Kapur Infra Merah

Hujan deras, dengan ukuran tetes airnya yang besar – besar, menempa si bangunan tua, berbentuk dari kapur yang masih kuat, kapur/calcium, porous, yellowish white. Tidak akan hancur, walau dimakan usia dan ditempat tajamnya efek gravitasi tetes hujan tersebut.

“Sini kamu masuk ke dalam sini,” si lelaki menunjuk ke arah dalam bangunan yang sudah hancur, lebih menyerupai gua. Si lelaki menggenggam tangan si perempuan.

“Aku takut..” Hari itu hari biasa , sedikit pengunjung yang mendatangi cagar alam tersebut, berkutat dengan ilmu atau pekerjaan yang menumpuk. Hanya si penjaga tiket, si tour guide, si lelaki dan si wanita.

“Tidak perlu, percaya sama aku,” si lelaki menarik tangan si wanita ke dalam gua tersebut. Si penjaga pun hanya menatap sekilas mereka berdua, tidak perlu dicegah karena cukup aman untuk masuk ke dalam sana.

Beberapa menit kemudian mereka berdua keluar dari gua tersebut, mengagumi peninggalan kuno yang masih tersimpan rapi di dalamnya.

“Anehnya, di sana hangat,” si wanita memeluk badannya sendiri, kedinginan.

“Iya, karena.. kalsium itu menyerap panas,” si lelaki memeluk juga badannya, walau tidak terlalu merasa kedinginan, ditatap lagi sahabatnya, dan diberikan jaketnya ke si wanita, wanita membalasnya dengan senyum manis, yang membuat si lelaki sesaat salah tingkah.

“Jadi, bebatuan, bangunan dari kapur atau kalsium itu berpori – pori, sehingga dapat menyerap panas. Sehingga, saat penggalian bangunan kuno, para antropologi menggunakan sensor infra merah dan memulai pencarian pada malam hari, karena kapur menyerap panas, maka akan terlihat merah dari alat sensor tersebut.” Jelas si wanita panjang lebar.

“Makanya kenapa orang purba tinggal di gua, ada apa di sana? Gelap? Kenapa tidak rumah dari pohon saja, di atas sana, karena..”

“temperatur di dalam gua malah lebih hangat daripada di luar gua, karena panas yang tersimpan itu.” Lanjut si wanita.

“Berapa kilojoule?” Tanya si lelaki, mengetes si wanita.

“Ah tidak tahulah, kayak kamu tahu saja” Si wanita menggedikkan bahu, protes dengan pertanyaan seperti itu.

“Dan aku masih kedinginan saja,” si wanita mengeluh, padahal sudah merapatkan jaket dari sahabatnya itu.

Bug

Si lelaki memeluk erat si wanita, mendekap rapat, menciptakan kehangatan di antara keduanya. Pipi si wanita bersemu merah, namun senang.

“Jadi, berapa kilojoule pelukanku tadi?” Tanya si lelaki, menatap jahil si wanita.

“Entahlah, yang pasti, walau kamu bukan bebatuan kapur, kamu menyimpan kehangatan untukku.”

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s