Rezeki itu Ternyata..

Acara malam itu tidak menarik hati, namun sofa hijau panjang tersebut yang kemudian posesif, membiarkanku untuk tetap lama bersamanya. Badan pun enggan digerakkan, terpikirkan untuk mandi pun sudah ada di atas “tidak mungkin.”

Host yang jumlahnya terlalu banyak, tiga orang, sedangkan narasumbernya saat itu baru satu, dan mudah terprofilkan, ah kebiasaan lama terulang lagi kan, profil orang. Lalu kuperhatikan cara jalannya, senyumnya, bicaranya.

Palsu

She was a pretty women, trained behavior, smile settled on her lips, lotta perfections that make me feel like she was fake. Sorry to say.

Tidak banyak kalimat para bintang tamu tersebut yang menancap di telingaku, padahal topiknya sangat indah: kerajinan batik di Indonesia, itu saja, tidak lebih.

Sampai pada akhirnya presenter berbibir maju tersebut mulai memanggil bintang tamu berikutnya, semakin lelah aku dibuatnya,  ingin berguling ke samping menuju kamar, atau berjalan merangkak menuju tangga agar bisa sampai ke kamar atas. Mataku sudah mengerjap, semakin lelah, waktu untuk berolahraga sepertinya harus diganti dengan istirahat.

Telingaku menangkap satu kata spontan dari si presenter, spontan, karena mengalir, lancar sambil berseloroh, dan mengingatkanku pada hal – hal baik yang mungkin pernah aku lewati tanpa sadar dan bertanya – tanya mengapa hal tersebut tidak juga kembali.

Rezeki itu jangan ditolak ya, kalau ditolak ntar rezeki itu akan ngomong ke rezeki – rezeki yang lain biar ngga datang. Jadinya jangan salahin kalau rezeki kita ngga datang – datang. – Tukul Arwana

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s