Lima Rahasia Musuh

“Darla.. Darla, banguuun.” Tangan kecilnya menepuk – nepuk lengan Darla, lembut, namun dengan tempo yang cepat, menyuruh sepupunya  agar lekas kembali ke alam atas sadar lagi.

Darla meregangkan badannya, meluruskan kaki yang sempat dibuat tidur dengan kaki bersila, pegal sekali. Meregangkan seluruh otot – otot Darla. Lalu Darla meraih ponselnya, “jam sembilan? Aku tidur siang lima jam lebih?”

Sepupunya yang masih berusia delapan tahun menganggukkan kepalanya cepat, rambutnya yang dikuncir dua ikut bergoyang dengan semangat, mengusir jauh rasa lelah Darla dibangunkan oleh makhluk imut seperti Chita ini.

“Darla ngerjain laporan lagi ya?” Chita duduk di sebelah Darla, mata jernihnya tak lepas dari tumpukan buku –  buku yang menemani pekerjaan Darla dari semalam tadi.

“Kok nggak selesai – selesai?” Chita masih penasaran, setelah mendapat anggukkan dari Darla, Chita membolak – balikkan satu buku tebal, seribu delapan ratus halaman, melihat gambar tanpa mengerti isinya.

Darla tertawa kecil. “Emang kamu ngerti bacanya?” Celetuknya tanpa nada merendahkan.

“Ngga, tapi aku mau seperti Darla kalau sudah besar nanti.” Balasnya, dengan nada diberatkan, menandakan kalau Chita serius, walau usahanya gagal karena Chita tetap terlihat menggemaskan dengan mimiknya.

“Oke, gini, kenapa kamu mau kayak aku?” Chita sudah duduk di depannya, tetap memangku buku tebal berwarna hitam milik Darla, berhadapan di sofa yang jadi tempat tidur sementara Darla tadi.

Chita mengangkat kepalanya, matanya melihat ke arah kanan atas, berpikir lama, telunjuknya menempel pada dagunya. Khas anak kecil yang sedang berpikir. Membangun konstruksi keinginannya untuk menjelaskan alasan. Kiri atas, konstruksi visual yang pernah dia lihat.

“Aku.. mau kayak di film – film,” jawab Chita, polos.

Darla tergelak, benar kan, dia mengambil konstruksi visual dari film yang pernah dia tonton.

“Kak Kheela jangan tertawa!!” Chita ngambeg, menyilangkan tangannya, pipinya digembungkan, malah membuat tawa Darla semakin keras. Tapi Darla lekas mengontrol tawanya, kalau sepupunya sudah memanggilnya dengan nama asli – bukan Darla nama kesayangan yang diberikan sepupu – sepupu Darla, berarti Chita tinggal satu langkah lagi untuk menuju ke fase marah besar.

“Chita, pekerjaanku itu.. susah. Berisiko tinggi, kamu harus mencari info – info tentang seseorang tanpa bertanya ke orang tersebut.”

“Aku tahu, kok. Tapi aku tetep suka.” Yakinnya, sambil bersikeras mengangkat buku tebal itu, “niiih aku udah baca lima halaman Darla, kalau setiap hari aku membaca lima halaman, sampai aku seumur Darla aku sudah lebih jago dari Darla!!” Cerocos Chita, tanpa henti.

“Kok kamu siap dengan pekerjaan seperti itu? Ingat, Mami pernah protes loh sama pekerjaan aku ini.” Darla teringat kejadian itu, saat ibunya Chita marah – marah, protes karena keponakannya punya pekerjaan yang tidak biasa.Sedangkan Bunda dan Ayahanda Darla sudah menerima semua pilihan anaknya yang dirasa sudah cukup dewasa menentukan pilihan.

“Aku nggak mau kayak Mami, kerja nine to five, kantoran, aku nggak nyaman.” Chita menyebut istilah nine to five, membuat Darla yakin bahwa sepupunya suka mengamati, menyerap pembicaraan orang dewasa secara baik dan melihat sedikit jiwa penggebrak-aturan yang dimiliki Darla dari kecil. Kamu akan jadi cerminku nanti.

Toh cita – cita itu akan berubah seiring waktu, mengapa aku harus memikirkannya secara serius.

“Oke, kamu mau sehebat aku?”

“Iya!!”

“Kalau gitu Darla punya permainan asik yang nggak akan selesai sebentar loh,” Darla memancing Chita agar semakin bersemangat.

“Mau!! Aku udah nyusun puzzle 1000 keping dan selesai, semuanya bisa selesai dengan cepat!” Celotehnya riang, merasa yakin bahwa sepupunya akan mempunyai permainan yang sangat seru dibandingkan dengan susun puzzle.

“Gini, Chita Lumina, dengan ini, kamu ditetapkan menjadi asisten dari Ibu Kheela Shyryn.” Darla mengangkat tangannya ke atas kepala Chita, seperti ritual – ritual pemberian ilmu sakti. Darla memejamkan matanya, dibuka matanya sedikit, melihat Chita dengan rapat menutup matanya.

“Sudah.”

Chita membuka matanya, “terus pekerjaan aku apa sekarang?”

“Hmm.. kamu sering kenalan kan sama teman – teman baru kalau di sekolah?”

“Iya.” Angguk Chita, cepat.

“Informasi apa yang kamu tahu tentang teman – teman barunya?”

Chita mengernyitkan keningnya, tanda kurang mengerti.

“Begini, saat aku, Darla teman sekolah kamu yang baru, aku kenalan sama kamu, berarti kamu akan tahu nama ..”

“.. dan Darla dari kelas mana.” Potong Chita, mulai mengerti maksud sepupunya.

“Lalu.. bisakah kamu mencari informasi lain tentang Darla? Misalkan.. pekerjaan ayahnya Darla apa, makanan kesukaan Darla apa.”

“Bisa dong, aku bisa nanya sama Darla.”

“Tanpa bertanya ke Darla.”

Chita menarik napas, terkejut, lalu arah matanya ke kanan bawah, berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati.

“Kan ada facebook, kan ada twitter,” Darla mulai mengungkapkan beberapa petunjuk, yang langsung diiyakan oleh Chita.

Chita menepuk dahinya, “oh iya, aku lupa.”

“Teknologi membantu kita, kan?” Darla mengedipkan matanya ke arah Chita, yang mulai menangkap arah permainan ini.

“Jadi, mulai  besok, kalau kamu kenalan sama teman baru, temui lima informasi tentang dirinya, informasi yang bukan dari mulutnya sendiri.”

“Susah, kan?” Darla menyenggol dengkul Chita dengan dengkulnya, menggoda sepupunya.

“Nggak, kok! Oke, bisa!!” Seakan tidak mau kalah, Chita langsung mengiyakan permainan itu.

“Setiap orang yang baru kamu temui dan berkenalan dengannya..” Darla menekankan kata ‘baru’.

“.. kamu harus tahu informasi yang tersimpan di dirinya, yang tidak dikatakan ke kamu secara langsung.”

Chita menyodorkan kedua jempolnya ke arah wajah Darla, “oke, bos!! Siap laksanakan!!”

“Hei Chita, ingat, ini bukan sembarangan permainan, pencarian lima informasi ini harus kamu lakukan di setiap kamu bertemu dengan orang asing. Artinya, sampai kamu besar nanti.”

“Siap!! Aku mau ke kamar dulu, cari buku kosong Darla yang bisa dipakai buat catatan.” Lalu Chita mencium kedua pipi Darla, “Darla, aku akan menjadi hebat seperti kamu segera.”

Lalu Chita berlari ke ruangan lain dengan tidak sabar sambil bernyanyi – nyanyi, meninggalkan Darla yang masih harus menyelesaikan laporannya.

Darla meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu oleh seseorang yang jauh di negara lain.

KheerLa: Aku menemukan energi terbarukan.

Novar: Siapa? Sepupumu sendiri?

KheerLa: 🙂 Dia pintar, kamu harus tahu itu.

Novar: Apa dia seberbahaya kamu? 🙂

Kheerla: Sepertinya. Dia akan menggantikanku nanti, pasti.

Novar: She’s a sweet girl. Jangan samakan kamu dengan dia.

Kheerla: Kamu nggak ingat? I was a sweet girl like her.

Novar: Yah.. sampai akhirnya kamu diajarkan permainan serupa oleh Nenekmu sendiri.

KheerLa: Indeed. Permainan Lima Rahasia Musuh. Permainan yang berbahaya untuk gadis kecil sepertiku. 😦

Novar: Tapi kamu menikmatinya.

KheerLa: Oh teman kecilku, kamu tahu segalanya. Dan aku yakin Chita akan jauh menikmatinya daripada aku dahulu. 😉

thumb_COLOURBOX1167242

Source; here

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s