Di Jalur Jurang Menyipir Bawakaraeng

ImageLangkahnya terhenti, diikuti dengan langkahku yang selaras mengikutinya, Taka mempersilahkan para pendaki untuk menyusulnya, bukan sekali kami berkunjung ke sini, sehingga sudah tahu bahwa setelah ini kami lebih memilih untuk mendirikan tenda di Shelter Bukit Tallung alih – alih melanjutkan kembali perjalanan yang sangat melelahkan.

“Kita harus terus jalan,” aku menggamit lengan Taka, menyerap kehangatan dari badannya yang besar dan tegap dengan carrier 100 L di punggungnya.

Raut wajahnya penuh duka, aku tahu, jalur perjalanan pulang yang berbeda malah akan mencapai puncak emosinya di jalur menyipir ini bagi Taka.

Perjalanan Duka, aku menyebutnya seperti itu, dan aku lebih memilih untuk bolos dari pekerjaanku untuk bisa berada di samping Taka.

“Tidak terasa yah sudah empat tahun sejak perjalanan kita ke tempat ini.” Tangannya mengusap – usap jaketnya dengan cepat, lalu menggenggam tanganku. Hangat.

“Dan kamu berjanji akan kembali ke sini,” tambahku, mengingat janjinya saat aku masih menjadi junior di grup penelitiannya, dan Taka menjadi pembimbingku, yah.. sejak itu, perasaan itu tumbuh.

Sampai saat ini.

“Aku berjanji kembali bersama Dilla.”

Aku menahan napas, mengingat lagi wajah manis perempuan itu membuat hatiku perih, airmata tidak dapat kutahan, aku tidak dapat mengontrol semuanya saat  nama itu disebut. Bulir – bulir hangat airmataku pun mengaliri pipiku yang dingin.

“Bukan kamu yang salah, bukan.. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Maafkan aku, ya?” Taka menghapus airmataku, memelukku, aku memeluknya erat.

Ingatanku kembali ke 4 tahun lalu, saat aku dipercaya menjadi sweeper saat menuju ke Dusun Panaikang  dan Dilla menemaniku di jalur ini melewati ramma.

Aku teringat kemarahanan yang tidak dapat kutahan kepadanya.

Aku teringat tatapan Daeng Supu dua hari lalu sebelum pendakian ini dimulai, seakan tahu apa yang terjadi di atas sana empat tahun lalu.

Kemarahan yang didasari rasa cemburu.

Dila dan Taka, yang saat itu bersama. Aku mendorong Dila ke jurang sedalam 500 m di Jurang Menyipir Bawakaerang.

Tidak ada saksi mata.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s