Land of Voidity, Greulopolis (1) #2

Recent Chapter:

The Storyteller 1 #1

The Storyteller 2 #1

 

 

Suasana di taman belakang rumah mendadak hening, kelima sepupunya menunggu Elene memulai satu kata, dan melanjutkannya. Elena menatap kelima sepupunya yang umurnya berbeda – beda, si kecil Abel, Ishaq, Eboni,Ihrin dan Keira – yang sedari tadi masih belum lepas dari gadgetnya, tapi memilih untuk bergabung dengan Elena.

“Ada satu negara yang menutup diri dari dunia. Beberapa ribu tahun kemudian, saat kita musnah nanti, tanah – tanah di seluruh Bumi ini menyatu. Kenapa? Kalian tahu?”

“Karena lautan habis, sehingga daratan muncul perlahan – lahan, terlihat,” Ihrin duduk paling depan, menjawab dengan cepat, antusias.

Elena menganggukkan kepalanya, tersenyum.

“Dan seperti zaman Dinosaurus kemarin, Bumi lagi – lagi berevolusi dan membentuk daratan yang saaaaaangat luas,” evolusi itu apa, Kak?

Elena melirik Abel yang kebingungan dengan beberapa kata yang dia ucapkan, Elena ingat, ada anak sepupunya yang masih berumur lima tahun yang kosakatanya masih belum terlalu luas. Keira lalu melepaskan gadgetnya dan berbisik ke Abel, menjelaskan, Abel mengangguk, tersenyum, “lanjut, Kak!”

“Bumi luas banget, kan? Besaaar sekali, tapi ada satu daratan kecil, yang terpisah, daratan ini tidak menyatu dengan daratan besar ini, terpisah karena evolusi besar – besaran yang kurang sempurna, sehingga daratan kecil ini seakan terpisah, terkucilkan, nama negeri tersebut adalah Gruelopolis, dan nama negeri yang besar adalah Śāntatā sthaḷa. Gruelopolis si Daratan Kecil, dan Śāntatā sthaḷa si Daratan Besar.” Elena menunjuk globe yang sudah disiapkan dari awal, menunjukkan betapa luasnya Śāntatā sthaḷa dan kecilnya Gruelopolis.

Lalu Elena mengubah suaranya, menjadi berat dan terkesam seram, suaranya yang sedikit bariton semakin menyamakan gambaran makhluk – makhluk tersebut.

“Kami, adalah warga dari Daratan Kecil bernama Gruelopolis, Kota Akhir Dunia, mereka menyebut kami seperti itu. Kami dilahirkan berbeda dengan mereka di Daratan Besar. Kami tidak pernah merasakan emosi, kami tidak pernah merasakan bahagia, tangis, amarah, kecewa. Kami disebut ‘makhluk’ oleh mereka. Kami dianggap tidak ada.”

Elena berdehem, lalu mengubah kembali suaranya, lebih lembut, hampir sopran, berbicara seperti warga Dataran Besar.

“Kami adalah warga dari Daratan Besar bernama Śāntatā sthaḷa, Kota yang Transparan. Kami sama. Kami merasakan senang, amarah, tangis, bahagia. Kami percaya bahwa Gruelopolis adalah fana, tidak nyata, dan harus segera dibumihanguskan, dihabiskan, sehingga tidak mengganggu ketenangan kami.”

Elena kembali ke suaranya yang asli.

“Jadi, dari sisi mana ya aku bercerita.. si Daratan Besar atau Daratan Kecil?”

“Yang besar!!” Abel berteriak duluan.

“Nggak, yang kecil dulu aja, Kak!!” Ihrin dan Eboni tidak mau kalah.

“Yang kecil dulu aja,  yang minoritas, Kak!” Ishaq menimpali.

“Terserah aja,” sahut Kei, cuek.

Lalu, Elena menggambarkan sesuatu di kertas A4 yang sudah dia sediakan juga dan spidol – spidol, lalu Elena mulai menggambarkan sesuatu dan menunjukkan ke sepupunya.

“Ini adalah Demios, Sang Pencipta, Dewa dari negeri Gruelopolis. Demios mempunyai pikiran yang ditanamkan ke semua rakyat Greulopolis, bahwa emosi tidaklah lebih dari hal yang negatif, apa yang mereka kejar tidak lebih dari sebuah hal – hal yang kotor. Perang, dari kesedihan, pemberontakan, kemarahan, kebencian, bahkan dendam. Tidak ada hal yang menguntungkan dari segala tawa, sukacita, dan kesenangan. Pandangan itu yang Sang Pencipta – Demios tanamkan hal itu kepada rakyatnya, turun – temurun sejak dilahirkan sebagai anak buangan dari Zeus.”

“Ehem..”

Elena melihat Abel menuliskan sesuatu di atas kertas dengan tulisan yang besar – besar dan belum terlalu bagus, “kamu ngapain, Bel?”

 

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s