Sendu si Pemilik Lesung Pipit

cerpen ini diikutsertakan ke dalam program Kampus Fiksi Divapress dan berhasil lolos ke dalam Kelas Kampus Fiksi angkatan VI

 

 

PAK!!!

Perempuan di depanku kaget bukan kepalang, tepukan keras beberapa sentimeter di wajahnya mampu mengembalikan kesadarannya dari lamunan lamanya yang merentang beberapa menit itu.

“Duma!!!” Iraz berteriak, kaget bercampur malu. Jelas aku tahu ke arah mana tatapan tanpa tujuannya itu, menenggelamkannya ke dalam dunia angan dan mencernanya sebagai harapan. Aku tertawa keras, berhasil membuat beberapa pasang mata menatap ke arahku, tempat makan sempit nan bersih yang selalu dipenuhi pengunjung. Baksonya terkenal enak di kota  ini, memberanikan diri menjamin para penikmatnya kalau baksonya home made dan tanpa MSG juga pengawet.

“Namanya Riza,” aku menunjuk dengan garpuku ke arah obyek lamunan Iraz dengan santai, sontak Iraz menyingkirkan garpu tersebut ke tempat yang selayaknya, mangkok bakso keduaku.

“Ntar orangnya neng..ok… loh, udah nengok..”

Terlambat, garpu yang kugunakan seperti punya magnet berlawanan arah yang membuat lelaki tersebut menengok ke arah kami berada, pas. Dan aku spontan melambaikan tangan dengan semangat ke arahnya.

Riza berjalan menuju meja kami, dengan senyumnya yang khas, lesung pipit yang hanya muncul di sebelah kanannya, pipi sebelah kirinya mulus, tidak atletis, cenderung kurus tapi kuat, dan manis dengan rambut yang tercukur rapi. Ideal. Tipe Iraz banget.

Tipe aku banget.

***

Namun persahabatan aku dengan Riza menimbulkan satu titik kenyamanan sendiri di antara kami berdua. Banyak yang bilang kalau selalu ada yang timpang perasaannya di antara persahabatan erat yang berlawanan jenis. Yah, maksudnya salah satunya berharap lebih, jadi persahabatan adalah satu kedok untuk memudahkan langkah – langkah selanjutnya agar bisa menaikkan statusnya menjadi lebih, pasangan. Padahal aku pikir tidak ada level yang lebih tinggi dari suatu persahabatan, kalau sudah mentok bersahabat, itulah tingkatan tertinggi yang tidak bisa diganggu – gugat. Cinta, atau menjadi kekasih pada akhirnya yang  bermula dari persahabatan, jelas bukan suatu peningkatan status. Tapi, perubahan status.

Aku dan Riza sudah bersahabat selama belasan tahun, bertetangga pula. Jadi, kami sudah berada di titik ter-aman di persahabatan kita. Dan tentunya karena hal hal itulah keindahan dia secara fisik sudah bukan menjadi godaan bagiku untuk mengubah status persahabatan kita, aku sudah mengenalnya dengan sangat baik, luar dalam. Teman mandi bareng waktu kecil, teman ngaji Iqra bareng waktu TK, teman tidur pula kalau orangtua kita lagi pergi sendiri aja tanpa mengajak anak-anaknya.

Maka, tidak aku ragukan kualitasnya dan aku siap memperkenalkan Riza ke sahabatku yang sudah menahan gengsi menjaga diri untuk tidak bertanya nama atau mendeklarasikan perasaannya padaku selama berbulan – bulan karena menghormati persahabatan sakralku dengan Riza.

“Za, sini makan. Elo mau kemana?” Tanyaku, basa-basi, hidup bertetangga membuatku tahu semua kegiatannya, vice versa.

“Ke rumah Bu Ambar, disuruh nganterin ini, nih.” Riza menunjukkan plastik besar, beberapa pelepah pisang mencuat dari plastik tersebut.

“Oh.. hei Za, kenalin nih sahabat gue di kampus, Irza.” Aku melirik Irza yang salah tingkah, gelagapan, dan mengulurkan tangannya duluan ke arah Riza.

“Irza.. Riza.. lucu ya, nama kita mirip. Salam kenal, Irza.” Riza meletakkan plastik besar tersebut, mengelap tangannya yang agak kotor dan menyalami dengan senyumnya yang khas tersebut. Itulah kelebihan Riza, senyumnya selalu terlihat tulus bahkan dalam titik terbawahnya, saat dia sedih, muram atau keadaan mood yang kurang baik. Namun senyumnya tetap terlihat tulus, tidak pernah dibuat – buat. Konon, hanya aktor terbaik seperti George Clooney dan Julia Roberts yang mampu mempunyai senyum seperti ini. Senyum yang selalu terlihat tulus.

“He…” Irza salah tingkah, ekspresinya berubah, seperti mau berbicara sesuatu namun tertahan di senyumnya yang malah terlihat kaku. Spontan, aku tertawa keras.

“Hwahahahahahhaha!!!!” Aku gagal menahan geliku melihat kedua sahabatku diperkenalkan dalam momen yang indah ini. Airmataku keluar, deras, saking gelinya, perutku sakit , namun tertawa jenis ini sangat menagih.

“Haduh.. maaf, maaf. Yuk Za, pulang.”

“Za siapa?” Sahut kedua sahabatku ini, berbarengan. Aku baru sadar, keduanya sama-sama mempunyai suku kata ‘za’ di belakangnya.

“Itu, Irza. Yuk ah, mau pulang apa masih betah di sini? Tapi Riza masih harus melakukan amanahnya tuh,” aku menunjuk plasti  besar tersebut. Irza mengangguk, pipinya masih bersemu merah, bibirnya terkulum menahan senyum agar tidak terlalu kentara rasa senangnya.

Ponselku berdering tidak lama setelah kami berpisah, Riza.

“Yes, brader..” Aku membiarkan Irza berjalan duluan ke rumahku.

“Hm.. Bantuin, ya.”

Satu kata inti, ‘bantuin’, cukup jelas maksudnya, aku menatap sahabat tersayangku di depan sana. Dan aku yakin ending perkenalan ini akan indah.

***

Irza Altivani, wanita cantik yang pemalu, tidak terlalu pemalu sih, namun cukup sulit beradaptasi dengan lingkungan baru. Irza mampu membangunkan lagi semangat sahabat – sahabatnya hingga tersenyum kembali. Irza yang khas dengan lesung pipit sebelah kirinya saja itu. High Power Pose, Irza andal sekali melakukan pose yang menunjukkan kepercayaan dirinya saat berfoto. Jadi, siapa sangka wanita berkulit putih, bertubuh mungil, berambut lurus hitam tergerai sempurna dan beralis tebal mempunyai kepribadian awal yang pemalu?

 

Riza Bodgan, lelaki manis yang mampu membuat beberapa wanita menengok dua kali untuk menatap wajahnya. Tapi memang yang paling khas adalah senyum tulusnya itu. Riza ekstrovert, tidak canggung memulai percakapan duluan, tidak bisa diam menunggu dan termangu atau hanya menatap layar ponselnya saja, siapa pun akan menjadi ‘korban’ percakapan dia walau sekedar meminta korek untuk rokoknya.

Riza si pemilik lesung pipit sebelah kanan.

Irza si pemilik lesung pipit sebelah kiri.

Dan saat mereka jalan berdua, karena sudah bersama, lesung pipit mereka saling melengkapi. Dan aku tidak pernah merasa lebih senang lagi dibandingkan hari itu.

***

The hardest thing to do is watching the one you Love love someone else – uknown-

 “Hei, Za. Aku masih di tol dalam kota.”

“Ngga apa-apa, Sayang. Berarti baru jam satu yah sampai Bandung,” suara Irza serak, seperti baru bangun tidur atau sedang menahan tangis, entahlah.

“Kalau sudah sampai Pasteur aku kabari kamu, ya.”

“Hati – hati ya, Duma.”

Aku menghela nafas, berat sekali rasanya ke tempat seseorang yang kita sayang hanya untuk menyampaikan berita yang kurang baik. Aku tidak sanggup melihat sahabatku sendiri jatuh. Aku tidak kuat melihatnya rapuh di depanku.

Hubungan Riza dan Irza selesai satu tahun lalu, setelah bersama-sama tanpa ada masalah yang pelik yang menimpa mereka berdua. Aku tahu alasannya, namun karena keduanya sahabatku lebih baik aku menyimpan baik-baik dan mengubah peran menjadi pendengar yang baik daripada pemberi saran yang bijak. Aku takut salah satu atau bahkan keduanya malah akan tersakiti oleh saran yang kuberikan saat itu.

Dan saat ini peranku adalah ‘melukai’ salah satu sahabatku, Irza.  

***

Aku turun di Jalan Cipaganti lalu meneruskan dengan angkutan umum jurusan Ciroyom – Cicaheum. Udara Bandung yang sejuk, kanan – kiri jalan yang ditumbuhi pepohonan yang rindang, udaranya menyejukkan raga, hijaunya menyejukkan hati. Tidak sampai setengah jam aku sudah sampai Mc Donalds Simpang Dago, Irza sudah menunggu di bangku depan.

“Kamu kurusan, Za.” Aku mencium pipinya, dan memeluknya. Setengah tahun tidak bertemu walau jarak Bandung tidak jauh cukup membuat kami rindu satu sama lain.

“Harusnya malah gemukan ya, kan udaranya sejuk,”

“Iya, jadi banyak makan,” tawaku berderai disusul tawa Irza.

Lalu kami berjalan menuju satu kafe yang tidak  jauh dari simpang Dago, jalanan yang macet membuat kami memutuskan lebih baik berjalan karena toh akan lebih cepat sampai.

Kami tiba di Dapur Eyang, kafe yang sangat homey di Dago bawah, seperti masuk ke rumah sendiri dan memilih sendiri tempat duduknya. Di sudut dekat pintu yang menuju ke taman terdapat lemari besar yang berisi buku-buku lama, juga botol kecil parfum – parfum yang mahal. Aku terpesona oleh isi lemari tersebut, meraih satu buku The Life and Voyage of Christopher Columbus dan meletakkannya kembali, antik, cantik.

Kami memilih meja kayu yang mengarah ke taman belakang, suasana Bandung saat itu gloomy, selaras dengan suasana hati sahabat di depanku ini.

Aku memperhatikan perubahannya, tidak ada lagi High Power Pose andalannya, bahunya terjatuh, lemas, senyumnya tipis, seadanya, dan yang paling menyedihkan rambutnya yang sudah dipotong pendek, bondol.

Setelah kami memesan makanan, kebisuan selama beberapa menit melanda kami.

“Bandung – Jakarta itu dekat, kenapa kamu ngga pulang – pulang?”

“Karena semua sudut di Jakarta masih menyisakan memori tentangnya, jelas,” terangnya, jujur.

Wanita di depanku menggigit bibirnya, menahan sebisa mungkin airmatanya agar tidak jatuh.

“Lalu kenapa kamu menyuruhku kemari hanya karena kamu  mau berita itu terdengar langsung dari bibirku?”

Kukunya mengetuk – ketuk meja kayu, gelisah, “biar aku merasa ini memang kabar nyata.”

Matanya enggan menatapku, melihat ke lemari kayu besar tersebut selama beberapa detik, lalu tersenyum kepadaku.

 “Tapi aku juga kangen kamu, Duma. Kangen sindiranmu, komentar menyentilmu, semua. Tapi.. saat aku ingin sekali menemuimu, aku bagaikan harus bertemu dengan dua orang, kamu dan dia. Dan.. kenanganku bukan menyeruak mengingatkan segalanya tentangmu, tapi juga tentang dia.”

Makanan yang dipesan datang, dan kita berdua bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Kata-katanya barusan aku serap, bagaimana mungkin Irza melihat Riza pada diriku?

“Tapi Za …”

“Tapi adik kamu!! Zuma!! Adik kamu yang akan menikah dengan Riza. Terus apa aku dengan logika memisahkannya kalau Duma, sahabatku sendiri, tidak bisa mengingatkanku dengan Riza, sahabatnya sendiri, yang akan menikahi Zuma, adik sahabatku sendiri??”

Kata-kata Irza menghentak, nadanya keras, lalu menunduk dan menangis tergugu. Semua airmata yang dia tahan keluar semua.

Aku bergeming. Tidak mampu memeluknya, atau menenangkannya dengan kalimat – kalimat positif. Bukan salah siapu pun jika cinta terakhir Riza berlabuh di adikku sendiri, Zuma.

Tas yang ada di pangkuan aku remas, bersikeras tidak akan mengeluarkan isinya, biarkan, yang penting Irza sudah tahu langsung dari mulutku, tidak perlu ada bukti otentik.

Undangan pernikahan Riza dan Zuma tidak pernah aku berikan padanya.

Image

this picture was taken from here

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s