Tiga Koma Satu Meter

“Lihat tuh Sony, gaya katak kayak badak masa,” Lintang tergelak di pinggir kolam, diikuti oleh tawaku yang sudah tertahan dari tadi. Memastikan tidak mata Pak Pelatih tidak mengerling galak ke arah kami, kami meneruskan mengolok – olok cowok bertubuh tambun itu. Terlihat dari kejauhan Sony yang kesusahan memperagakan gaya yang sudah khatam aku lakukan dari kecil di kolam renang terbagus di kawasan Jakarta Selatan ini.

“Lagi sih, udah tau gendut fitness aja kek daripada berenang,” lirik Lintang ke obyek yang dituju, sinis, karena anak baru itu telah menyita perhatian Pak Pelatih beberapa minggu ini.

Aku menyenggol Lintang, “kita kerjain aja, yuk.” Aku  menyeringai jahil, yang disambut oleh anggukkan penuh semangat dari sahabat les renangku dari umur lima tahun ini. Aku membisikkan sesuatu yang  membuat Lintang tersenyum lalu  memelukku sesaat.

“Kamu cerdik!!”

Aku dan Lintang menghampiri Sony, seperti biasa, aku dengan gaya dada andalanku, dan Lintang menunjukkan kebolehannya dengan menyelam sampai dasar seperti ikan duyung, lalu muncul di permukaan air secara tiba – tiba. Sony terlihat kelelahan, nafasnya ngos – ngosan walau berada di dalam air, tangannya menggenggam erat tangga besi di pinggir, mengatur nafas.

“Son, main tahan – tahanan, yuk.” Lintang menantang Sony, berani.

“Maksudnya apa?” Sony menatap heran, lalu raut wajahnya menjadi ragu saat Lintang menunjuk ke satu titik, titik dengan kedalaman 3.1 meter di ujung sana.

“Gimana?” Lintang menunggu jawaban, Sony ragu, namun pasti di pikirannya mempertimbangkan semuanya, termasuk risikonya.

“Jangan cemen ah.” Aku menambahkan, memanas – manasi cowo tambun itu.

“Oke, yuk kesana!!” Aku langsung meluncur ke spot terdalam di kolam ini. Panjangnya hampir 100 meter, namun semakin ke Utara semakin dalam, sampai di titik yang paling sedikit dikunjungi orang, 3,1 meter.

Setelah semua berkumpul, kami membuat kesepakatan, siapa yang cepat muncul ke permukaan dia yang kalah, dan yang kalah pertama akan melayani seluruh permintaan sang pemenang. Aku tidak pernah khawatir, sudah menebak, kalau tidak aku ya Lintang yang menang. Aku pernah menahan napas sampai 2,5 menit, Lintang pernah lebih lama lagi. Siapa pun yang menang, pasti kita berdua.

“Dimulai ya, satu.. dua.. tiga.., hap!!” Kami bertiga menenggelamkan kepala kami, berhadapan, tanpa kacamata renang.

Tidak sampai hitungan dua puluh detik Sony sudah membawa kepalanya ke permukaan air, dan berenang menuju pegangan besi di pinggir kolam. Aku tersenyum ke arah Lintang, senang atas perkiraan kita berdua sebelumnya.

Sekarang lawannya tinggal kamu, Lintang.

Aku memejamkan mata, biasanya dengan memejamkan mata akan lebih konsentrasi untuk menjaga cadangan napas di paru – paru. Aku belum mendengar Lintang mengangkat kepalanya.

Dua puluh detik lagi, Qis

Saat menahan napas terlalu lama dan memejamkann mata, maka kamu akan merasa lebih tenang dan lebih sunyi, dan aku menikmati sensasi tersebut.

Lalu aku mendengar Lintang bergerak, sedikit tidak sengaja menyentuh kakiku.

Dua puluh detik tambahan kalau begitu

Dalam waktu dua puluh detik sebelumnya, Lintang sudah mengangkat kepalanya, kira – kira masih 3 menit kurang ketahanan napas Lintang. Artinya sekarang saatnya pemecahan rekor bagi Balqis Zylvanya, sebagai murid Pak Pelatih dengan ketahanan napas paling panjang di umurnya!!!

Sepuluh detik lagi

Aku tetap memejamkan mata dan sengaja menulikan pendengaran, bunyi kecipak kecipuk Sony masih menggangguku, maka dengan menulikan pendengaran – seakan tidak mendengar apa – apa, aku mampu berkonsentrasi ke pengaturan cadangan oksigenku yang mulai menipis.

Oksigennya mulai habis

Aku tetap menghitung, dalam tempo lambat. Kalau aku menghitung dua puluh detik lagi, aktualnya adalah ketahananku tadi sebelum Lintang akhirnya ke luar dari dalam air adalah empat puluh detik, maka dalam waktu empat puluh detik secara aktual, aku punya ketahanan selama hampir 4 menit!!

Ini pasti rekor!!

Aku benar – benar sudah tidak kuat. Aku sudah tidak mendengar apa – apa lagi, dan segalanya menjadi lebih tenang. Aku sudah membayangkan Sony yang harus berlari dengan tubuh tambunnya, menyediakan pisang untukku sebelum dan sesudah latihan, tapi untuk porsi dua orang, karena aku akan membagikannya dengan Lintang.

Paru – paruku mulai terasa panas, otakku mulai mendidih, seakan kesal karena perintah untuk mengisi rongga pernapasanku dengan udara tidak juga dilaksanakan. Lalu akhirnya..

“Huwaaah!! Aku berhasil!!!” Aku akhirnya ke luar dari dalam air, merasakan rongga – rongga paruku kembali riang menangkap partikel oksigen dan sedikit partikulat yang langsung ditangkap oleh alveolus – alveolus di dalam paruku. Aku merentangkan tanganku yang seketika kebas karena terlalu banyak diam di dalam air tanpa banyak gerak.

Aku bahkan merasa terbang saking senangnya.

Aku seperti terbang, senang, rekor yang akan membuat Lintang sedikit cemburu dan tentu saja membuat Pak Pelatih senang dan sedikit – banyak mengesampingkan Sony si cowok badak itu.

“Sepuluh menit!!!” Teriak Lintang, yang sudah naik di atas, aku masih merasakan sensasi terbang – senang tersebut ketika..

“BALQIIIIISSSS!!!!!” Lintang tersungkur lemas, berteriak memanggil namaku dengan kerasnya, Sony dengan wajah panik merangkul Lintang di daratan sana, dan Pak Pelatih mondar – mandir dengan telepon genggamnya, wajahnya menunjukkan kekhawatiran atau merasa ada yang salah dengan prestasi yang aku torehkan tadi.

“Sepuluh menit?!?!!” Aku berteriak, masih di kolam, menuju ke daratan, tempat Lintang yang sedang duduk di tanah dekat sesuatu. Lintang tidak bereaksi, tetap menatap benda di bawahnya, aku penasaran itu apa.

“Balqis, kamu begooo!!!”

Apa –apaan Lintang? Baru naik udah dibilang bego!!

“Maksud kamu apa sih.. “

Aku menarik napas, entah napas siapa apakah hanya sugesti kalau aku masih bernapas, di dekat Lintang, jasadku terbujur kaku. Itu aku.

“Nggak lucu, Qis.. taruhanmu tadi nggak lucu..” Lintang sesenggukkan, memeluk kembali aku.. jasadku..

Image

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s