Velocity Zer0

The situation begins with motorcycle traveling at a velocity v and it ends with a velocity of 0. Then, bams!!! It’s over..

 

Aku berlari dan menghentikan sebuah taksi dan menyuruh si sopir untuk segera pergi meninggalkanmu. Adegan drama yang berlebihan, tapi lebih baik menjauhimu daripada berlama – lama melihatmu, tidak berpakaian – begitu juga dengan wanita jalang itu yang sama – sama tidak berpakaian.

Meninggalkanmu.

Lantas, kamu terus menghubungiku seakan aku dengan sukarela akan mengangkatnya, dan kamu terus mengirimkanku pesan seakan aku membacanya. Walau ya, aku membacanya sekilas lalu melemparnya ke samping kananku.

Aku akan menyusulmu, aku bisa jelaskan semuanya, katamu. Lagi – lagi sama, kata standar, drama.

Karena menurutku tidak ada yang perlu dijelaskan, menyusulku membutuhkan waktu yang lama, iya, untuk dia berpakaian, untuk mencium pamit bibir selingkuhannya – kalau dia tidak marah. Sialnya, dia pasti hafal nomor taksi ini, ingatannya cukup kuat. Intinya, dia akan mengejarku, dan membujukku kembali seakan hal itu tadi tidak perlu diungkit kembali.

“Hhhh..” Aku lelah, menyembunyikan rapat rasa sakit ini, dan ini puncaknya. Lalu aku mengatakan ke sopir taksi untuk segera masuk tol.

Bagaimana dia akan mengejarku kalau di jalan tol, kan?

Dan dari spion kecil di sebelah kiri aku melihat motornya, motornya yang dari kejauhan melaju cepat, meliuk – meliuk mencari taksiku.

Sial!!

Aku menyenderkan kepalaku lebih dalam, aku menyuruh sopir taksi mematikan argonya, agar lampu taksi menyala, seakan tidak ada penumpang. Dan sopir taksi itu menolak, menyalahi prosedur katanya. Aku sempat melirik kartu identitasnya, tiga bintang tersemat di sana. Wajar, dia sudah seperempat abad berkerja di sini.

Aku tidak ingin menemuinya, muak. Dan motor pun semakin dekat di lajur kiri, aku harus pergi, dan aku membuka pintu kiri.

BRAKKK!!!

Hukum ketiga Newton. Gaya ke arah pintu taksi yang terbuka sama besarnya dengan gaya yang diberikan pintu taksi ke arah motor.

Aku belum sempat ke luar, motor dengan kelajuan cepat tersebut membentur pintu taksi, tekanan besar, bunyi yang keras, pantulan yang menyakitkan, pengendara motor tersebut terpelanting jauh, sepuluh meter, dengan kepala tanpa helm yang membentu ke pembatas besi jalanan tol.

“AAAAAAAAAAA!!!!! NIKOOOOOOO!!!!AAAAAA…” aku berteriak keras, histeris.

Aaaaa…ku senang sekali, mati saja kau!!!!

Histeria kesenangan dalam hatiku saat ini.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s