Resensi Novel: The Coffee Memory by Riawani Elyta

Poto Kopo

Judul buku : The Coffee Memory
Penulis  : Riawani Elyta
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah hal. : vi + 226 halaman
Tahun terbit : 2013

Hidup Dania bahagian, dengan kehadiran Andro yang berhasil membangun impiannya membuka Katjoe Manis dan Sultan, malaikat kecil yang selalu menghiasi hari – harinya. Sampai suatu hari Dania harus merelakan kepergian Andro dan keputusan apakah meneruskan impian Katjoe Manis atau menyudahinya sampai di sini.

Saat aroma kopi itu menjauh, kusadari bahwa kau tak mungkin ketemukan lagi

Seperti aromamu yang terhempas oleh butir udara, meninggalkanku dalam sunyi yang dingin

Kafe Katjoe Manis mengisi di salah satu sentra keramaian di Nagoya – Batam, kafe ini dirntis oleh Andro saat Dania tengah hamil muda. Di sinilah Andro mencurahkan waktunya untuk merancang sendiri kafe bahkan sampai situsnya yang dijadikan sebagai promosi.

Kepergian Andro otomatis membuat Dania harus berjuang sendirian, keinginannya untuk menutup Kafe Katjoe Manis tersebut harus ia urungkan tatkala para karyawannya memilih untuk berjuang bersama mempertahankan kafe tersebut.

Seseorang bernama Barry datang sebagai barista yang memberi warna baru di kafe ini. Pengalamannya tidak terlalu tinggi dibandingkan dengan almarhum suami Dania, namun keinginannya yang besar untuk belajar membuat Dania ikut mengawasinya, walau sempat ada rasa curiga pada awalnya karena berdasarkan CV bahwa Barry pernah berkerja di coffee shop terkenal bernama Black Canyon Cafe, namun mengapa Barry memutuskan untuk berada di sini?

Tantangan Dania dan para karyawannya datang saat seseorang dari masa lalu Dania yang bernama Pram datang dan membuat kafe jenis serupa tidak jauh dari Kafe Katjoe Manis berdiri, yang bernama Bookafeholic, eksistensinya yang sudah membuka banyak cabang di Jakarta membuat Katjoe Manis harus bisa membuat strategi promosi secara total.

Tidak berhenti sampai situ, beberapa karyawan seakan mulai tergiur oleh tawaran Bookafeholic, seperti Yayan, barista  yang sudah lama berkerja di Katjoe Manis pun hengkang dari kafe ini dan memutuskan untuk bergabung di Bookafeholic, kecemasan Dania pun bertambah bagaimana bila Barry ikut memutuskan untuk pindah ke kompetitor tersebut.Terlebih lagi beberapa coffee shop dengan konsep senada dengan Katjoe Manis perlahan – lahan tumbuh di sekitar ruko tersebut.

Apakah Dania akan melakukan sesuatu agar Katjoe Manis tetap bertahan?

Dan benarkah ada maksud terselubung baik dari Pram dan Barry terhadap kKafe Katjoe Manis tersebut?

***

Ketertarikan dengan covernya yang seperti bungkus kopi tubruk lama membuatku memutuskan untuk membelinya, saat dibuka isinya, wah.. cover dalamnya lebih menggiurkan lagi, biji biji kopi yang bertebaran dengan acak. Aduh jadi mau kopi..

Tokoh Andro sebagai suami Dania tidak banyak dibahas di sini, sayang sekali, padahal menurut aku sendiri tokoh Andro cukup sentral karena dia menjadi pioneer hadirnya Kafe Katjoe Manis tersebut. Tapi itu nggak menjadi masalah karena tokoh ‘aku’ (Dania) di sini cukup baik menjelaskan segala cerita tentang suaminya.

Plotnya sendiri setelah memasuki tengah mulai agak datar, mungkin karena tidak banyak konflik yang benar – benar besar di sini, semuanya dapat diselesaikan tanpa banyak perdebatan batin yang lama, namun saat mulai di akhir, aku menemukan banyak hal yang menarik, dari peralatan kopi yang sudah langka dibahas di sini, dari ibrik, percolator, penggiling bilah dan sebagainya. Banyak pengetahuan yang aku dapat di sini, tidak hanya tentang kopi tersebut tetapi juga peralatan lama untuk membuat kopi. Pemecahan di sini pun mulai lebih beragam dan di akhir mulai menyenangkan untuk dibaca.

 

7 of 10 aku berikan untuk novel ini. Whoo – hoo!!

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s