Multi-Photon Quantum Kiss

“Ah akhirnya, eksekusi pendekatan multi-photon di dalam kriptografi kuantum,” Lingga berbicara sendiri di balik buku tebalnya, membenarkan kacamata bingkai tebalnya, mengacak – acak rambutnya sesekali.

Indira mendongakkan kepalanya dari layar gadgetnya yang sedari tadi menjadi fokus terbesarnya, karena kekasihnya sedang asik sendiri dengan pencarian referensinya, namun alisnya mengernyit, ingin tahu lebih jauh apa yang kekasihnya ucapkan tadi.

“Aku takut kamu kurang mengerti kalau aku menjelaskannya,” Lingga menjawab dengan hati – hati.

“Jelaskan.” Indira melotot tanda protes, keingintahuan menggelitiknya lagi, seberang ilmu, namun tetap ingin tahu.

“Hmm.. gimana ya jelasinnya..” Lingga menggaruk kepalanya yang diragukan gatal, tanda bingung.

“Intinya dari artikel ini, metode kriptografi yang sekarang kita gunakan berdasarkan pada metode yang memang sesuai dengan pengamanan komputasi, acuannya di satu tempat, setralisasi, sehingga aksesnya pun menjadi mudah dicapai bahkan oleh orang awam dan, hmm.. jadi walau ilmu computing di sini meningkat, komputer – komputer tersebut malah rentan kekerasan atau yah.. hacking.. duh..”

“Sederhanakan bahasamu, Sayang.” Indira masih ingin tahu, namun tidak berhasil mencerna satu kata pun dari penjelasan kekasihnya kecuali kata ‘artikel.’

“Aku juga bingung jelasinnya.” Lingga membalas, pusing sendiri. Indira menahan geli, lalu menggeserkan badannya ke samping kekasihnya. Aroma parfum Indira menguar, sempat membuat Lingga kehilangan konsentrasi belajarnya. Godaan belajar deket pacar nih.

“Gimana nanti kamu seminar penelitianmu? Kalau seandainya aku datang, keluargamu datang, siapa pun datang dari orang – orang lintas ilmu?” Indira bertanya dengan nada lembut, menguji.

“Nah itu, kamu harus ngajarin, kamu penulis. Pasti bisa menyederhanakan bahasa,” Lingga misah – misuh sendiri, membuat Indira tergelak.

“Sini aku kasih tahu, seperti ini nih cara menyederhanakan bahasa.”

Satu kecupan di pipi Lingga berhasil mendarat tanpa lawan oleh si pemilih wajah, terkejut, Lingga malah bersemu merah, lelaki tersebut menjadi salah tingkah.

“Nah, itu tuh contohnya. Minim kata, tapi kita sama – sama ngerti artinya apa.” Indira berdiri, bersiap meninggalkan kekasihnya.

“Lanjut belajar dulu sana, aku tadi cuma mau kasih doping buat kamu. Good luck, dear.” Indira tersenyum sendiri, membayangkan kekasihnya yang masih speechless atas ‘pemberian doping dosis besar’ darinya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s