The Storyteller (2) #1

“Iya, itu aku.” Elena akhirnya berdiri, tidak sabaran atas basa – basi tantenya.

“Ah Elena siiih.. nggak asik, kan mau suprise..” Tante Elena merengut, seperti anak kecil.

Namun pengakuan Elena tersebut cukup mengejutkan semua keluarganya.

“Kamu bisa nulis? Sejak kapan? Siapa yang ngajarin? Kamu bahkan nggak suka baca” Ibu Elena – yang sifatnya sebelas dua belas sama Tante Elena memberondong anak semata wayangnya dengan pertanyaan. Bagaimana tidak, Elena dikenal sebagai perempuan yang tidak suka membaca, malas buka buku, tukang tidur, kerjaannya mendengarkan musik mulu dan bernyanyi – nyanyi dengan sumbangnya, maka dari mana hobi itu datang?

Aku kan Cuma nggak suka baca buku pelajaran, omelnya.

Dan hari itu, seluruh Om, Tante, bahkan sepupunya menjadikan Elena menjadi topik pembicaraan yang hangat, sampai – sampai mereka merunut dari garis keturunan sampai ke buyutnya Nenek, mengira – ngira siapa yang mempunyai bakat menulis, apalagi seluruh keluarganya tidak ada yang mempunyai profesi menulis atau pernah menerbitkan buku.

“Kita sih sudah punya buku, buku nikah,” celetuk Ibu, disambut tawa adik – adiknya yang terbahak – bahak, anak – anaknya hanya mengernyitkan dahi, heran.

It’s just one story published, jangan terlalu berlebih deh. Elena memilih untuk masuk kamar, masa bodo dengan topik pembicaraan mengenai dirinya.

Tapi sejak perbincangan itu, efek terbesar muncul pada sepupu – sepupunya yang masih kecil.

***

“Kakak Elena pinter bikin cerita dongeng, jadi harus bisa mendongeng juga,” Ishaq kembali merajuk.

“Iya, nih kakak udah dapat ilhamnya..” Mata Elena memejam sesaat, menjemput inspirasi yang sebentar lagi datang dan siap disalurkan di hadapan kelima sepupu ciliknya tersebut.

Suasana rumah Ishaq, lokasi pertemuan akbar keluarga besarnya sepi, para orangtua dan kakek neneknya ke luar untuk belanja, semua sepupu Elena yang sepantar memilih ke kamar santai, main games atau bermain gadget, Elena bersyukur kelima sepupunya masih mau menghabiskan waktunya untuk mendengarkan cerita dan membaca.

Elena menarik napas panjang, membiarkan oksigen murni tanpa radikal bebas dan partikulat berbahaya – masuk ke relung paru – parunya, kesejukan yang sudah langka didapat di Ibu Kota, sehingga harus menempuh jarak ratusan kilometer agar mendapatkan udara seperti ini di tepi kota Cianjur.

“Kalian pernah membayangkan hidup tanpa emosi?” Elena membuka cerita dengan pertanyaan.

“Maksudnya, Kak?” Eboni memiringkan kepalanya, khas Eboni, saat dia sedang kebingungan.

“Coba Ihrin, kamu senyum.” Elena menyuruh sepupunya yang berusia sebelas tahun untuk tersenyum, sebaris gigi dengan kawat berwarna merah muda berderet rapi menghadap Elena.

“Oke, kamu bayar seratus ribu rupiah.”

“Hah buat apa, Kak Elena?” Ihrin hendak protes, tadi disuruh senyum, sekarang disuruh bayar.

“Karena kamu udah senyum, jadi kamu harus bayar. Terus tadi kamu marah, jadi kamu harus bayar juga.”

Ihrin mengerucutkan mulutnya, hendak protes, namun keempat sepupunya tergelak, Kak Ihrin dikerjain, hahaha..

“Bagaimana kalau seandainya kalian harus membayar dengan uang, kalau kalian mau.. tersenyum,” satu jari Elena dimajukan ke arah mereka, “marah,” jari berikutnya pun ikut maju, “dan.. menangis, tertawa, kesal, semua harus bayar, semua ada biayanya.”

Kelima sepupunya memiringkan kepalanya sejenak, Elena tersenyum jahil.

“Kok.. bayar?” si kecil Abel bertanya dengan polos.

“Karena Kak Elena akan menceritakan suatu cerita, nyata.. berdasarkan pengalaman Kak Elena sendiri.. Kakak pernah merasakan berkunjung ke..” Elena memelankan volum suaranya, melambatkan temponya.

“.. negeri yang penduduknya tidak mempunyai emosi sama sekali..” (bersambung)

//

2 Comments Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s