Untuk Awan Bemossed

They stay, you just don’t realize it

Asdza menggoyang – goyangkan kakinya yang bergantung di dinding batu yang tadi dia panjat bersama sahabatnya, Awan.

“Kita sudah lama tidak bertemu loh, kemana saja kamu?” Tanya Asdza, tidak berbasa – basi, sebenarnya dalam hati dia merasa kesal, namun dia Asdza memilih untuk mengulurnya di percakapan berikutnya.

“Hmm..” Seperti biasa, tidak banyak bicara, terlalu menjaga sikap.

“Jarak kita dekat padahal,”

“Tapi aku sibuk,” selanya, cepat.

“Semua orang punya kesibukan.” Asdza menyilakan kakinya sekarang, menatap langit, teringat pada sahabat lainnya yang harusnya ikut berada di sini.

“Mereka ada, namun kamu yang menjauh. Mereka ada, namun kamu yang menjaga jarak. Mereka selalu ada, namun kamu yang tidak acuh.” Lanjut Asdza, matanya enggan menatap sahabatnya, yang harus dipaksa terus agar mau menemuinya.

“Iya.” Singkat. Di ujung matanya menangkap sosok sahabatnya, yang tidak berubah, namun menjadi menjaga sikap. Keduanya menjadi begitu kaku, seperti baru saling kenal.

“Dulu, aku punya sahabat. Namanya Awan Bemossed. Sudah lama kita bersahabat, lama sekali. Dulu, dia adalah pelajar yang tekun dan tidak menyerah, saat gagal, dia maju kembali. Aku ingat semangatnya dulu, aku ingat semuanya, cara dia berdoa dan tetap semangat. Dia, dia mendapatkan apa yang inginkan, dan menjalankannya dengan baik. Dia tetap sahabat dengan semangat yang besar,” Asdza membuka cerita, tidak peduli dengan reaksi Awan.

“Tapi, selang waktu, banyak yang berubah dari dia. Menjaga jarak, bahkan menjadi jauh dengan sahabat – sahabatnya. Awan Bemossed, merasa sahabatnya menjauh, salah, menurut aku, dia yang menjaga jarak, entah karena apa. Jadi jangan salahkan kalau kami menjadi dingin, dan bertingkah acuh tak acuh juga. Apa yang dia lakukan ke kami, kami lakukan hal yang sama, biar seimbang.”

Hup!!

Asdza melompat dari dinding tersebut, bersiap – siap berjalan melewati bukit menuju rumahnya, namun matanya berpaling ke awah sahabatnya dulu, “namun Awan Bemossed harus tahu, bahwa sahabatnya selalu ada, dan jangan pernah merasa sendiri. Dia bisa datang kapan saja, tanpa kita ungkit cara dia dahulu menjauhi kami. Kami masih sama. Selamat ulang tahun, Awan.”

Asdza berjalan sendiri meninggalkan Awan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s