, tapi bodo amat terhadap sekeliling sehingga tidak menyadari bahwa dia pernah lebih dekat dari jarakku tadi di gerbong kereta itu.

“Ada pemadam kebakaran, pemecah kaca, dan masih banyak tools lainnya, inovasi ayahmu yang cerdas dan peduli terhadap penumpang transportasi umum. Tidak banyak yang seperti beliau, aku mengaguminya.” Lanjutnya, sambil menghisap rokok terakhirnya, terus menatapku, lalu tersenyum lag, lebih lunak, tanpa menuduh, apalagi meremehkan seperti senyuman awalnya tadi, saat aku sedang panik.

“Kereta ke Tangerang jam berapa?” Aku berinisiatif bertanya, basa-basi, mengetes, agar bisa membuatnya tidak membahas hal itu lagi.

“Sebentar lagi,”

“Kamu pulang kesana?”

“Iya, aku harus ke rumah ayahmu, report ini harus aku kasih paling lambat malam ini, ayahmu tidak suka menunggu.” Kembali senyumnya penuh makna.

“Ke rumah aku, dong??”

Dia mengangguk pelan, dan tidak ada yang lebih mengejutkan, dan menyenangkan dari kata terakhirnya tadi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s