The Storyteller (1) #1

Satu emosi berharga mahal, coba cek berapa harga per gram emas hari ini?

Ya, satu emosi berharga 10 kg emas murni

Bersyukurlah hidup di zamanmu, semua emosi kamu dapatkan gratis

Hanya mengernyitkan keningmu, kamu mendapatkan kekesalan

Hanya menarik syaraf di sekitar bibirmu, kamu mendapatkan senyuman

Hanya tercubit sesuatu, kamu mendapatkan sakit

Sesederhana itu

Aku cemburu, cemburu hidup di masamu yang lalu

Ketika cinta mampu mengungkap ribuan emosi.. – Kemilau Harapan –

***

“Pokoknya Kak Elena harus cerita!!” Ishaq menggembungkan pipinya, menatap sepupu tertuanya dengan kesal. Elena menghela napas, menyerah.

“Belum ada bahannya, aduh.. Kakak harus cerita apa, ya?”

“Apa aja!!” Balas kelima sepupunya kompak, raut wajahnya tidak sabaran, penasaran.

“Hmmm..” Elena memutar otak, padahal pikirannya sedang buntu untuk mencari inspirasi, apalagi yang mereka mau dongeng, mereka protes kalau diceritakan tentang film – film terbaru yang Elena tonton baru – baru ini. “Nggak orisinil. Aku mau lebih!! Dari Kakak Elena!!” jawab Abel, sepupunya yang masih berusia 5 tahun, saat ditanya alasannya.

“Aku mau dongeng putri – putrian, Kak Elena.” Eboni merayu Elena, gadis mungil dengan pipi gembil berumur delapan tahun tersebut memijit – mijit kaki Elana, matanya menatap Elena penuh harap.

“Nggak mau, aku maunya berantem – beranteman, hyatt.. hyatt.. hap hap hap!!!” Abel langsung meninju udara dan menendang – nendang sembarangan, kakinya hampir mengenai Eboni, lalu Eboni berteriak kesal, “Abel nakal!! Abel nakal!! Kakak Elena nggak boleh cerita tentang berantem – beranteman, nanti Abel makin nakal!!” Wajahnya merah, kesal, tapi namanya anak kecil, beberapa menit kemudian mereka sudah tertawa – tawa lagi. Sambil menunggu kelima sepupunya melupakan kehadirannya sejenak, Elena bisa sedikit bersantai dan tidak memaksakan pikirannya menjemput inspirasinya yang masih lega itu, alias kosong, belum ada.

Ini semua gara – gara tante Latea!!, keluh Elena dalam hati. Dirinya masih ingat dua minggu lalu Tante Latea datang ke pertemuan rutin keluarga besar yang saat itu bertempat di rumahnya.

***

“Semuanyaaaa.. dengerin Latea!!” Suara Tante Latea yang nyaring memecah keramaian selepas makan siang bersama di kursi panjang yang memuat seluruh anggota keluarga besar Elena. Semua mata menatap ke arah Tante Latea, kecuali kedua anak remajanya yang menutup mata dengan tangannya, malu sendiri akan kelakuan Bundanya.

“Jadi.. Latea iseng beli majalah ini,” Tante Latea mengeluarkan majalah terbitan baru yang berisi kumpulan dongeng dan cerpen, majalah “Katha”, dari bahasa Telugu yang berarti “Cerita.”

“Majalah apa itu, Tante?” Tania, sepupu Elena yang berusia sepuluh tahun menatap majalah tersebut dengan antusias, melihat buku atau majalah matanya seakan terhipnotis.

“Ini.. kumpulan cerita dan dongeng gitu, dan..”

“Duh to the point aja sih, Bunda.” Keira memotong ucapan Bundanya, kesal karena terlalu banyak mengulur waktu, tipikal ibu – ibu gosip.

“Ada satu cerita bagus banget, eh dongeng apa cerita, ya? Kalau kerajaan – kerajaan itu namanya dongeng ya, Kei?”

Elena melirik Kakek dan Nenek, yang masih tersenyum maklum terhadap kelakuan putri bungsunya itu, “Dongeng, Latea. Lanjutkan.” Nenek menjawab dengan sabar rentetan pertanyaan Latea.

“Ada yang judulnya, ‘Dan Haart King Koen’, ceritanya baguuuus.. banget, dan ditulis atas nama…” Tante Latea mengedarkan pandangan ke puluhan anggota keluarga besarnya yang menatapnya tidak sabar.

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s