Tawa Bilik Toilet

 

 Image

Bangunan mal besar yang tidak diimbangi dengan fasilitas toilet yang layak. Ketika pembangunan mal terfokus pada ekspansi lahan dan struktur bangunan sehingga terlihat semakin luas dan tentu saja comfy, tapi tidak dengan toiletnya. Beginilah toilet di salah satu mal besar dan sudah lama ada di sekitar Jakarta Barat ini, my confession, pertama kalinya aku ke mal ini, ikon Farah Soraya sebagai duta wisata mal gagal di sini.

Oke, lalu ketika panggilan alam kecil datang (tidak bijak rasanya menyalurkan panggilan alam besar di fasilitas umum seperti mal ramai ini), aku menuju toilet mal yang.. bukan dibilang tidak layak, namun kurang. Dengan bilik toilet yang sangat jadul (11-12 sama bilik toilet bandara – bandara di Sumatera, hmm, oke ngga jauh – jauh, Bandara Soetta), namun ditolong karena jumlahnya cukup banyak.

Hanya sedikit orang yang berkunjung ke toilet tersebut, hanya 2 – 3 pintu tertutup dari total 7 bilik di sana, ditawarkan pilihan, Anda mau jongkok atau duduk manis dalam gaya penyalurannya, hmm..  Aku memilih untuk mengantre di depan seorang ibu. Aku terpaku dengan satu ibu – ibu bergamis hijau yang melongok ke empat bilik toilet di depanku dengan tampang aneh, merasa takut keempatnya tidak layak digunakan, karena ibu tersebut memilih untuk tidak memasuki salah satu dari ruangan  tersebut (jadi kalau memang benar – benar rusak, aku ancang – ancang ngomel ke petugasnya). Empat toilet tersebut masih kosong, di sebelah kanan terisi penuh, dan satu orang keluar dari bilik di samping tersebut, toilet jongkok, oke, nggak apa – apa. Tapi ibu – ibu tersebut tidak kunjung masuk, selain curiga ada apa-apa di empat bilik tersebut, si ibu pun tidak masuk ke toilet jongkok tersebut, aku pun mendekatinya.

“Bu, mau masuk apa nggak?” Aku menunjuk salah satu dari empat bilik toilet duduk tersebut, karena aku merasa tidak ada masalah apa – apa di sana.

“Hmm..” Si Ibu menatap ragu keempat toilet tersebut, dan toilet duduk tadi pun telah berpenghuni akhirnya.

Aku menunggu jawabannya.

“Nggak, itu.. “ Si Ibu menunjuk toilet duduk tersebut.

“cara ceboknya gimana, yah?” Lanjutnya, pelan.

“Itu ada puterannya Bu, pake sentoran yang di dalam toiletnya itu, airnya keluar dari sana,” aku menunjuk bagian tengah toilet duduk tersebut, yang kerannya tidak diputar rapat oleh penghuni sebelumnya sehingga sedikit aliran air masih mengalir di tempat itu.

“Oh..” Si Ibu memegang lenganku pelan, “ya udah adik aja yang duluan,” cengirnya, malu – malu.

Dan aku memasuki bilik toilet duduk yang tidak bermasalah tersebut, dan aku.. berhasil menahan tawaku depan ibu – ibu tersebut. Dan.. aku, puas tertawa di dalam bilik toilet duduk tersebut.

2013.. seseorang bertanya bagaimana caranya cebok di toilet duduk tersebut.

*menahan geli*

*lanjut buang air kecil*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s