Siarga(l)o(ve) Beach

How I miss the big waves the same as I tell my self ‘ I miss you…’

 

Mengenakan Rip Curl kesayangannya, yang tidak pernah bosan dipakai, wet suit kebanggaannya, G-Bomb Crossover Spring Suit warna hitam. Setidaknya, dengan warna hitam, kulit Shirka tampak lebih putih.

Kulitnya yang terlihat legam sekali lagi akan menantang matahari, diraihnya wax yang sudah mau habis dan dioleskan ke papan luncur yang dibawa jauh-jauh dari kampung halamannya, Indonesia.

“Kamu akan berkenalan dengan Jack Horse, Quick Silver, dan Cloud 9,” dengan semangat Miguel, temannya yang asli Mindanao ,menyebutkan nama ombak yang akan ditemuinya nanti, memanas-manasi Shirka.

Siargao pagi itu begitu cerah, ombaknya yang setinggi 15 kaki yang memanggil – manggil Shirka, kakinya gatal menjejak ke papan seluncurnya menuju lautan indah dengan karakter ombak yang indah di Filipina.

Shirka mengayuhkan papan luncurnya, semangat,berlatih untuk kompetisi Asian Surfing Championship (ASC) di Mentawai April nanti, dalam hati bertanya – tanya  mengapa harus repot-repot ke negeri seberang, padahal di Indonesia banyak sekali lautan yang bagus untuk berlatih teknik-teknik berselancar.

Sekembalinya Shirka bermain dengan ombak, Dean yang bersiap – siap berlatih. Terik matahari tidak mengurungkan semangat mereka berdua.

“Apa yang kamu pikirkan saat menaiki ombak tinggi dan berselancar lama?” Tanya Dean, rekan traveler Shirka yang pergi bersamanya dari Jakarta.

Kamu, jawab Shirka dalam hati.

“Semuanya,” jawab Shirka sekenanya.

Oh come on, jawablah yang informatif,” keluh Dean, sambil sibuk mengoleskan wax ke papan seluncur barunya. Shirka berhasil membuat Dean menyukai olahraga ini. Walau tetap saja,persiapannya suka sekenanya.

“Kita bahas nanti, kamu latihan dulu sana, hei, hati-hati,” Shirka mengalihkan topik. Dean sudah tahu perasaan Shirka terhadapnya, namun responnya selalu berupa pancingan tidak ada jawaban pasti tentang perasaan sebaliknya.

Oke, bye! Jangan nyesel kalau ngga ketemu aku lagi.”

“Eh, apa maksudnya? Dean!!” Teriak Shirka, kesal dengan sifat kekanakannya Dean, yang langsung berlari mengejar Cloud 9.

Shirka terduduk, menatap punggung Dean yang sudah menjauh, menghempaskan badannya ke pasir putih lembut Siargao, tangannya menyentuh sesuatu.

“Dean!!! Dean, tunggu!!! Jangan ke sana dulu!!!” Shirka berlari, panik, tangannya memegang benda yang baru dia sentuh tadi.

Tangisnya tertahan, membodohi dirinya sendiri yang tidak perhatian total dengan Dean, membodohi Dean yang selalu teledor, dirinya berdoa keras-keras agar Dean selamat.

Tali yang harusnya melekat di kaki Dean dan di ekor papan selancarnya ada di genggaman Shirka, entah mengapa tali tersebut bisa terlepas di papan seluncur Dean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s