(im)perfection

Selulosa adalah serat, baik untuk pencernaan. Maka tidak akan pernah salah kalau aku mengonsumsinya banyak – banyak.

Aku memakan kembali selulosa tersebut. Aku kelaparan, sangat lapar. Air mineral itu tidak akan bisa menghilangkan dahaga dan rasa lapar ini.

Sret.. sret.. sret..

Aku mengunyahnya lagi, tidak peduli jam berapa ini. Sudah terlalu malam, namun aku lapar.

“Selulosa itu bukan mengembang di badanmu, tapi menyusut, jadi kamu bisa mengonsumsi sebanyak – banyaknya.”

Aku ingat kata para sahabatku, maka selulosa ini tidak akan pernah menghalangi jalanku, targetku, tujuanku.

Sret.. sret.. sret..

Aku memakannya sambil menatap cermin.

Sempurna.. tanpa ada gumpalan apa – apa di badanku.

Lalu aku melihat bicepsku, ada satu jendolan kecil, menggangguku, membuatku memikirkan hal itu. Mengurangi kesempurnaanku.

Dan hatiku menjadi tidak tenang, gelisah, sempurna sempurna sempurna, begitu yang selalu menghantuiku, tuntutan itu selalu ada, mendatangiku lagi.

Sampai saat tadi, di depan cermin.

Lalu aku menuju satu tempat kepercayaanku, my problem solver, saat kegelisahan ini akan jauh – banyak berkurang.

Sempurna sempurna sempurna

Lalu aku menuju toilet, memuntahkan semuanya, memuntahkan selulosa selulosa itu, tisu yang aku konsumsi dari dulu, agar mendapatkan tubuh sempurnaku.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s