Kelewat Batas

Karena aku yang mengamatimu, hanya aku. Maka, aku memasuki ragamu, pikiranmu.

Kamu untukku.

Pagi itu, suasana kantor begitu tenang, jam delapan pagi pas, kamu datang. Selalu tepat waktu. Kebiasaanmu yang sudah aku hafal sejak lama pertama kali aku di sini. Aku bahkan sudah lama berada di sini, kamu baru.. tiga bulan. Ah, anak baru, hihi.. anak baru yang lucu.

Perkantoran sederhana di mall lantai bawah, kantor pemasaran lebih tepatnya. Dengan konsep mal lama yang dirombak menjadi bagus dan sangat sophisticated, maka wajar kalau semua karyawan di sini begitu sibuk menghadap tenan – tenan yang berebutan mau mengisi kios maupun lapak di bangunan ini. Begitu pun kamu, kamu sudah sibuk mengetik beberapa data dan laporan dia dua layar terpisahmu, tidak sekalipun matamu tertangkap menatap layar ponselmu. Ya.. bisa diambil kesimpulan mungkin kamu lagi sendiri, ya. Jadi kesempatan mendekatimu semakin besar.

“Halo Pagi Pak, iya, begini Pak, tenan kami untuk Apparel sudah penuh. Bukan Pak, bukan begitu, sebelumnya kami sudah menjelaskan kontraknya seperti apa, tapi tidak ada follow up dari Bapak. Jadi saya tidak berani menjamin kalau Bapak akan seratus persen deal dengan kami.”

Aku mengamatimu, bertopang dagu dari kejauhan, posisi aku dari sini sempurna, tidak ada penghalang tidak ada batasan.Dari sini aku dengan jelas mendengar segala perbincanganmu dengan klien, melihatmu  mengacak – acak rambutmu sendiri karena pusing dengan kelakukan klien, bahkan sampai melihatmu power nap setengah jam sebelum istirahat berakhir. Aku suka segalanya tentangmu, dari sini.

Mungkin hari ini harusnya aku memberanikan diri untuk mendekatimu, membiarkanmu melihatku, memperhatikanku.

Dan mungkin saatnya aku harus masuk ke pikiranmu.

“Lan, Alan!! Lo kenapa!?!?” Seorang pemuda di sebelah kubikel mengguncang – guncang lenganku, aku sontak menepis.

“Apaan sih? Aku Siti Aimah!! Bukan Alan,” teriakku, kesal, karena menganggu kegiatanku mengamatinya, loh kok dia hilang?

“Woi, eh eh, elo, panggilin Pak Haji, si Alan kemasukan nih!!” Pemuda di depanku panik sekali, tatapannya cemas ke arahku.

“Eh, aku Sitiii, Siti Aimah!!! Bukan Alan!!” Teriakku makin keras, berontak, pemuda di depanku memegang diriku lebih erat lagi, aku semakin berontak.

Beberapa pemuda sekarang memegangiku, keras, “Lan bertahan ya Lan, Lan elo Alan, bukan Siti, nama lo Alan Narendra!!”

Jleb

Aku sadar akan kesalah yang kubuat saat ini, keinginanku untuk mendekatinya kelewat batas. Aku merasukinya.

ImageThis picture was taken from here

 

3 Comments Add yours

    1. ape lo jlab jleb jlab jleb?
      rajin kunjung yee

      1. Hahaha. Jleb, tu cowok aku kan :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s